Kisah Remaja II

21 0 0
                                        

Kim sudah duduk di tempat duduknya,  sedangkan jantungku berdegup kencang.  Apa yang aku pikirkan.  Ayo,  cepat berikan jaketnya! Ini semua tidak semudah membalikkan telapak tangan bagiku.  Ini seperti mengangkat Batu dari kaki gunung ke Puncak gunung.  "Aku harus bisa! "Ucapku pada diri sendiri.  Sebelum Mila datang.  Kakiku mulai melangkah,  tanganku sudah mendekap jaket milik Kim.  Peluhku mulai berjatuhan.  Pipiku terasa panas.  Kakiku semakin dekat dengan bangku Kim.  Selangkah lagi dan,  aku hanya berdiam diri dibelakangnya.  Hingga akhirnya,  "ah,  Ry?  Aku kaget! "Ucap Kim saat menoleh ke belakang akan beranjak keluar kelas.  "Eu,  em,  eng,  i ini aada titipan jaket dari Edo. Kebetulan,  em,  rumah kami tetanggaan. "Ucapku sambil nyengir kuda.  Kakiku refleks melangkah keluar.  Tanpa menunggu balasan Kim. 
Berada di kelas IX itu,  banyak yang disibukkan.  Mulai dari persiapan UN,  praktik dan lain-lain.  Besok adalah praktik Seni Budaya.  Praktinya adalah setiap kelas membuat satu pameran dan bazar.  Hari ini persiapan kelas kami.
Aku membawa beberapa puisi dan lukisan.  Aku juga membantu mendekor kelasku menjadi sebuah pameran seni.  Aku juga bertugas memasak mie untuk dijual di bazar makanan. 
"Hei, Ry,  tolong bentangkan kain itu! "Teriak Kim dari atas meja.  Aku kaget sekaget-kagetnya.  "Ah,  iiya. "Aku gugup.  "Trimakasih"ucapnya dengan senyum membuat pipiku memerah. 
"ryu! "Panggil Mila.  "Antar aku beli kertas krep"lanjutnya.  "Ah kau,  menganggu saja! "Jawabku refleks.  Kim hnya tersenyum dan mengiyakan aku boleh pergi. 
Masa-mass itu adalah paling bodoh.  Karena dua kali kesempatan itu aku sia-siakan.  Kenapa aku harus gugup dan malu.  Ahhh ~~~

KONFLIK Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang