V - Birthday

80 7 0
                                    

Kejadian 7 bulan lalu ini tidak sengaja melintas dan singgah di pikiran Luna saat ini. Sebenarnya dari dulu Luna sudah ingin membuang kenangan ini jauh-jauh, karena pada saat itu Luna menyadari kalau dirinya sudah rela membiarkan laki-laki itu membagi hidupnya dengan Luna. Luna tidak keberatan sama sekali, dia ingin.

Suasana kantin begitu ramai sampai Luna tidak menyadari entah sejak kapan Dias sudah duduk semeja dengannya.

"Loh kapan dateng?" Tanya Luna.

"Hai Luna." Sapa Dias sambil tersenyum.

Luna tidak ingin bertanya kenapa Dias bukannya menjawab pertanyaan namun malah tersenyum sumringah seperti itu, karena baginya, hal itu sudah biasa dilakukan Dias.

"Yas traktir lah!" Kata El yang tiba-tiba datang entah muncul darimana.

"Kado dulu mana kado." Kata Dias.

Kado?

"Party dulu lah." Jawab El.

"Kado dulu nying, gue baru dapet 1 kado." Kata Dias.

"Dari siapa?" Tanya El.

"Dari Tuhan."

"Hah? Apa?" Tanya El bingung.

"Tuh." Jawab Dias sambil menunjuk Luna dengan dagunya, walaupun Luna sedang menunduk sehingga ia tidak sadar kalau dirinya sedang dibicarakan.

"YAELAAAH." Kata El, "Ini orang dah lagi jatuh cinta level menjijikannya jadi naik." Lanjutnya.

"Cari cewe sono El."

"Yang ini aja dah." Kata El sambil melirik Luna.

"Waduh ga nyangka gua pertemanan kita harus berakhir detik ini." Kata Dias.

"Orang gantengan gua juga dah Yas."

"Gua lah."

"Tanya aja orangnya dah."

"Yaudah."

"Lun, gantengan gua apa Dias?" Tanya El, membuat Luna mendongak.

"Hm? Siapa?" Tanya Luna, "Dias." Jawabnya setelah berpikir cukup lama.

Dias langsung tersenyum lebar seakan-akan dia baru sadar memenangkan lotre, dipuji Luna mungkin lebih berharga dari sekedar menang lotre.

"Parah ini lo bilang gitu karena Dias lagi ultah kan?" Kata El.

Dias ultah?

Luna baru tau.

2 bulan mengenal laki-laki itu Luna baru sadar jika dirinya belum terlalu mengenal Dias. Selama ini selalu Dias yang bertanya tentang hal-hal yang disukai Luna atau apapun tentang Luna namun tidak sebaliknya. Baginya mengetahui tentang Dias tidak terlalu penting juga. Namun kenapa sekarang dia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena ia tidak tau kapan Dias berulang tahun?

"Iya, kadonya itu aja ya Di." Kata Luna.

"Gapapa, udah lebih dari cukup." Kata Dias sambil tersenyum.

"Males deh gue jadi nyamuk." Kata El, "Kei lu ga males apa disini lama-lama?" Tanya El pada Kei yang daritadi duduk di sebelah Luna.

"Apa? Gue daritadi baca novel." Katanya sambil menunjuk ebooks di hpnya.

"Bodo amat Kei." Kata El sambil pergi.

"Si El ini dah sewotan amat jadi cowo." Kata Kei lebih kepada dirinya sendiri, lalu kemudian sibuk tenggelam lagi dalam novel elektroniknya itu.

"Dias." Panggil Luna.

Dias menengok, mengangkat kedua alisnya seperti bertanya 'apa' kepada Luna.

"Mau kado apa?" Tanya Luna.

"Tadi kan udah." Jawab Dias sambil tersenyum.

"Yang beneran, yang bisa disimpen." Kata Luna.

"Luna aja gaboleh?" Tanya Dias.

"Ya gaboleh lah!" Kata Luna kesal.

Dias hanya tertawa melihat ekspresi kesal Luna.

"Serius ah mau apa?" Tanya Luna.

"Gausaaah."

"Dias cepet."

"Apa aja Dias suka kalo Luna yang beli."

"Yaudah gue beliin busur aja ya."

"Kenapa harus busur."

"Biar lo bisa ngukur derajat kemiringan otak lo. Sebel deh." Kata Luna.

"Ih jahat banget! Beli apa aja serius deh pasti suka ga beli apa-apa juga tetep suka."

"Yaudah gausah aja ya." Kata Luna sambil mengajak Kei pergi dari kantin meninggalkan Dias.

Pukul 15.00 bel pulang sudah berbunyi menandakan waktu belajar telah usai. Saat baru keluar kelas, Luna melihat Dias di koridor ips namun dia bersama teman-temannya, ah mungkin abis ini pada mau perayaan kecil-kecilan.

Jadi Luna tidak memanggil Dias dan berpikir untuk pulang sendiri.

Luna mendapati dirinya bosan dan ingin sekali menelfon Dias entah untuk apa. Tapi pasti dirinya akan mengganggu perayaan kecil Dias dengan teman-temannya. Barusan dia melihay story snapchat El dan mendapati Dias yang tengah tersenyum lebar, membuat dirinya juga ikut tersenyum.

Ah jadi pingin ikut!

Tepat tak beberapa lama setelahnya, Luna mendengar bel rumahnya dibunyikan. Mau tidak mau harus dia yang membukakan pintu karena cuma ada dia seorang diri di rumahnya. Saat membuka pintu, Luna mendapati Dias disana entah untuk apa.

"Di? Kok disini?" Tanya Luna bingung.

"Gamau diajak masuk?" Tanya Dias.

"Eh? Iya masuk-masuk." Kata Luna sambil mengajak Dias until duduk di ruang tamu.

"Kok kesini Di?" Tanya Luna.

Dias kemudian membuka sebuah kotak yang daritadi dibawanya.

Kue?

"Mau ngerayain bareng Luna." Kata Dias sambil memasang sendiri lilin-lilin di kuenya.

Luna tertegun, menyadari bahwa di tengah-tengah acaranya dengan teman-temannya Dias masih saja mengingat Luna.

Masih dengan senyum yang sama, Dias menyalakan lilinnya dengan korek yang dibawanya.

"Ayo--"

"Dias."

"Hm? Kenapa?" Tanya Dias.

"Kan lo tadi lagi ngerayain bareng temen-temen lo." Kata Luna.

"Iya udahan, lo pasti tadi lupa ngucapin kan di kantin makanya gue kesini aja, sekalian mau ngerayain bareng lo." Jawab Dias.

Luna menatap laki-laki di depannya itu dengan tak enak hati karena ketidaktahuannya akan ulang tahun laki-laki ini. Luna merasa bersalah.

"Luna!! Kenapa nunduk? Ayo dong gue--"

"Dias, lilinnya meleleh." Tunjuk Luna.

Seketika Dias merasa panik ketika mendapati lelehan lilin di atas kuenya dan malahan meniup cepat-cepat lilin tersebut sebelum sempat menyanyikan lagu apapun.

"Dias!!! Orang belom nyanyi udah ditiup."

"Ya ini nanti jadi beracun, nyanyi mah nyanyi aja atuh."

Mereka pun bernyanyi lagu Happy Birthday yang entah kenapa terasa sangat awkward sehingga membuat mereka berdua tertawa setelahnya.

"Aneh banget dah." Kata Luna.

"Ya lu sih pake pengen nyanyi segala." Kata Dias.

"Di, happy birthday ya." Kata Luna sambil mencolekkan krim kue ke ujung hidung Dias dan kemudian berlari.

"LUNA."

Ephemeral.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang