Bunga terakhir Rayhan

44 9 8
                                        

****

Aku berlari, tapi terasa tak berlari, bukan, jiwa ku yang berlari dari dalam tubuhku. Mengapa... mengapa... cahaya putih itu berbayang dari kejauhan? Aku mati!

---

Hari ini, adalah hari dimana Rayhan mengucapkan sumpahnya menjadi ketua osis baru disekolah kami. Aku benci dia, SANGAT.

"Bella tunggu!" Aku tak menghiraukan Rayhan dan terus berjalan menuju kelasku, ya, prioritasku adalah 'AKU MEMBENCI RAYHAN'.

GREP!

DEG!

Serasa waktu berhenti diujung tanduk, dia memelukku. Seperti tak ingin melepas jeratannya pada jiwaku, terdengar isakan menyayat hati. Tapi mengapa harus aku? seandainya kau tahu Rayhan, aku membencimu!

"Aku tahu... k-kau... membenciku... Bella."

Perasaan apa ini? Perasaan kehidupan dihati matiku, mengapa harus aku yang merasakan sakitnya dicintai? Mengapa Tuhan?

Tunggu, ada rasa yang hilang lagi. Rayhan... Rayhan... Rayhan... melepas pelukan nya, sakit, sakit, sakit! Betapa jahatnya dunia ini, Tuhan.

"M-maaf... aku mencintaimu,"

Mati? Ya. Aku mati detik ini juga.

-----

Seperti biasa, di celah - celah jendelaku terselip setangkai mawar putih. Aku merasa bahagia, merasa istimewa saat kutahu lelaki lain pun menyukaiku, tidak hanya Rayhan. Walau aku belum tahu siapa pengirim bunga rahasia putih ini. Kalau aku tahu, aku akan sangat berterima kasih padanya. Sungguh!

Waktu berlari amat kencang, kini, sisa - sisa hidupku tergantung padanya. Pada Rayhan. Jika Rayhan pergi, hidupku akan selamat dan sebaliknya, jika ia tak pergi aku akan MATI.

"Aku mencintaimu... Bella." Apa ini? Perasaan apa ini? Suara siapa itu? Tidak! Tak mungkin Rayhan berada dikamarku, tak mungkin!

"Aku mencintaimu... Bella." Tidak! Tuhan ambil saja nyawaku detik ini juga!

Buk!

Inilah karmaku, aku MATI.

-----

Tiga hari berlalu, tapi, peristiwa itu seperti membuntutiku setiap saat. Aku takut. Sangat takut. Siapapun bunuhlah aku!

"Bella," aku diam "maaf."

Hening. Suasana dikoridor ini bagai di neraka Jahanam.

"Aku akan tenang bila kau menerima bunga terakhir pemberianku, Bella."

Tangisku pecah? Aku menangis? Tak mungkin! Ini semu! Ini hanya fatamorgana saja!

"Terimalah... kumohon!"

Apakah aku akan mati lagi Tuhan?

Jangan!

Jangan!

Jangan!

Untuk sejarah kali ini saja Tuhan, izinkan aku merasakan manisnya cinta, KUMOHON!

CUP!

Ya. Terima kasih Tuhan! Kau mengizinkan manusia lemah sepertiku merasakan ciuman pertama dan terakhir di sejarah kelam hidupku ini.

"Aku membencimu... Rayhan!"

-----

Kini aku tahu, mawar putih adalah bayang - bayang Rayhan. Kejadian itu adalah kejadian 6 tahun lalu. Dan, dimana Rayhan berusia 6 tahun. Usianya dialam baka.

****

Flash Fiction EventWhere stories live. Discover now