Part 1

541 107 39
                                    


"Yakin nih, Mbak, alamatnya gak salah?"

Aku menoleh ke samping sambil menggigit bibir bawahku. Di sampingku, seorang wanita tiga tahun lebih tua dariku juga menampilkan muka yang sama-sama cemasnya.

"Iya, Pak, alamatnya sih di Jalan Kagok Dalam."

"Tapi mana ada SLB di gang sekecil ini ya, Mbak?"

Tepat, batinku. Mana ada SLB di gang sekecil ini? Sejak pertama kali memasuki jalan kecil dengan papan jalan mungil bertuliskan 'Jalan Kagok', aku juga hampir-hampir mendelik. Taksi kami malah bergulir di sebuah gang mungil. Istilahnya, kami sedang blusukan.

"Saya tanya orang dulu deh, Mbak."

Akhirnya sopir taksi itu mengalah. Ia menepikan taksinya, kemudian turun. Kak Gia menoleh ke arahku, "Ta, tapi kamu gak salah alamat, kan? Yakin, ya, SLB-nya di Jalan Kagok? Ini gang kecil banget lho."

"Duh, Kak, aku bahkan sudah hafal nama jalannya waktu Bu Weni kasih alamatnya ke aku. Semalam aku juga udah search di Google tentang SLB-nya. Alamatnya sama."

Kak Gia mengangguk-angguk. Sebentar kemudian, sopir taksi itu kembali dengan wajah sumingrah.

"Benar, Mbak, ada SLB di ujung jalan sana. Kata ibu-ibu di sana, SLB-nya menthok di ujung jalan sana."

Aku mengucap syukur dalam hati. Oke, perjuangan pertama terlewati. Taksi bergulir melanjutkan ke gang panjang dan mungil ini, sampai kemudian kami tiba di sebuah... rumah mungil? Aku melongo dari balik jendela taksi. Ini SLB-nya? Yang benar saja. Bangunannya kecil, sekecil jalan gang ini. Kalau boleh dibayangkan sih, bangunan sekolah ini mirip dengan rumahku di desa. Tidak jauh berbeda. Kok kecil sekali ya?

Belum selesai kebingunganku, tahu-tahu sekitar lima anak berpakaian merah putih dan semuanya cowok, datang mendekat ke taksi kami.

"Mbak cantik!"

"Mbak cantik!"

"Mbak cantik!"

Kalimat itu beberapa kali kudengar. Terakhir, mereka tidak hanya mengintip kami lewat kaca jendela taksi, tapi juga membukakan pintu taksi kami. Oh my God! Ini anak-anak SD sudah mau godain kami?

"Ta, bayar ongkos taksinya." Kak Gia menyenggol lenganku karena melihatku shock di tempat duduk.

"Oh, ya." Aku segera mengeluarkan dompet, lalu membereskan urusan taksi. Setelah itu, kami keluar dari taksi dan menghadapi lima bocah lelaki itu. Siapa sih mereka? Dan ketika aku mendongak ke atas, dari kedua mataku kubaca ulang papan di depan sekolah mungil ini. SLB Hj. Soemiyati. Benar kan? Jadi... Mereka anak-anak SLB ini?

"Mbak cantik! Mbak cantik!" Sebutan itu masih terdengar. 

Bocah-Bocah SLB KagokWhere stories live. Discover now