"Halo. Selamat pagi."
"Ya. Pagi."
"Ini saya dari Go-Jek, Mbak. Mau konfirmasi. Mbaknya posisi di seberang pintu keluar Wesada ya?"
"Iya, betul, Mas."
"Oke, Mbak, ditunggu ya. Empat menit lagi saya sampai."
"Oke, makasih."
Setelah mematikan sambungan telepon, kubongkar lagi tas ransel—satu-satunya tas ransel berwarna biru tua yang kubeli demi skripsi. Saking persiapannya, aku sudah memikirkan kalau skripsi kualitatif akan membuatku berlari ke sana kemari, mencari subjek, mengetuk rumah ke rumah, berbaur dengan angkutan umum, angkot, sampai Go-Jek. Benar saja. Tas ini berguna sekali hari ini.
Setelah mengecek semua perlengkapan yang harus kubawa—dua ponselku, botol minum, buku, bolpoin, dan dompet—aku keluar kos dan menunggu Go-Jek di depan kos. Tujuh menit kemudian, seorang lelaki dengan jaket khas berwarna hijau cerah menghentikan motornya tepat di depanku.
"SLB Kagok ya, Pak. Tahu kan?"
"Kalau Jalan Kagok tahu. Tapi memang di situ ada SLB ya, Mbak?"
"Nanti saya tunjukkan jalannya, Pak."
Kami berangkat, dan belasan menit kemudian motor Go-Jek bergulir memasuki jalanan Kagok. Aku mengarahkan sopir Go-Jek masuk ke gang-gang kecil tempat SLB itu bernaung.
"Ngapain ke SLB ini, Mbak? Saya malah baru tahu lho ada SLB di gang-gang sempit kayak gini," katanya.
"Ya, ini maju terus aja, ya, Pak. Nanti di depan pilih jalan yang ke atas," kataku lagi, lalu melanjutkan, "Ke sini mau penelitian, Pak."
"Oh, penelitian anak SLB ini?"
"Iya."
"Mbak semester berapa emangnya?"
"Tujuh, Pak."
Tidak ada percakapan lagi. Udara masih belum panas. Tiba-tiba Go-Jek bergulir dengan lebih lambat. Di hadapan kami, puluhan bocah SD dengan pakaian olahraga berwarna merah hitam sedang berlari-lari kecil dan menepi ke pinggir jalan begitu menyadari sebuah ojek melintas di gang sempit ini. Ketika aku menoleh, ada sebuah bangunan yang mirip sekolah. Oh ya, ini SD reguler.
Walaupun semua orang mengernyitkan dahi begitu aku menyebutkan sebuah nama SLB di dalam gang sekecil itu, tapi jangan salah. Di sekitar Jalan Kagok situ, masih ada dua sekolah lainnya kok selain SLB itu sendiri. Sebuah SD dan sebuah SMP, tentu saja sekolah-sekolah reguler untuk anak normal. Jadi, di daerah sempit ini ada tiga buah sekolah—SLB Hj. Soemiyati, sebuah SD umum, dan sebuah SMP umum. Melihat anak-anak kecil berseragam olahraga itu membuatku tercenung di antara udara pengap kota Semarang. Bagaimana ya perasaan para orangtua yang mengantar anak-anak mereka ke SLB itu ketika melewati dua sekolah umum yang lain? Bagaimana perasaan mereka ketika melihat anak-anak lain sekolah di sekolah umum, sedangkan buah hati yang sedang diboncengkannya itu akan diantarkan ke SLB? Sejauh mana ya luka hati mereka ketika melihat anak-anak lain berlari dengan baik, sedangkan untuk melihat anak mereka sendiri saja rasanya—
Aku gak tahu. Benar-benar gak tahu bagaimana respons para orangtua itu ketika harus menyadari banyak hal—anak mereka berbeda, sampai harus masuk ke SLB. Dan akan segera terjawab kalau penelitianku ini beres.
"PR-nya sudah dikerjakan?"

YOU ARE READING
Bocah-Bocah SLB Kagok
General FictionAku gak tahu. Gak tahu seberapa besar porsi rasa syukur yang pantas memenuhi hati para orang tua dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Seberapa besar orang tua mampu menerima keadaan bila anaknya diputuskan harus masuk ke SLB dan bukan di sekolah no...