Ruang santai dengan sofa berwarna coklat dan sebuah meja kecil di depannya terlihat berantakan dengan ceceran kertas dan beberapa minuman kaleng yang isinya sudah kosong. Naruto dengan wajah kusut duduk di lantai sambil matanya terus memperhatikan berlembar - lembar dokumen yang harus dipelajarinya sebelum ditanda tangani. Sesekali tangannya yang menggenggam pena, membenarkan letak kacamata yang di pakainya. Terlalu banyak menunduk membuat kacamata itu merosot.
Mata biru di balik kaca mata itu bergerak pelan meneliti setiap tulisan dan angka yang tertera di lembaran kertas. Terkadang wajahnya berkerut tidak suka saat mendapati beberapa data yang masih belum sempurna. Naruto yakin otaknya sudah hampir mendidih saat ini.
"Kau terlalu keras bekerja, santailah sedikit'' Naruto mengangkat kepalanya dan tersenyum lelah begitu dilihatnya seorang wanita cantik menghampirinya dengan secangkir teh ditangannya.
"Aku harus menyelesaikan ini secepatnya. Ayah akan semakin marah padaku dan menyalahkan hubunganku dengan Sasuke'' jawabnya, matanya kembali fokus pada dokumen yang sudah menemaninya sepanjang hari ini.
Si wanita menutup mulutnya saat tawa merdu mengalun dari bibirnya.
"Ckk..'' Naruto berdecak, sedikit kesal tapi tidak berkomentar apapun untuk menanggapi tawa mengejek dari wanita itu.
"Minum teh ini. Tidak baik terlalu banyak meminum minuman kaleng''.
"Thanks, Hinata'' jawab Naruto. Tangannya meraih cangkir teh yang di letakan di dekatnya.
"Kau tahu. Aku hampir terkena serangan jantung saat mendengar berita tentangmu dan Sasuke. Kau serius?'' Hinata duduk di sofa, di belakang Naruto yang memilih duduk di lantai.
"Ya..'' jawab Naruto santai tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas yang menjadi fokusnya sejak tadi.
"Kalau kau tidak mengakuinya langsung aku tidak akan mempercayai berita yang beredar itu'' ujar Hinata santai ''sepertinya kau terkena karma''.
"Maksudmu?'' Naruto mengalihkan perhatiannya dari berkas - berkas yang berserak di meja ke arah gadis di belakangnya.
"Ya. Bukannya kau pernah bilang kalau Uchiha dan Namikaze bersama akan terjadi kiamat dan... apa yang aku lihat sekarang'' Hinata menaikkan sebelah alisnya.
Naruto mencibir tidak suka dengan pendapat Hinata, tapi juga tidak mungkin menyangkal. Apa yang diucapkan gadus itu benar. Naruto masih ingat saat mengucapkan kalimat itu dan sepertinya Hinata benar lagi, ini karma.
"Ya..ya.. kau kau tidak perlu mengingatkanku'' Naruto kembali pada berkas - berkas yang harus di selesaikannya.
"Aku ingin mengaku sebenarnya'' Hinata berpindah ke sisi Naruto. Ikut duduk di lantai.
Naruto menatap wajah gadis cantik di sampingnya dengan dahi berkerut. Mengaku? Memangnya sahabatnya itu penah berbuat salah hingga harus mengaku.
"Selama ini, kupikir kau menyukaiku'' Hinata membalas tatapan mata biru milik Naruto. Ekspresi serius terpancar di wajah cantiknya.
Naruto menggigit bibir, sedikit merasa bersalah karena sebenarnya dugaan gadis itu benar adanya. Tapi, haruskah dia jujur, tapi untuk apa dia harus berbohong, tidak ada untungnya juga.
"Aku memang menyukaimu'' jawab Naruto akhirnya. Memutuskan untuk jujur, karena bagaimanapun juga Hinata adalah sahabat baiknya ''dulu'' lanjutnya.
Bola mata Hinata melebar dengan pengakuan Naruto. Dia tidak menyangka pria pirang itu akan berkata jujur padanya. Padahal dia sudah menyiapkan berbagai argumen untuk membalas seandainya Naruto menyangkal. Tidak seru, tapi Hinata cukup menghargainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Are Mine
Hayran KurguBukan cerita Romeo dan Juliet, meski sedikit mirip. Lagipula Sasuke sama sekali tidak mirip Juliet. Dirinya tentu saja lebih fenomenal dibanding tokoh khayalan yang kata banyak orang melambangkan cinta sejati. Sasuke tidak percaya. Tidak akan pernah...
