Apakah menulis esai memang sulit?
SELAMA sepuluh tahun lebih, Aries menjuluki kardus itu sebagai kotak Pandora.
Di mata orang lain, isi kardus tersebut tak ubahnya kotak penyimpanan biasa. Apa yang berbahaya dari buku musik, partitur, piringan hitam, dan koleksi resep makanan Italia? Namun bagi Aries, barang-barang tadi bak pemantik yang siap mengobarkan kenangan lama.
"Semua ini punya mendiang ibumu?" Winona menengok dari belakang. "Is it okay for you? Menggali masa lalu untuk tulisan mungkin berat buat kamu."
"I have to give it a try." Hati-hati, Aries mengeluarkan piringan hitam. "Tenang saja, aku bisa urus sendiri. Omong-omong, bukannya kamu ada janji ketemu sama Ghina? Nanti dia marah kalau kamu telat."
Sang kekasih sejenak bimbang, tetapi memilih tak memaksa. "Laptop kutinggal di sini, ya. Telepon aku kalau perlu sesuatu."
Setelah mengantar Winona keluar, Aries mengamati kardus kenangannya dalam diam. Jika bukan karena esai itu....
Esai pertamanya yang akan dimuat di majalah kuliner ternama. Winona telah memberi berbagai tip agar Aries dalam membangun tulisan yang nyaman dibaca. Kini, dia harus berjuang sendiri meski artinya harus membuka luka lama yang amat menyakitkan.
*
"Ya Tuhan, serius kamu diminta nulis di majalah ini? Food & Soul? Pemrednya baru dapat penghargaan terbaik di bidang kuliner."
Dua hari lalu, Aries meminta Winona menemuinya untuk mengabarkan tawaran penting tersebut: menulis esai tentang dirinya dan perjalanan membangun No. 46. Tulisannya tak terlalu panjang, 800 kata saja.
Masalahnya, Aries lebih lihai mengolah hidangan, bukan kata-kata seperti Winona.
"Tenggatnya dua minggu lagi, tapi aku kurang yakin dengan kemampuanku," ujar Aries sembari menyelesaikan hidangan. "Kesempatan sebagus ini jarang terjadi dua kali. Food & Soul adalah media menjanjikan untuk mengenalkan No. 46."
"Kamu pernah bertemu staf mereka?"
"Salah satu penulis Food & Soul sempat datang buat kebutuhan review. Aku lumayan kaget karena mereka mengingatku." Aries mengisyaratkan salah satu pramusaji menyajikan pesanan terakhir. "Kali terakhir aku bikin tulisan panjang sekitar sepuluh tahun lalu. Bagaimana bisa aku setor esai yang enak dibaca pada majalah prestisus?"
Winona berhenti mengaduk teh. Bibirnya melengkungkan senyum. "Kamu bisa."
"How?" Mudah bagi sang kekasih mengatakannya. Dia seorang penulis.
"Tulis saja apa pun yang lewat di pikiran kamu. Terus, kirim ke aku." Kemudian, gadis itu mengemasi barang. "Kutunggu sampai besok malam. Nanti kita bahas bersama."
*
Begitu Sabtu malam tiba, Aries mengundang Winona ke apartemen. Pikirannya berkecamuk selepas mengirim draf esai. Dia bahkan tidak membaca ulang saat menuntaskan paragraf terakhir. Kalaupun Winona kecewa, apa yang harus dia sesalkan?
"Kaku banget," gumam Winona yang sedang membaca ulang esainya. "Enggak ada masalah serius di struktur kalimat. Cuma ada pengulangan di beberapa bagian dan kesannya berputar-putar."
Aries tersenyum masam. "What do you expect from me?"
"To be more relaxed." Winona menaruh laptop di meja. "Aku bukan penulis profesional waktu memulai profesi sebagai jurnalis musik. Modalku hanya suka nonton konser dan bahas album bagus. Kemudian, aku belajar dari banyak orang yang berkecimpung di dunia tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nights with Aries
RomanceAries menyodorkan empat pak pembalut kepada kasir. "Buat istrinya, ya, Mas?" "Iya." Aries punya kehidupan normal dari pukul enam pagi sampai enam sore. Di luar jam itu, ada kisah-kisah tak terduga menantinya setiap malam. *** © 2016 Erlin Natawiria
