Author pov
Jika di beri kesempatan, Hotaru ingin kembali ke 4 tahun yang lalu. Dimana semua masih lengkap. Dimana semua kebahagiaan ada pada dirinya.
Tapi, jika kesempatan itu tidak ada. Hotaru berharap, hari itu tidak pernah ada. Hari dimana keluarganya terpecah. Seperti piring yang jatuh pecah, tidak bisa dikembalikan lagi dan digunakan. Dan berakhir di tempat sampah.
Dia pikir, dia di buang. Setelah keluarganya bercerai, hak asuh jatuh ke tangan sang ibu. Ayahnya memutuskan untuk pergi dari rumah dan kembali ke Osaka - tempat asalnya.
Sibuk dikarenakan pekerjaan. Ayahnya jarang berkunjung kerumah, walaupun hanya untuk bertemu. Sudah lama Hotaru sadari. Kedua orang tuanya memang gila kerja. Karena itulah, mereka berdua berpisah.
Satu tahun setelah itu, ibu pergi ke luar negeri - tepatnya Paris - untuk bekerja. Ibu Hotaru adalah seorang designer tas yang terkenal. Banyak rancangan tas ia buat dijual di beberapa negara.
Sedih? Sudah pasti.
Menangis? Air matanya bahkan kini sudah kering
Kabur? Jangan sampai
Pernah terpikir oleh Hotaru untuk kabur dari semua ini. Pergi dan mencari tempat dimana tak ada yang mengenal dirinya. Dan membuat kehidupan baru.
Tapi, dia memiliki Haru. Satu-satunya alasan dia masih bertahan adalah Haru. Laki-laki kecil itu, walaupun selalu menunjukkan wajah bahagia di hadapan hotaru, dia memiliki kesedihan di hatinya. Dia masih membutuhkan kasih sayang orang tua.
Karena itulah, Hotaru ingin menjadi sosok ayah, ibu dan kakak, dalam satu tubuh.
Mungkin yang dilakukan Hotaru saat ini adalah kabur. Pergi ke sebuah pantai di pinggir kota, hanya untuk menenangkan pikiran. Hotaru sering melakukannya.
Duduk di atas pasir beralaskan daun kelapa. Menatap kosong ombak yang bergulung di pinggir pantai. Sendirian. Tak ada seorang pun disana. Hanya beberapa orang yang lewat di jalan raya.
Hotaru tetap diam, walaupun langit berganti oranye. Seperti ada sesuatu yang menahannya disana.
Lama terdiam, Hotaru tidak sadar jika ada seseorang yang bediri di belakangnya. Seorang laki-laki berambut strawberry dengan manik mata ungu, diam menatap punggung hotaru. Tangannya bersedekap, seakan menunggu gerakan Hotaru.
"Mau sampai kapan kau disitu?"
Suara laki-laki itu membuat Hotaru menolehkan kepalanya ke belakang. "Kenapa kau disini, Asano?"
Asano Ghakushuu - anak dari kepala sekolah - tersenyum miring. "Tempat ini bukan milikmu, jadi aku bebas berada disini. Jadi, apa yang kau lakukan disitu?"
Hotaru mendesah sebal, lalu beralih menatap pantai lagi. "Bukan urusan mu"
Mereka kembali terdiam. Tak ada yang membuka pembicaraan, karena pada dasarnya mereka tidak akrab. Hingga Asano memutuskan untuk duduk disampingnya.
"Sebentar lagi malam, kau akan menginap disini?" Tanya Asano
Hotaru melihat jam yang melingkar di tangannya. Lalu beranjak pergi. Asano mengikuti di belakangnya.
"Tidak baik seorang wanita pulang sendiri. Aku akan mengantarmu"
Sebuah sedan hitam terparkir di pinggir jalan. Seorang pria dewasa menggunakan setelan jas hitam berdiri di samping mobil. Hotaru pikir, pria itu adalah bodyguard ataupun supir. Mengingat keluarga Asano adalah orang kaya.
"Aku tidak butuh rasa khawatirmu, lagipula kenapa kau tiba-tiba peduli padaku"
Tak menjawab. Karena Asano tahu, kalimat itu bukan pertanyaan. Dia terus menatap Hotaru, hingga wanita itu menghilang bersama taksi yang dia naiki.

KAMU SEDANG MEMBACA
Assassination Classroom : Story[HIATUS]
FanfictionAssassination Classroom Fanfiction