"Jangan berduka, Yuanita. Betapapun juga, aku tetap sahabatmu, sahabat yang baik yang siap mengorbankan nyawa demi untuk membelamu."
Mendengar ucapan ini, ucapan yang sebenarnya biasa saja bagi seorang yang berwatak pendekar, membual hati Yuanita terharu sekali dan dia terisak menangis di atas dada Kun Liong yang memeluk dan menghiburnya, mengelus rambutnya. Sampai lama mereka berdiam diri, karena bagi mereka, kata-kata sudah tidak ada artinya lagi, detak jantung dan perasaan mereka melebihi seribu kata-kata indah.
Tak tama kemudian, Kun Liong berkata, "Yuanita, kembalilah kau ke kamarmu. Biarpun aku suka sekali berada di sini bersamamu, akan tetapi kau tahu bahwa pertemuan seperti ini amatlah berbahaa bagi kita berdua dan tidak baik bagi namamu. Engkau adalah seorang dara terhormat, tidak seperti Nina. Maka kalau ada yang melihatnya, tentu namamu akan tercemar. Pergilah tidur, sahabatku yang baik."
Yuanita menghela napas, melepaskan diri dari atas pangkuan Kun Liong, bangkit berdiri dan membereskan rambutnya yang kusut. Sejenak dia memandang wajah pemuda itu lalu berkata, "Selama hidupku, pertemuan kita malam ini takkan pernah kulupakan, Kun Liong. Apa pun yang terjadi dengan diriku, di lubuk hati setalu tersimpan cinta kasih murni untukmu."
"Ahhh, engkau memang seorang dara yang baik sekali." Kun Liong merangkul dan mencium dahi dara itu. Ciuman yang mesra dan lembut seperti ciuman seorang kakak kepada adiknya, akan tetapi sikap dan ciuman ini seperti merobek hati Yuanita. Dara itu terisak, merenggutkan dirinya lalu membalik dan melarikan diri kembali ke kamarnya.
Kun Liong berdiri tertegun, menyesal bahwa dia terpaksa harus menyakiti hati seorang dara sebaik Yuanita dengan menolak cintanya.
Belum juga Kun Liong pulas, tiba-tiba dia mendengar suara orang-orang di atas dek, terdengar suara pukulan dan orang merintih. Seperti dia sendiri yang merasakan pukulan itu, Kun Liong meloncat turun dan lari keluar dari kamarnya.
Di atas dek itu dia melihat seorang pribumi merintih-rintih dan merangkak di depan kaki seorang laki-laki asing yang bertubuh tinggi besar. Laki-laki itu dengan suara kaku membentak, "Hayo kau mau mengaku tidak bahwa kau telah membunuh nona itu!"
Orang pribumi yang kurus itu berlutut dan berkata dengan logat orang daerah Pantai Pohai, "Ampunkan saya, Tuan... ampun.... saya sungguh mati tidak melakukan pembunuhan itu."
"Bukkkk...!" Sebuah pukulan disusul tendangan membuat tubuh kurus itu terguling-guling. Penyiksa itu kembali membentak, "Hayo, mengaku atau tidak? Tuan muda Hendrik sendiri melihatmu melakukan pembunuhan dan kau masih hendak mungkir? Hayo mengaku!"
Dengan tubuh matang biru dan mulutnya mengeluarkan darah karena giginya rontok, orang itu berkata lemah, "Tidak... tidak... saya tidak membunuhnya..."
Raksasa itu melotot dan melangkah maju. "Kalau begitu kau ingin mati!" Diayunnya lengan yang sebesar paha orang itu dengan tangan dikepalnya. Tentu akan pecah atau setidaknya gegar otak kepala itu kalau terkena hantaman dahsyat itu.
"Dukkkk!" Raksasa itu berteriak kesaktian dan terhuyung ke belakang memegangi lengan kanannya yang tertangkis oleh Kun Liong.
"Adouuww... kau... kau mau membela bangsamu?" Raksasa itu membentak ketika mengenal pemuda gundul yang telah membuat hatinya iri dan benci karena pemuda asing gundul ini diaku sahabat oleh Tuan Muda Yuan bahkan Nona Yuanita kelihatannya begitu akrab dengan pemuda ini!
"Menyaksikan orang disiksa tanpa jelas kesalahannya, saya tidak peduli dia itu bangsa apa. Yang sudah jelas, baik penyiksanya maupun yang disiksa adalah manusia. Tuan mengapa kau menyiksa orang ini?" Kun Liong melirik dan kini dia mengenal orang kurus itu sebagai seorang di antara enam tujuh orang pribumi yang bekerja di kapal itu sebagai pelayan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Petualang Asmara
Historical FictionLanjutan Pedang Kayu Harum. Tokoh Utama: Yap Kun Liong, keponakan murid dari Cia Keng Hong, tetapi mewarisi ilmu Thi-Khi-i-Beng darinya. Sangat beruntung karena menjadi murid dari tokoh sakti mantan ketua Hoa-san-pai, Bun Hwat Tosu (mendapat ilmu ya...
