Anin baru saja tiba dirumah Fanny saat Fika sudah tiba disana lebih dulu. Hari ini, mereka berencana untuk berkumpul dirumah Fanny sepulang sekolah. Namun Fika dan Fanny pulang lebih dulu karena Anin yang masih punya urusan dengan ketua kelas. Setibanya Anin disana, Fika dan Fanny sedang memperbincangkan permasalahan Rian. Iya, Rian ketua kelas mereka yang baru saja ada urusan dengan Anin itu.
"Gue...naksir sama dia." Ujar Fika tersipu.
Fanny tertawa dengan keras, "Lo serius?" Tanyanya disela tawanya.
Fika mengangguk. Pipinya bersemu merah. Entah mengapa ia menyukai ketua kelas mereka itu. Rian memang sangat baik. Tapi ia baik pada hampir seluruh cewek dikelas mereka dan sepertinya hanya Fika yang menganggap lebih kebaikan itu. Pemuda itu sukses membuatnya jatuh hati. Dimata Fika, Rian adalah pemuda yang paling bijaksana yang pernah ia temui. Meski sedikit berlebihan, tapi itulah yang dirasakan gadis belia itu saat ini.
"kalo naksir ya deketin." Anin muncul dari balik pintu.
Fika dan Fanny menatapnya bingung. Kapan nih anak muncul?batin mereka.
"Lo denger juga Nin?" Tanya Fanny memastikan.
Anin mengangguk, "Ya dengerlah. Ketawa lo juga kedengeran kali sampe sekolah." Candanya.
"ih ngarang lo, kaya gue tetanggan aja sama sekolah." Fanny mencibir.
Anin tak menggubris Fanny. Ia kemudian duduk disebelah Fika dan merangkul sahabatnya itu, "Lo naksir Rian?" Tanyanya.
Fika mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Gue juga gak tau. Tapi akhir-akhir ini gue sering deg-degan kalo ketemu dia." Fika terlihat gelisah. "Lo pernah gak ngerasain kayagini?" Tanyanya.
Anin mengangguk, "pernahlah. Emang gue Fanny yang jomblo akut banget." Anin tertawa. Fika juga ikut tertawa.
"Sialan lo"
*****
Anin membuka matanya perlahan. Kamarnya masih gelap karena memang ia tidak menyalakan lampu ketika tidur dimalam hari. Belum ada cahaya masuk yang menandakan ini belum pagi. Tumben sekali ia terbangun. Ia meraba kasurnya untuk mencari ponselnya yang ia letakkan disebelahnya.
Ketemu.
Dia kemudian menyalakan ponselnya. Banyak pemberitahuan disana. Ada beberapa panggilan tidak terjawab dan ada beberapa pesan singkat. Tidak ada yang berbeda, semuanya berasal dari Rian. Ketua kelas yang kini juga merangkap sebagai gebetannya.
Rian : Anin, lagi ngapain?
Rian : Kok ga bales? Lo udah tidur ya?
3 missed calls
Rian : kayaknya lo emang udah tidur deh. Yaudah, goodnight ya. Jangan enggak mimpiin gue. Hehe.
Anin menghela nafas panjang membaca pesan-pesan itu. Siang tadi banyak sekali kejadian mengejutkan yang terjadi padanya. Pertama, Rian menyatakan cinta padanya. Padahal mereka baru pendekatan sejak sekitar dua minggu yang lalu. Anin memang sangat menyukai pemuda itu. Namun ia meminta waktu pada Rian untuk memberikan jawaban. Ia ingin meminta saran dari teman-temannya mengenai hal ini. Ia memang sengaja tidak menceritakan kedekatannya dan Rian kepada kedua sahabatnya itu karena ia belum yakin Rian akan serius. Tapi ternyata pria itu serius dan malah menyatakan cinta padanya.
YOU ARE READING
Predestination
Fiksi PenggemarKisah ini dimulai dari tiga orang yang sedang menjalin status sahabat dari masa kecil, susah senang tentu sudah mereka rasakan. semenjak mereka lulus dari masa putih abu-abunya, Anin pindah ke korea karena ia diterima di fakultas yang diinginkannya...
