Dalam 30 menit terakhir, ini sudah ketiga kalinya kakinya melangkah melewati koridor ini. Seperti sesuatu menahannya untuk melangkah lebih jauh, takut kakinya akan hilang arah.
Takut.
Luna lebih takut pada kenyataan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa pergi dari tempat ini. Tempat yang sudah seharusnya ia tinggalkan bersamaan dengan hilangnya bayangan laki-laki itu sebulan lalu. Di tempat ini juga.
"Saya jadi takut kamu kesambet kalo diem kaya gitu, mikirin apa sih?" Tanya Dias, entah sejak kapan dia ada disana.
"Wangi amat sih! Abis mandi berapa kembang semalem?" Kata Luna meledek.
Namun Dias malah tersenyum, "Mulai sekarang saya bakalan rajin-rajin pake parfum biar kalo kamu nyium bau ini, kamu bakalan keinget saya." Katanya.
Dan Luna rasa Dias benar, bahkan setelah sebulan Dias tidak melewati koridor ini, Luna masih dapat mengingat jelas bagaimana wangi itu dulu selalu hadir menemaninya, dulu.
Luna memejamkan matanya, terus memutar kembali memori pertama kalinya tangan laki-laki itu menyentuh puncak kepalanya, membuatnya bisa membeku seketika saat itu. Tapi sekarang malah membuatnya sesak seketika, kenapa Luna selalu membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam memori tentang Dias lagi?
Salahnya.
Salahnya juga yang seharusnya tidak pernah tenggelam dalam pesona laki-laki itu sejak awal.
"Luna?"
Luna hanya tersenyum membalas sapaan laki-laki itu.
"Lun?"
Dan lagi, Luna hanya tersenyum.
"Luna jangan senyum terus." Kata Dias sambil menunduk.
"Kenapa?" Barulah Luna bersuara.
"Saya jadi grogi."
Luna hanya tertawa, "Apasih Dias!!" Teriaknya, "Kenapa ngomongnya jadi sering pake 'saya' sih?"
"Hah? Saking groginya saya sampe gasadar."
"Jangan ngaco kenapa sih."
"Hahahah jangan ngomel terus nanti cepet tua loh!" Kata Dias sambil mengusap puncak kepala Luna, mengacak-acaknya rambutnya.
Yang tentunya berhasil membuat Luna langsung diam.
"Lun? Sakit? Kok pipinya merah?" Tanya Dias sok polos.
"Dias!!!"
Luna tau dengan terus mengingat Dias seperti ini akan lebih sulit membuatnya melupakan laki-laki itu. Jangan terus mengingatnya seperti ini, jangan mengingat sehangat apa dulu tawanya. Jangan mengingat seberapa besar kamu jatuh cinta pada lesung pipi di sisi kiri wajahnya itu.
Entah mana yang lebih Luna takuti, terus menerus dihantui oleh segala tentang laki-laki itu atau melupakan segala hal tentangnya?
Lupa bagaimana laki-laki itu terbiasa tersenyum seperti apa, lupa bagimana suaranya, lupa bagaimana dulu tangan itu terbiasa menyentuh tangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Ephemeral.
Novela Juvenile·phem·er·al /əˈfem(ə)rəl/ adjective 1. lasting for a very short time.