sembilan

297 21 9
                                    

Alarm kamar berbunyi tepat pukul 8 pagi. Hotaru menggeliat sebentar, lalu mematikannya. Tidak seperti biasanya, Hotaru langsung bangun dan menuju kamar mandi.

Hari ini, Hotaru akan mengantar Haru ke Osaka. Anak itu sangat menanti sekali hari ini. Walaupun ada rasa sedih harus meninggalkan kakaknya sendirian di rumah.

Ponselnya berbunyi tepat setelah Hotaru selesai mandi. Wanita itu masih menggosok handuk di rambut basahnya, lalu melihat layar ponselnya.

Ayah calling ...

"Halo ayah"

"Hotaru, kau akan berangkat jam berapa? Ayah akan menjemput kalian di stasiun ..."

"Jam 9 kereta berangkat yah"

"Baiklah kalau begitu. Tapi, apa benar kau hanya ingin mengantar Haru saja? Kau benar-benar tidak ingin berlibur disini?"

Hotaru terdiam sesaat. Sebelum menjawabnya, pintu kamar terbuka. Karma - dengan kemeja merah berlengan pendek dan celana jeans hitam - berdiri didepan pintu dengan alis yang terangkat, seolah bertanya siapa yang menelpon.

"Hotaru? Kau masih disana?"

"Ahh iya ayah, maaf. Tadi aku ke kamar mandi sebentar, ternyata kran airnya lupa ku matikan"

Dari sini Hotaru bisa mendengar suara tertawa ayahnya.

"Kau ini masih saja ceroboh ya. Sebenarnya ada sesuatu yang ayah ingin katakan padamu. Tapi ayah akan mengatakannya ketika kita bertemu nanti. Hati-hati di jalan, ayah menunggumu"

TUT

Hotaru menatap Karma setelah telpon itu selesai. "Apa?" Tanya nya

"Ayah mu?" Tanya dia balik

Hotaru mendengus kesal "seharusnya pertanyaan dijawab dengan jawaban. Bukan dijawab dengan pertanyaan juga" ujar hotaru sambil mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut.

Karma terkikik "haa~ masih pagi kenapa kau ketus sekali. Kau sedang datang bulan ya?"

Wajah Hotaru seketika memerah, dia meletakkan hair dryer dengan kasar ke meja "Hei!! Apa yang kau katakan?! Keluar sana, aku mau ganti baju"

"Hai~ hai~ sikapmu barusan menjelaskan sekali jika kau sedang datang bulan, Hotaru" goda Karma lagi. Sebelum Hotaru melempaskan hair dryer-nya, dia buru-buru pergi.

Hotaru mengusap wajahnya, memang benar kata Karma. Dia sedang datang bulan, dan ini adalah hari pertamanya. Emosinya benar-benar sedang labil untuk enam hari ke depan.

Dia tak menyangka, Karma akan mengatakan hal sensitif begitu gamblangnya. Bahkan didepan Hotaru sendiri.

Kaus putih lengan pendek dengan celana kodokan sepaha. Rambutnya yang sudah kering, ia biarkan tergerai. Musim panas di Osaka akan segera menyambutnya sebentar lagi.

Tak ingin membuat Haru dan Karma menunggu, Hotaru segera keluar kamar. Aroma masakan tercium enak, perutnya langsung saja bergejolak ingin di isi. Dia tahu, Karma lah yang membuat aroma enak itu. Masakannya memang tidak diragukan lagi. Bahkan Haru sangat menyukainya.

"Aa, nee-chan! Ayo kesini, Karma-nii membuatkan ku kare loh" Haru berkata dengan girang. Dia sudah berpakaian rapih. Bahkan barang yang akan dia bawa sudah disiapkan di depan tv.

"Karma-kun, bukankah sudah ku katakan. Tidak usah repot-repot untuk memasakkan kami. Aku sudah cukup bisa memasak"

Pria itu menghiraukannya, dia malah meletakkan satu piring berisi sosis goreng. "Haru-kun, bagaimana kare buatan ku?" Tanya Karma

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 22, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Assassination Classroom : Story[HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang