CHAPTER 9

5.7K 472 32
                                        

Sebagai seorang kepala polisi di kota Kohona, Hashirama tentunya memiliki berbagai keahlian dan kecakapan dalam menangani berbagai macam jenis penjahat. Mulai dari yang katanya kelas teri sampai yang dibilang orang kelas paus. Semua sudah pernah ditemui olehnya sepanjang karirnya menjadi polisi. Dan tidak ada satupun dari penjahat - penjahat itu yang membuatnya merasa tertekan ataupun dibuat pening seperti dua orang yang tengah di tanganinya ini.

Kasusnya sepele, hanya melanggar lalu lintas, tapi bawahannya si kurang ajar Hatake Kakashi mengatakan kalau mendadak dia harus pulang karena ada hal darurat yang terjadi di rumah dan menyerahkan dua tersangka pelanggaran padanya untuk di proses. Sebenarnya bukan hal sulit jika yang ditangani adalah jenis manusia normal. Hashirama tidak mengatakan kalau dua orang penting yang duduk di depannya ini tidak normal, tidak. Dia tidak bilang begitu, hanya saja dua orang paruh baya yang kini duduk di hadapannya sambil saling melempar tatapan sengit itu sungguh membuat kepalanya pusing. Sepanjang karirnya dia baru menemui dua orang tua yang bahkan sifatnya lebih labil di banding remaja salah pergaulan yang sering menjadi korban razia bawahannya.

"Oke. Jadi Anda berdua mengakui telah melanggar lalu lintas?'' Tanyanya. Kedua tangannya menumpu di meja membentuk piramida.

"SIAPA BILANG!" jawab dua orang paruh baya itu bersamaan.
Minato dan Fugaku seketika saling pandang dengan tatapan mematikan begitu selesai bicara, ralat berteriak.

"Dia yang melanggar'' telunjuk Fugaku mengarah pada Minato sedangkan Minato menunjuk ke arah Fugaku masih tetap bersamaan.

"Kalian kompak sekali ya. Kenapa tidak menikah saja'' ucap Hashirama asal.

"Diam kau!'' Bentak Fugaku dan Minato kompak pada Hashirama yang kini mengangkat kedua tangan melihat kemarahan dua pria dihadapannya.

"Sudahlah. Saya tidak peduli kalian berdua sedang ada masalah apa, yang jelas kalian sudah bersalah. Melanggar batas kecepatan. Karena itu kalian berdua diharuskan untuk membayar denda. '' jelas Hashirama. Sang kepala polisi terlihat menulis sesuatu dan menyerahkan pada dua orang di depannya. Surat tilang.

"Hey... bukan kami yang menyetir kenapa kami harus bayar denda?'' Protes keduanya bersamaan, sepertinya Hashirama benar, keduanya memang cocok, yang langsung diakhiri dengan adu pandangan mematikan.

"Ya.. ya.. ya. Saya tahu itu'' jawab Hashirama tetap berusaha tenang '' untuk pengemudinya tentu saja akan mendapat hukuman lebih berat dari sekedar membayar denda'' lanjutnya.

"Oke. Karena masalahnya sudah selesai. Anda berdua bisa pulang'' Hashirama bernapas lega. Akhirnya dia terbebas dari dua pria tua labil yang sudah membuat harinya buruk.

"Sebentar, saya ingin melapor dulu. Kasus penculikan'' ucap Fugaku tegas. Minato memelotinya seakan ada kejadian buruk yang akan terjadi.

Hashirama menegakan duduknya. Sepertinya serius. Jadi dia mulai membuat catatan di laptopnya.

"Siapa yang diculik?'' Tanyanya serius.

"Putraku. Dia diculik oleh Namikaze Naruto'' jawab Fugaku. Matanya langsung tertuju pada Minato.

"Apa - apaan kau. Naruto tidak menculik siapun. Anakmu itu yang sudah menggodanya sampai - sampai Naruto jadi pembangkang'' protes Minato tidak terima.

"Sasuke tidak pernah menggoda siapapun'' geram Fugaku ''anakmu sudah mempengaruhinya'' lanjutnya tidak mau kalah.

"Tunggu... tunggu. Memangnya putra Anda yang mana? Namikaze Naruto itu yang pengusaha kan?'' Tanya Hashirama pada Fugaku.

"Uchiha Sasuke, usianya dua puluh dua tahun'' jawab Fugaku.

Hashirama merasa rahangnya terlepas dan menggelinding di kolong meja. Dua puluh dua, itu sih bukan diculik tapi kabur.

You Are MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang