"Jangan lakukan itu Hood!"
Keringat dingin di tubuhmu sudah mengalir deras. Terlihat kedua kakimu semakin bergetar hebat.
Bimbang. Ragu.
Kedua kata tersebut berputar di benakmu. Berkali-kali kau menatap bergantian kedua sosok di kanan dan kirimu.
"Jangan lakukan itu Hood!"
Sosok di kananmu mengucapkan itu sekali lagi. Kau melihat matanya sudah sembap seperti lebam.
Kau ingat janjinya. Janji yang pernah diucapkan oleh sosok kananmu, Aninda. Ia tidak akan menyakitimu lagi. Tapi, ia masih bisa menorehkan luka diatas lukamu.
Kau mulai menyadari. Kepercayaanmu telah hancur.
"Diamlah! Biarkan dia memilih!"
Gadis itu, sosok di kirimu yang biasa kau panggil dengan Nona Lovelis, yang menemanimu saat gelap menyerbu, saat kau sendiri dengan pikiran yang menggebu.
Kini kau sadar, ia lebih mengerti dirimu dari pada Aninda, kekasihmu.
Kau pejamkan matamu erat-erat.
DORR!!
Suara itu menggema. Suara pekikan sedikit lewat di daun telingamu. Lubang itu berasap. Kepalamu pecah. Otakmu berlubang. Jantungmu tak lagi berdetak.
"Ikuti aku, Hood, Demon akan senang bertemu denganmu."
Jiwamu mulai melayang bersama gadis itu, Nona Lovelis, arwah yang tengah bergentayangan sejak sepuluh tahun lalu.
Sedikit rasa sesal menyelubungi hatimu. Ia tak menepati janji untuk menjalin cinta berbunga mawar hitam, namun ia menyerahkanmu pada seorang Demon, demi kebebasan arwah jahat.
"Aninda, tolong aku."
***
Sila dinilai yaa...
YOU ARE READING
Flash Fiction Event
AléatoireKali ini kami membawakan tantangan baru untuk anak-anak AB, yaitu Flash Fiction, yang bertemakan dark romance....
