Hari ini, sudah dua hari sejak kepindahanku dari desa. Kulewati koridor kelas dua belas bersama kakak kelas, aku masih belum tau arah. Sudah dua hari ini, aku dekat dengan seorang kakak kelas XII MIPA 5. Bang Theo namanya. Ia ditugaskan untuk mendampingiku. Ia sangat ceria menurutku.
"Aku suka gaya rambutmu, terlihat anggun," ucapnya dengan memandang rambutku yang kukepang satu disertai senyum manisnya. Aku kehabisan kata-kata. Hanya dapat membalas senyumannya.
Sekarang aku menaiki tangga, melewati ruang guru, aku termenung. Bang Theo masih sibuk berceloteh. Menceritakan asal mula berdirinya sekolah, ekskul, guru, dan seluruh ruang kelas pun ia ceritakan. Katanya, terdapat taman belakang sekolah yang sepi dan angker, maka dari itu, jarang sekali ada murid yang kesana. Bang Theo sangat berbakat dalam bercerita. Aku menyukai sikap cerianya.
Aku teringat akan kesalahanku bulan lalu, aku membunuh temanku sendiri. Untung saja, orang tuaku termasuk orang berpengaruh dan memiliki banyak koneksi, sehingga, sampai sekarang, kasus itu belum terungkap. Atau mungkin, tidak akan pernah terungkap. Lihat saja, bagaimana uang bekerja.
Motifku? Sepele memang. Karena cinta. Ya, dia termasuk sainganku dalam mendapatkan hati pangeranku. Dito. Hingga sekarangpun, aku masih belum bisa mendapatkan hatinya. Ternyata, Dito mencintai teman yang aku bunuh. Dito terpuruk akan kematiannya. Dan kini, aku berusaha melupakan Dito. Sungguh, pengorbananku sangat sia-sia.
"Sudah sampai! Belajar yang rajin ya, Cintya!" Bang Theo mengacak rambut depanku di depan ruang kelasku.
"Ih! Rambutku rusak, tau!" aku mengerucutkan bibirku sebal. Aku harus bersikap wajar, bukan? Segera kumasuki ruang kelas dan bersiap memulai pelajaran.
***
Bel pulang telah berbunyi, semua murid sekolah telah pulang. Di kelas ini hanya tersisa aku, dan seorang siswi berjaket merah muda. Gadis itu terlihat sangat modis. Postur tubuhnya lebih tinggi dariku.
Aku segera bersiap pulang. Hari ini, Bang Theo memiliki jadwal latihan basket. Jadi, aku pulang sendiri.
Setelah selesai, aku keluar kelas, menyusuri lorong-lorong, menuruni tangga. Terlihat taman belakang sekolah. Seketika, aku teringat cerita Bang Theo tadi pagi. Bulu romaku merinding.
Tanpa sadar, seseorang menarik tanganku dan membekap mulutku. Aku tidak mampu melawan. Oh! Aku dibawa ke taman itu. Aku meronta, tetapi sia-sia saja. Secara postur, aku kalah dengan orang itu.
Tubuhku dihempaskannya ke batu besar yang ada di taman ini. Aku berhasil melihatnya! Orang ini mengenakan jaket berwarna merah muda! Tunggu, apakah orang ini, siswi yang tadi?
"Kuperingatkan! Jangan pernah kau mendekati Bang Theo! Atau kau, akan kubunuh!" Ia mengancam.
Semilir angin menerpa rambutku. Napasku naik turun. Siswi itu memegang pisau di tangan kanannya. Semakin lama, Ia semakin mendekat.
Kejadian ini persis seperti yang aku alami satu bulan yang lalu. Aku takut jika ia akan kalap sepertiku.
"Tunggu! Ini hanya salah paham!" aku berteriak. Aku berharap ada seseorang disini.
Waktu selalu tahu cara membalas sesuatu.
***
YOU ARE READING
Flash Fiction Event
AcakKali ini kami membawakan tantangan baru untuk anak-anak AB, yaitu Flash Fiction, yang bertemakan dark romance....
