BLACK BLOOD ANGEL

78 20 14
                                    

BAB EMPAT

Delapan belas tahun kemudian...

"APA?! PEMBUNUHAN BERANTAI INI MASIH SAJA TERUS TERJADI?! DAN INI SUDAH KORBAN KETIGA BELAS KALINYA? HAH?!", bentak seorang pimpinan kepolisian kepada para polisi bawahan nya yang bertugas untuk kasus ini.

Ya, akhir-akhir ini wilayah ibukota di Indonesia memang sangat marak terjadinya pembunuhan berantai. Dan pembunuhan itu diduga kuat dilakukan oleh pelaku yang sama dan pada pukul pembunuhan yang sama, yaitu 23.00 WIB.

Sampai saat ini telah ditemukannya korban ke-13 tewas terbunuh secara tragis didaerah hutan lebat Jakarta Selatan. Tetapi, polisi wilayah sekitar masih belum juga menemukan jejak si pembunuh. Dikarenakan tidak adanya barang bukti sedikitpun yang di tinggalkan pelaku. Dan juga waktu pembunuhannya yang dianggap terlalu larut, membuat polisi sulit untuk melacak si pembunuh itu.

"Dari penyelidikan sementara yang telah kami lakukan, diperkirakan pelakunya adalah seorang wanita,pak". Ujar salah seorang petugas polisi bernama Gerry.

Kepala markas kepolisian,Bapak Bob membalikkan tubuhnya mendengar hal itu.

"Hm.. seorang wanita? Mustahil.. berani sekali dia melakukan perbuatan keji seperti ini. Apa ada informasi lainnya,Polisi Gerry?"

"Maaf,pak. Tapi sayangnya saya belum menemukan perkembangan apapun terkait kasus ini", jawab Gerry sambil tetap menatap tegas pimpinannya.

Plak!

Sebuah tamparan yang tak kalah tegasnya detik itu juga mendarat dipipi kanan Gerry. Ia tercengang, lalu kembali menormalkan ekspresi wajahnya. Sebenarnya ia tahu hal ini akan terjadi. Karena begitulah Bob,pimpinan satu ini mudah sekali terpancing emosinya.

"DASAR TIDAK BECUS! POLISI YANG TIDAK BERGUNA SAMA SEKALI! KASUS SEPERTI INI SAJA KAMU TIDAK BISA TANGANI,BAGAIMANA SAYA BISA MENAIKKAN PANGKATMU?!"

Semua awak polisi yang berada dimarkas terdiam mendengar suara tinggi tersebut.

Sepertinya sebelum kasus ini kelar,mereka harus terbiasa.

"Sudahlah. Tugasmu saya berhentikan untuk kasus ini. Sebagai gantinya panggil Polisi Choi kemari"

"Siap,pak!", Gerry memberi hormat dan sesegera mungkin keluar dari ruangan maut tersebut.

Ia tidak sedih diberhentikan.

Ia tidak sedih dimarahi.

Ia tidak sedih ditampar.

Tapi,ia bahagia.

Menghela nafas lega karena ia sudah tidak akan dimarahi lagi setelah ini. Bahagia karena telah selamat dari kasus misterius yang ia terima selama ini. Bahagia karena mulai sekarang pasti Choi lah yang akan kena serangan maut dari pimpinan. Bahagia karena ternyata musuhnya itulah yang akan kena sasaran kemarahan.

***

Terlihat seorang wanita berumur  23 tahun yang berparas sangat cantik tengah menatap pantulan dirinya dicermin. Dia menghias wajahnya memakai kosmetika eye shadow,lip gloss,blush on dan menyemprotkan parfum ke pakaiannya.

Dia tersenyum menatap penampilan elegan nya itu. Kemudian bangkit berdiri dan berbicara seorang diri didepan cermin.

"Chaise junitte, angel yang cantik jelita. Berbudi baik dan ramah tamah.." , wanita itu mendekatkan wajahnya ke cermin.

"Tapi.. jangan ada seorangpun yang membuatnya marah,atau dia.."

"Akan menbunuh orang itu!", ucap wanita ini dengan menyeringai tajam.

Dia pun membalikkan tubuhnya dan tertawa.

Chaise, ya dialah gadis kecil berumur 5 tahun yang berlari ke dalam labirin misterius waktu itu. Dialah gadis kecil yang terus menangis saat kehilangan ibunya dan keluarganya. Dan ya, dialah gadis kecil yang bersumpah akan membalas perbuatan si pembunuh.

Dan sekarang, dia menepati sumpahnya. Siapa saja yang terlibat dalam kasus pembunuhan sadis keluarganya, atau siapa saja yang membuatnya marah dan mengingatkannya pada peristiwa 18 tahun yang lalu, akan dihabisi nya.

Tanpa ampun.

Tanpa belas kasihan sekalipun.

Flashback on

Gadis kecil itu telah berhenti dari lari nya yang begitu kencang. Dia terduduk lemas ditanah dan bernafas dengan tersenggal-senggal. Dihapusnya keringat dingin yang bercucuran. Dan ia kembali menangisi kematian ibu tercintanya.

Sekarang,hatinya benar-benar terasa kosong dan hampa tanpa orang yang disayanginya lagi.

"Maa..maa.. hiks hiks..maa..hiks..", ia terisak.

Ketika ia tak sengaja mendongakkan kepalanya ke atas,matanya membulat. Mulutnya tertutup dan tangisannya terhenti.

"Po-pondok?"

Gadis itu melihat sebuah pondok kecil yang telah usang dan hampir bobrok, tapi sepertinya masih layak untuk ditempati.

Kemudian Chaise kecil bangkit berdiri dan menuju ke pondok tersebut. Ragu-ragu ia mengetuk pintunya.

"Ha-halo? Apa disini ada orang?" , tanyanya.

Hening.

Tak ada jawaban.

Perlahan ia pun membuka pintu pondok yang mulai rapuh dimakan rayap dan memasuki ruangan didalamnya.

"Uuh.. ini berdebu sekali..", Chaise menutup hidungnya ketika menyentuh sebuah cermin yang sedikit retak.

Dia mengedarkan pandangan ke sekitar dan melihat ada beberapa perabotan tertinggal diruangan ini. Seperti kasur,lemari,meja,kursi,dan cermin yang ia sentuh tadi.

"Apa pondok ini pernah ditinggali oleh seseorang? ", tanya nya pada dirinya sendiri.

"Tidak tidak.. Mama sudah memberitahu Chaise kalau dihutan belakang rumah ini tidak ada seorang pun yang boleh memasukinya.. tapi, kenapa disini ada pondok?", gadis ini menjadi bingung, tapi ia tidak mau ambil pusing untuk memikirkannya.

Chaise pun melangkah menuju kasur yang berserakan jerami-jerami diatasnya. Ia duduk sambil membersihkan jerami itu, kemudian menumpuknya sebagai bantal jikalau mengantuk nanti.
Kemudian gadis kecil ini  berdiri dan melangkah menyusuri pondok.

"Jadi dibelakang pondok ini ada sumur?"

Chaise sedikit takjub mengetahuinya. Ia baru saja membuka pintu belakang dan menemukan sumur yang tertutup beberapa semak belukar.

Dia pun kembali menuju ruangan didalam pondok dan berbaring diatas kasur yang sayangnya sama sekali tidak seempuk kasur dirumahnya.

Sambil menerawang langit-langit diruangan itu,
Chaise berujar, "Mama.. papa.. Chaise sudah selamat. Chaise sudah menemukan tempat tinggal didalam hutan yang sebenarnya kalian larang untuk Chaise masuki.."

"Maafkan Chaise ma.. pa.."

Tiba-tiba saja bayangan tentang peristiwa pembunuhan sadis pada keluarganya tadi kembali terekam dipikiran gadis kecil itu. Dia kembali merasakan kehadiran Mama dan Papanya. Tetapi, sekarang ia tidak menangis lagi.

Melainkan marah.

Sangat marah.

"Ma..pa.. Chaise bersumpah akan membalas perbuatan si pembunuh itu! Chaise bersumpah demi keluarga kita! ", ucapnya tegas dan benar-benar bertekad.

Lalu,tak beberapa lama kemudian kantuk pun merasuki jiwanya, gadis itu terlelap tidur dan memasuki alam bawah sadarnya.

Flasback off

***

Bersambung~
Thanks buat yang udah baca lanjutan cerita ini 😊 kalau kalian suka,jangan lupa ninggalin votmen ya 😇 

BLANK SPACETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang