Riell pov
Aku berjalan di lorong yang sepi. Tepat di gedung yang besar tapi sangat sunyi. Aku dan youngdo pun berhenti tepat di depan sebuah pintu. Suara gaduh mulai terdengar. Saat youngdo membuka pintu tersebut. Keluarlah mereka. Para lelaki yang langsung mengerumini ku. Dan....
"Kau yang namanya riell, pantes yeoll terus membicarakan mu selalu. Kau sangat cantik." Goda seorang lelaki. Aku yang mendengar nya hanya menahan pipi ku yang merah. " kau memakai bedak apa, kenapa kau sangat cantik, kulit mu juga putih mulus, beritahu aku dong rahasianya" tanya lelaki yang satu lagi. Semuanya terdiam dan menatap pria itu, tak terkecuali aku. Ya, dia dapat dibilang banci, dan asal kalian tau, eyeliner yang di pakai itu benar benar tebal, bahkan cabe aja gak setebal itu pakai eyelinernya. Wajahnya yang super duper cute pun membuat ia benar benar mirip dengan perempuan. "Maaf, apa aku boleh tau kau itu perempuan atau laki." Tanya ku kepadanya. Wajahnya pun lang memerah. Aku gak tau kenapa wajahnya memerah. Seluruh pria oun tertawa saat meliat laki ini. "Hei, aku ini laki laki jantan, bisa bisanya kau bertanya seperti itu. Dasar jelek"
"Kau tu dasar cabe, salah sendiri siapa suruh dandan menor gitu, dah itu, paki baju pink lagi, kanapa gak sekalian pakai wig ama baju hello kitty aja, biar habis perempuan, dasar cabe gila." Ucap ku berapi api. Mereka yang mendengar ucapan ku dalam bahasa indo, langsung menatap ku bingung. "Pffft....."
"Apa liat liat, ada utang ya" ucap ku lagi. Seseotang yang duduk dengan sebuah gitar di pangkuannya itu menatap ku sambil menahan tawanya. "Siapa yang melihat mu, GABRIELLA PUTRI" ucap pria itu. Aku langsung melotot saat mengetahui pria itu tau nama ku. Setidaknya namaku yang asli. "Aku hanya ingin menyampaikan ini, tolong kau hubungi andre. Dia terus menunggu kabar dari mu. Jika aku boleh jujur, aku bingung mengapa andre menyukai kau dibanding eryl yang jauh lebih cantik darimu." Ucapnya asal. Aku sangat ingin membalasanya tapi itu ku urungkan saat aju melihat yeolli dan youngdo masuk. Pada saat yang bersamaan yeolli tersenyum pada ku. Dan dag dig dug pun terjadi. Jika kalian tidak tau dag dig dug itu apa, kalian sungguh keterlaluan polosnya. Gak canda doang. Oh ya kenapa jantungku bedetak kencang ya apa mungkin......
Apa aku.......
Terkena.......
Serangan jantung. Ah mana mungkin.
Riell pov end
*********
Latihan vokal selesai, suasana yang riuh layak kelas free di sekolah pun mulai. Walau pun ini sama sekali bukan sekolah, suara riuh nya tetap sama. Riell yang lebih memilih menyendiri dari keramaian pergi duduk sendirian. Pandangan nya hanya tertuju pada seseorang. Alunan gitar suara merdunya yang baru ia mulai membuat mata riell hanya terapaku pada pria itu. Suara riuh pun berhenti saat alunan nada terdengar.
ijen arayo neomu gipeun sarangeun
oeryeo seulpeun majimageul gajyeoondaneun geol
geudaeyeo bilgeyo daeumbeone sarangeun
uri gatji anhgil budi apeumi eopsi
nana.....
( sekarang aku tahu cinta yang terlalu dalam
hanya membawa akhir yang menyedihkan
cintaku, aku mendoakanmu dengan cinta selanjutnya
yang tidak akan menjadi seperti kita, yang akan berjalan tanpa luka)
Nada yang terus mengalun membuat sebuah lengkungan berhasil menghiasi wajah riell.
Dia terus mendengar dan mengahayati lagu itu. Hingga seseorang datang.
"Kau suka padanya" tanya seorang pria. Riell yang mendengar suara seorang pria langsung terkejut dan tertawa sendiri. " hah, apa suka, gak mungkin aku aja gak terlalu dekat sama dia mana mungkin aku suka sama dia." Ucap riell cepat.
"Udah kelihatan tu kamu suka sama dia" ucap pria itu. Riell pun terdiam. Entah apa yang ia pikir kan. Hampi 1 menit ia tak berkicau. Hingga akhirnya ia berfikir
"Emang, cara tau kalau suka sama orang itu bagaimana?" Tanya riell. Dan pria itu langsung berdiri riell yang melihat itu juga ikut berdiri. " ada apa" tanya riell. " kau itu terlalu polos ya, jika jantung mu berkerja cepat saat melihat seseorang itu tandanya kau suka sama orang itu." Jelas pria itu "contohnya?" "Itu namanya mingu, aku melihat dia dan jantungku berdetak cepat. Tandanya aku suka sama dia" nendengar penjelasan dari pria itu riell langsung bergidik ngeri dan mundur perlahan lahan. "Kau kenapa?" Tanya pria itu yang melihat riell yang semakin lama semakin kebelakan. " kau menyukai pria yang berdandan menor itu. Oke, aku tenang aku tenang. Kau homo! " teriak riell " eh, itu cuma contoh. Bukan asli" "ayah! Mundur jangan mendekat!" Ucap riell yang di lanjuti dengan larian cepat layaknya seekor kuda. Dan pria itu hanga memandang aneh riell yang berlarian keluar pintu begitu juga yang lainnya. "Tu anak polosnya keterlaluan" ucap
Pria itu
*********
Kini riell sudah sampai di lobby gedung itu. Disana ia hanya duduk sendiri sambil memainkan kakinya. "Apa iya aku suka sama yeolli?" Gumam riell sendirian. "Ah gak mungkin" gumamnya lagi.
"Bila kau merasa hangat dengan seseorang, benih benih cinta sudah tumbuh" ucao pria yang berbisik di telinga riell, sontak riell melompat kaget. "Eh yeolli kau mengejutkan ku tau."
"Eh kucingku ternyata terkejut, kau hari ini imut sekali tau" ucap yeolli sambil menyubit pipi riell. Riell yang di perlakukan seperti itu hanya dapat menahan dan meyakin kan dirinya tak menyukai yeolli. "Oh ya, kau suka sama siapa. Tadi ku dengar kau bergumam. Hayooo sama siapa..."
"Tak ada, aku suka sama gedung ini" ucap riell terbata bata. "Ku kira kucing ku ini menyukai youngdo" ucap yeolli lagi sambil mengacak rambut riell
"Mana ada, eh sejak kapan aku ini kucing mu. Seenaknya saja kau memanggil ku" bantah riell
"Ya iyalah"
"Nyaut lagi, mau mati ya?" Ucap riell
"Tidak, ampun nenek sihir, ampun..." jawab yeolli sambil mencoba kabur dri riell
"Tunggu kau! Akan kubunuh kau!" Teriak riell. Mereka pun berlarian di lobby yang lumayan sepi ini. Banyak senyum yang menghiasi wajah mereka. Berbeda pula dengan seseorang yang mengintip kegiatan mereka.
"Andre, ku harap kau dapat melupakan riell" ucap pria yang bermata hazel ini.
**********
KAMU SEDANG MEMBACA
Love In Popularity
Teen FictionAku ingin kisah hidup ku seperti secangkir teh hangat. Manis dan hangat. Tidak seperti kopi, walau pun hangat tapi pahit. Aku tak ingin itu. -riell- Dari pada aku melihatnya menangis, lebih baik ia melihat ku sakit saja -andre- ************* Annyeon...
