Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di tempat tidurku sekarang ini. Aku masih mengenakan seragam dan bahkan aku belum melepas jaket. Tapi sudahlah, itu tidak penting. Sekarang ini ada hal penting yang sepertinya aku lupakan. Namun apa ya?
Aku mulai membuka halaman buku pelajaranku. Aku menyalakan musik dan mengerjakan tugas-tugasku. Rasanya semakin hari semakin melelahkan. Tugas semakin banyak, Aaron semakin menjauh, Brandon semakin sibuk, dan Vano semakin berubah. Mungkin kalau hari ini aku tidak sekolah, aku jadi mempunyai banyak waktu luang. Aku jadi bisa membaca koleksi komikku yang sudah lama tertumpuk di lemari, tidur seharian, dan jadi bisa mengobrol dengan ...
Mama!
Aku belum menyiapkan makan malam untuk mama!
Sejak jam berapa aku tidur? Apa mama juga belum makan siang? Ya ampun kenapa aku bisa lupa? Mama pasti kawatir!
Aku berlari ke dapur sambil berusaha memikirkan menu apa yang harus aku buat. Kuraih piring dan gelas sambil membuka buku resep masakan sehat. Maklum saja, aku belum terlalu hafal tata cara pembuatan makanan yang dianjurkan dokter untuk mama.
Tomat, telur, daging sapi, dan bawang. Hmm, hanya ini yang tersisa. Aku belum sempat belanja lagi, jadwalku semakin hari semakin padat, apalagi sebentar lagi aku harus mengikuti ujian akhir. Kira-kira apa yang harus aku buat ya?
Kuambil beberapa telur dan membuatnya menjadi sup. Rasanya lumayan, tapi rasanya aku membutuhkan bumbu. Apa yang harus kupakai, ya? Mama tidak boleh memakan garam dalam jumlah banyak.
Tiba-tiba seseorang berdiri di sampingku sambil mematikan kompor. Dia mengaduk sup itu sambil memasukkan beberapa bahan lain.
"Kamu udah bangun ternyata," ujarnya. Aku mengangguk. Dia mengambil piring dan memindahkannya.
"Ini buat siapa? Kamu kok makin kesini makin rajin masak?"
Aku tersenyum, "mama. Mama kan dilarang dokter makan makanan instan atau junk food, kak."
"Tadi aku udah buatin mama juice, sih. Tapi mama nolak. Katanya mama mau nunggu kamu aja."
Dia merawat mamaku? Dia membuatkan mama juice? Kenapa? Apa dia berbohong?
"Kamu gak percaya? Yaudah. Gapapa sih, nanti kamu tanya aja sama mama."
"Makasih ya, kak."
Dia mengangguk dan membawa makanan itu.
Aku mengikutinya dari belakang.
Dan dia mulai menaiki tangga.
Detak jantungku terasa semakin cepat. Mengapa dia melakukan ini?
"Tolong buka pintunya."
Aku membuka pintu kamar yang gelap itu sambil memandangi wajahnya.
Dia tersenyum dan menyerahkan piring itu kepadaku, "mama maunya sama kamu."
Aku mengangguk dan berjalan semakin dalam.
☀☀☀
Mama menghabiskan makanan yang aku buat dengan lahap.

KAMU SEDANG MEMBACA
Laughing when I'm Breaking Apart ( Manu Rios, You & Cara Delevingne ) #love
FanfictionBanyak orang yang tidak pernah mengerti bagaimana rasanya jadi seorang Gabrielle Angeline. Sekarang, bagaimana caranya aku menjelaskan kehidupan pahitku kalau bukti yang kalian lihat di sekitarku menyatakan bahwa kehidupanku benar-benar menyenangkan?