Chapter 2 : Seorang Astronot

430 13 0
                                    

Kemudian pada tablet nya, tampak seorang astronot dengan helmnya terpasang.

"*Kaget* Apa kamu sungguh hidup? Apakah ka-" Astronot.

Rin cepat mengrakhiri video callnya, dan langsung mematikan tabletnya dengan tombol power. Dia panik dan hatinya berdetak sangat cepat DoKi DoKi. Lalu ia menutupi tubuhnya dengan selimut dan mencoba untuk tidur.

" Ini hanyalah mimpi! Ini hanyalah mimpi! " Rin. (Dengan bisikan)

Dia mengulangi kata itu dengan terus-menerus sampai ia tertidur. Ini adalah hari yang mengerikan yang pernah terjadi padanya. Tapi ada hal yang lebih dahsyat lagi yang terjadi, lebih dari kejadian ini. Kejadian dahsyat ini tidaklah ketakutan dan kaget, tetapi menyakitkan sepanjang hidupnya.

Keesokan harinya.

Ruff !! Ruff !! "Rino. (membanguni Rin di pagi hari)

"A-apa? Oh, hai Rino! maaf Rino tapi aku tidak bisa bermain dengan kamu hari ini" Rin.

"Ruff?" Rino. (Bingung)

"Rin semalam mimpi buruk jadi Rin mau beristirahat di sini sebentar" Rin.

"Ruff" Rino. (Wajah sedih)

"Jangan sedih sayang... kita bisa bermain lain waktu,hmmm.. bagaimana kalau kita bermain sesuatu di sini?" Rin.

"Ruff Ruff Ruff !!" Rino. (Dengan kebahagia)

Mimpi buruk yang Rin bicarakan adalah mengenai hal astronot tersebut, Jadi dia sangat ingin tahu tentang bagaimana astronot itu bisa hidup? Rin menghidupkan tabletnya dan menunggu panggilan berikutnya dari astronotnya. Tapi, tidak ada panggilan apapun.

"Apa yang harus saya lakukan?" Rin.

"OOOOWWW" Rino. (terdengar seperti serigala)

"Umm .. Oh saya tahu!! seriga-" Rin. (Berhenti)

Kemudian panggilan suara dari tabletnya pada tangan Rin menghentikan percakapan-Nya, muncul lagi. Dia melihat tablet-nya, meneguk dan klik menerima panggilan.

"Halo, Apa kamu bisa dengar saya! Jangan mengakhiri panggilan saya!" Astronot.  : O

"Ya, aku bisa mendengarkanmu" Rin. (Manatap dia dengan curiga)

'Dia terdengar seperti orang tua, tetapi wajar sih diakan seorang astronotRin. (Dalam benaknya)

"Baguslah! Saya hanya akan mengajukan beberapa pertanyaan .. saya tidak akan melakukan apa-apa! Serius!!" Astronot.

"Aku juga, Dan habis ini, silakan pergi dari sini dan jangan mengganggu pesawat ruang angkasa ini lagi!!" Rin. (Tegas) >:(

"A-apa ?? Baiklah kalau begitu, Siapa namamu?" Astronot. (Merasa tidak nyaman -_- ')

"Rin, kalau kamu?" Rin.

"Ooo Iya yah... Eh, kalau nama saya Kinomoto Makoto." Astronot. ; )

"A-apa ?? Monotoko?" Rin. (Bingung)

"Bukan, Kinomoto Makoto. panggil saja Makoto" Astronot.

"Oh, oke .. Mokotono?" Rin. (Bingung)

"Uhh... ya, baiklah ... selanjutnya, Kamu itu apa?" Makoto.

"Saya adalah software(perangkat lunak) yang terhubung dengan mayat manusia saya" Rin.

"Oooh ... saya mengerti, tapi mengapa kamu-" Makoto.

"Hei! Sekarang giliranku untuk bertanya!" Rin. (memotong kata-katanya)

"Oh, Maaf .. Ladies first" Makoto. (Dengan sopan) ^ _ ^

"Aku ... Uh ... Kamu..umm" Rin. (Bingung)

"Yaaaa ??" Makoto. >:)

"Uhh..Be-berapa umurmu?" Rin. (Bingung bertanya)

"Serius itu pertanyaan? Baiklah, Saya 18 tahun" Makoto. -_- '

"A-Apa?!? Benaran? Kamu masih muda sudah menjadi seorang astronot?!" Rin.

' Yang penting saya bertanya! >:( tunggu? Berarti dia bukan orang tua selama ini, suaranya saja mirip : D Rin. (Dalam benaknya)

 "Ayahku seorang Astronot profesional di NASA, dan dia tahu segala sesuatu tentang luar angkasa. Dia kata ayahku, ketika nanti saya sudah besar, saya akan menggantikan dia" Mokoto.

"Jadi sekarang kamu menggantikan ayahmu?" Rin.

"Itukan waktu saya masih kecil dulu. Malah, saya tidak ingin menjadi astronot. Yahh, karena setelah planet tersebut menghancurkan bumi, ayahku mengi-" Makoto.

" Mengirim kamu ke luar angkasa untuk hidup" Rin. (menerus pembicaraannya)

"Iya, tapi tidak seperti ayahmu, ayahmu membuat-" Makoto.

"Tunggu apa? Kau tahu ayahku??" Rin. (Memotong kata-katanya lagi)

"Ya, dia seorang ilmuwan di NASA juga" Makoto.

'Mengapa dia terus memotong kata-kata saya, dasar  >: \' Makoto. (Dalam benaknya)

"Jidi kalau kau tahu ayahku, Apa kau tahu samaku?-" Rin.

"Iya, ayahmu pernah membawa kamu ke perusahaan NASA dan saya selalu pergi dengan ayahku untuk belajar tentang luar angkasa... dan di sanalah aku melihatmu, tapi rambut kamu beda di sini" Makoto.

"Akukan software!!" Rin.

"Apa kamu kesepian?" Makoto.

"Tidak. Saya punya tablet dan anjing software, lihat!" Rin. (Menunjukkan anjingnya di kamera tabletnya)

"Ruff! Ruff!" Rino.

"Hai anjing yang lucu" Makoto.

"GRRRR !!" Rino.(Curiga)

"Jangan begitu Rino! Maaf" Rin.

"Haha, Tidak apa-apa" Makoto.

"Apa yang kamu gunakan untuk video call saya?" Rin.

"Ada sebuah perangkat komputer di pesawat ruang angkasamu ... Umm Rin, sepertinya aku harus pergi. Aku akan datang la-" Makoto. (Dengan terburu-buru)

"Tunggu! Sebentar, aku ingin menanyakan sesuatu!" Rin.

"Maaf tapi saya benar-benar harus pergi, aku akan kembali lagi!" Makoto.

"TUNGGU!!" Rin. Tapi sudah terlambat. Makoto telah mengakhiri panggilannya.

"Kenapa? Kenapa? ... tidak peduli, aku akan menunggumu. Makono" Rin.

"Ruff Ruff !!" Rino.

"Oh yahh, yukk kita main Rino! Maaf kalau saya tidak menepati janjiku" Rin.

Dan mereka bermain dengan tempat-tempat baru yang Rin dibuat. Yaitu di luar angkasa.

"Bagaimana menurutmu Rino?" Rin.

"Ruff Ruff Ruff !!" Rino.(Dengan gembira)

"Sepertinya kamu menyukainya" Rin. ^_^

Shelter (Anime) : I Promise (After story) | Indo verisionWhere stories live. Discover now