****
Aku rebahkan tubuhku di ranjang. Perih. Buliran air mata membasahi pipiku. Nafasku memburu, jantungku berdebar makin kencang saat kutatap bingkai poto di atas meja belajarku.
"Adilkah ini Tuhan?" Pisau sudah berada di genggamanku. Ku lemparkan pisau itu ke arah bingkai, ku cacah hingga hancur berkeping sama seperti hatiku yang termutilasi karenanya.
Pria itu! Pria yang dulu kudamba kini sudah memiliki pujaan lainnya. (Double Shit!) Cinta. Mengapa cinta sesakit ini? Janji setia yang dibuatnya dulu kini bagai angin lalu. Wusss... Hilang begitu saja dalam kesunyian.
"Jika waktu itu aku turuti kata orang tuaku untuk tak memacarinya... Ah, sudahlah buat apa menyesali hal yang sudah diperbuat." Kurasakan seluruh ruangan berputar. Pening. Mengingat semuanya membuatku muak.
Aku terlambat menyadari cinta semu yang telah ia beri disaat kedua orangtuaku telah pergi. Pergi untuk selamanya. "Mama... Papa, maafkan Ribka." Hanya itu kata yang terucap dari bibirku.
"Cleon! Kau berhasil menghancurkan hidupku!" pekikku sambil terisak. Undangan pernikahan telah kuterima. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Sendiri dalam kesedihan dan kehampaan.
Kurasakan kepalaku makin pening dan perutku bergejolak, segera aku periksa ke dokter dan ternyata... Aku hamil dua minggu! Hamil anak Cleon....
Aku tak akan memberitahu Cleon. Kuusap perutku dan berharap kehadiran anak ini akan memberiku secercah harapan. "Kau berbahagia dengan istrimu dan aku akan bahagia dengan anakku." Tanpa sadar terulas senyuman di wajahku. Senyum pengganti luka dan kepedihan. Kini aku tak sendiri lagi, ada anakku yang akan menemani.
***
YOU ARE READING
Flash Fiction Event
RandomKali ini kami membawakan tantangan baru untuk anak-anak AB, yaitu Flash Fiction, yang bertemakan dark romance....
