Love's Perception
"Rick! Hentikan!"
Lelaki itu semakin mendekatinya, kemudian mencengkeram bahunya dengan keras. Reine berusaha melepaskan diri, namun usahanya sia-sia. Ia memejamkan matanya, berusaha menahan rasa takut yang mulai menjalari setiap jengkal tubuhnya.
Beberapa jam yang lalu, Rei bertemu dengan seorang pria ketika ia sedang minum di pub favoritnya. Reine ingat betul bagaimana ia berusaha menghalau rasa jenuhnya hanya karena seorang teman kencan yang tidak jelas asal-usulnya.
"Kau menarik."
"Kau lebih menarik lagi, Reine."
Lalu mereka memutuskan untuk menghabiskan semalam suntuk berdua. Rei bahagia dan Danny bahagia. Jika saja kisah cinta Rei dapat sesederhana itu...
"Jadilah pacarku."
"Aku ingin, Dan. Tapi... Aku tidak... Aku tidak bisa..."
"Kenapa?"
"Tidak... Aku seharusnya tidak boleh berada dekat denganmu."
Reine mundur secara perlahan dari pandangan Danny. Lelaki itu tampak ling-lung dengan pernyatan Rei beberapa detik yang lalu.
"Apa maksudmu?!!!"
Rei merasa tersudut. Danny terus memojokkan Reine untuk menuntut penjelasan. Tapi Rei tidak kunjung berbicara.
"Jawab pertanyaanku!!!" Rei masih bungkam.
"Jadi, kau hanya bermain-main dengan perasaanku?!!! Dasar perempuan murahan!!!"
"TOLONG JAGA PERKATAANMU DAN SEBAIKNYA KAU PERGI DARI SINI!!!"
Wanita yang telah lama menahan beban hidupnya seorang diri itu pun kehilangan akalnya. Spontan, Danny merengkuh tubuhnya dengan lembut. Menawarkan sebuah kehangatan yang tidak dapat Rei temukan selama ini.
"Tidak... Tidak... Tidak...! Tidak!!!"
Rei menolaknya dengan kasar. Sekarang, Danny benar-benar terluka.
"Tidak bisakah kita bersama...?"
Wanita itu menggeleng dengan tegas. Perasaannya sudah lama mati. Ia tidak ingin pria yang ada di meja bar bersamanya itu menemui ajalnya. Tidak, selama Reine masih hidup.
"Tidak, pergilah. Garis takdirku sudah ditetapkan."
"Hah?! Kau percaya hal-hal semacam itu?!!!"
Danny meletakkan botol birnya dengan kasar. Mabuk dan amarah mulai menguasainya.
"Percayalah padaku untuk sekali ini saja. Biar aku dapat menyelamatkan nyawamu. Pergilah sekarang juga!"
"TIDAK!"
Pupil mata Rei membesar mendengar penolakan yang di luar dugaannya itu. Danny masih bersikukuh berada di tempatnya dan menulis takdir baru untuk seorang Reine.
Diam-diam, Rei menangis.
"Sungguh tidak adil. Kenapa tidak sejak dulu kita dipertemukan agar aku tidak harus mengalir mengikuti takdir?"
Danny tersenyum, lalu menjawab pertanyaan Rei. "Karena itulah, sekarang aku di sini. Tidak ada yang perlu kau takutkan lagi. Kita masih bisa menulis ulang takdir."
"Coba saja jika semudah itu."
Kejadian itu hanya berlangsung sepersekian detik. Seorang lelaki menerjang ke arah Danny. Mereka berkelahi dengan sengit.
CRAT!
Hingga pada akhirnya, darah menyembur keluar dari leher Danny. Perkelahian yang hanya berlangsung selama dua menit itu berhenti dengan Lelaki penyerang sebagai pemenangnya. Rei menutup mukanya dengan ngeri.
"Oh, tidak... Tidak... Ini salahku..."
"Semestinya kau sudah mengetahui takdirmu."
Lalu, di sinilah ia sekarang. Memohon belas kasihan laki-laki otoriter itu saat ini juga adalah satu-satunya pilihan agar ia tetap hidup.
"Aku bisa jelaskan semuanya, Rick! Tolong dengarkan aku dulu!"
Wanita yang bernama Rei itu menggigit bibirnya hingga berdarah. Melihat hal itu, Maverick mengeraskan rahangnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!!!"
"Bahuku sakit, Rick!"
"LALU APA PEDULIKU?!"
Rick langsung menjatuhkan Reine dan menindihnya. Reine terisak perlahan di tengah gelapnya malam.
"Kau tidak memberiku pilihan lain."
"Rick...?"
"Aku memberimu kesempatan, namun kau malah mengkhianatiku hanya karena seorang manusia rendahan."
"Kumohon jangan, Rick..."
Rick mengisap darah yang menetes dari bibir Rei, lalu menggeletakkan Rei tak berdaya. Gigi taringnya mengilap di bawah sinar rembulan. Seulas senyum bengis terlukis di wajahnya yang tampan. Siapa pula yang tidak akan jatuh cinta dengannya?
---
YOU ARE READING
Flash Fiction Event
De TodoKali ini kami membawakan tantangan baru untuk anak-anak AB, yaitu Flash Fiction, yang bertemakan dark romance....
