Konflik III

4 0 0
                                        

Wajahku sembab. Mungkin semalam aku menangis. lukas bertanya , "hey , whats wrong with you bae?" "aku putus."jawabku singkat. "Putus?"are you sure?"ucapnya kaget. "Ya."jawabku singkat tak bersemangat. "Cinta itu sulit. Sulit menemukan dan melepaskan. Kita mencarinya di dasar laut, dan ditenggelamkan juga di dasar laut. Cinta itu , kayak balapan. Balapan memenangkan, tapi sudah menang gak ada batas puasnya. Cinta, yang abadi hanya pada Tuhan. Cinta sama manusia, ada batasnya. Batas sampai kematian."Lukas menghela nafas aku masih diam. "Jadi, dilepaskan bukan akhir segalanya. Karena kita masih punya batas untuk menemukan cinta hingga dasar laut lagi, sebelum kematian kita. Cinta itu gak ngajarin kata menyerah.gimana?"ucap Lukas panjang lebar menghiburku. "Yah, kamu benar Kas, aku harusnya sedih sebentar. Kemudian bahagia yang lama. " balasku sambil menoleh wajah Lukas yang daritadi memandangku. Aku tersenyum. "Makasih Lukas. You ma best!"ucapku sambil memeluknya. Lukas senyum
***
Arini menghindariku beberapa minggu ini. Aku sama Lukas beda jurusan. Jadi gak setiap waktu aku sama dia. Paling pulang aja. Aku bergabung sama yang teman sekelasku yang lain, da mengundang banyak pertanyaan. "Heh, lu kenapa sih sama Arin. Biasanya lu nempel ama dia?"tanya Tia. "Ah, cuma ada msalah sedikit. Mungkin butuh waktu arin buat nenangin diri."jawabku. Kemudian kita bergosip ria, walaupun aku terus melihat arini dari jauh.
Usai jam kuliah. Aku coba buat deketin Arini. "Rin, tunggu!"ucapku mencegah dia menghindar lagi . ku genggam lengan tanganya. "Lepas!"katanya."engga!kita perlu ngomong.berdua. please!"ucapku lagi."lepasin ! Kita udah bukan teman.bukan? Teman itu gakkan merencanakan pnderitaan buat temannya!"bentaknya. Tatapan Arini benci tapi berkaca-kaca."maafin , maafin aku Rin. Tapi please. Kita perlu ngomong!"ucapku masih memegang lengannya. "Lepas!"bentak Arin mengibaskan tanganya kuat . aku terperangah ke belakang. Arin berjalan membelakangiku. Tanpa menoleh. Mataku mulai menangis. Aku berjalan. Jalan. Sampai aku menemukan Lukas. Lukas tidak ada. Aku berjalan gontai sendiri menyusuri jalan menuju pulang. Aku berdiri di depan apartemen Arini. Mengetuk pintunya. Arini gak menjawab. Kamarnya masih bisu tak terdengar apapun. Sudah sejam, dua jam, tiga jam empat jam , waktu menunjukkan pukul 9 malam. "Drrrttttttt" . "halo,"suaraku parau. "Hey, dimana?" ucap Lukas ditelepon. "Aku mau pulang."jawabku. "Darimana?"tanyanya. "Dari kampus."kataku. " hey, kamu bohong. Kamu di depan Apartemen Arini kan?"tebaknya. "Engga. Ini di jalan."jawabku masih suara parau. Aku sengaja langsung menutup teleponnya. Aku bergegas dan menonaktifkan hape. Sepanjang jalan aku diam. Sampai aku melihat sosok Kim! "kim?" gumamku. "Kim!oh My, dia sekarang sangat keren! Gunamku lagi sambil melihat dia dari jauh yang sedang berjalan entah kemana. Berbalik arah denganku. Sampai aku tak melihatnya lagi . karena taksiku semakin cepat meninggalkan bayangan Kim.
Oh, Tuhan. Kim, Kim, terus saja dia. Ryu. Sadarlah !

KONFLIK Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang