She drives me crazy

40 4 2
                                        

Happy Reading! 😉

---
--
-

Sudah dua hari setelah kejadian tabrakan yang dialami Kafka. Kini lelaki itu telah kembali memasuki sekolah walaupun sebenarnya dia masih dianjurkan untuk istirahat lebih, setidaknya satu hari lagi untuk lebih memulihkan tubuhnya.

Dengan tangan yang masih diperban ia melangkah memasuki kelas diikuti oleh tatapan heran seseorang. Karena selama dua hari dinyatakan absen, tentu saja menaruh perhatian orang-orang dengan kedatangannya yang sudah berbalut perban ditangan dan bekas jahitan di pelipis kirinya.

Lelaki itu tak peduli juga takkan menjelaskan apapun. Orang-orangpun tak jua bertanya padanya. Kalaupun ada mungkin hanya sekedar memenuhi keingin tahuannya tanpa peduli dibaliknya.

Peduli?

Cuih! Ia juga tidak butuh rasa peduli dari orang-orang itu. Tidak ada yang lebih peduli kepadanya daripada dirinya sendiri.

Tatapan lelaki itu jatuh pada seorang gadis yang duduk sudut belakang dengan kepala yang bersandar di dinding. Tatapan gadis itu tak lagi berbinar seperti biasanya, jelas sekali gadis itu sedang dalam masalah.

Kafka meletakkan tas di kursinya kemudian berjalan mendekati gadis itu yang masih belum menyadari kehadirannya. Beberapa langkah lagi ia hendak dudum di bangku kosong sebelah gadis itu, gadis itu malah menolehkan kepala kepadanya membuat mata mereka bertubrukan.

Langkah lelaki itu berhenti seketika menatap manik mata gadis itu yang sendu, rambutnya cukup berantakan padahal sekarang masih pagi.

Gelak tawa sekelompok pria memasuki kelasnya membuat tatapan gadis itu berpaling darinya, ia pun turut berpaling mengikuti tatapan gadis itu pada sekelompok lelaki yang telah mengaku sebagai sahabat baik gadis itu dari kecil.

Sahabat yang katanya akan selalu ada dalam susah dan senang. Menyelesaikan masalah bersama, berjuang untuk satu tujuan yang sama disertai rencana masa depan yang tentunya dilalui bersama.

Bullshit!

Pemikiran yang terlalu jauh untuk mereka. Sekarang, kemana perginya semua ucapan mereka itu. Menelantarkan satu masalah kecil dan melukai diri mereka masing-masing. Sebatas itukah persahabatan mereka itu?

Dalam sekejap semuanya berubah, tatapan mereka yang seakan tak pernah mengenal satu sama lain, padahal mereka menghabiskan hampir seluruh hidupnya bersama-sama.

Kafka kembali menatap gadis yang memandang sekelompok anak lelaki itu dengan senyum sendu. Ada tatapan kerinduan di matanya membuat siapapun yang melihatnya menjadi iba. Menyayangkan ikatan persahabatan itu. Gadis itu terlihat rapuh sekarang membuat lelaki itu ingib merengkuhnya, menghilangkan kekalutan gadis itu.

Seorang gadis memasuki kelas dengan menyampirkan tasnya di bahu kanannya. Ia menatap tajam ketika salah satu di antara sekumpulan lelaki itu menyapanya. Tatapan sinis gadis itu melembut saat menatap Ulfa yang masih menatap sekelompok anak lelaki itu.

Andrita mempercepat langkahnya, duduk di bangku kosong yang hendak di duduki Kafka lalu memeluk tubuh gadis yang sangat ingin di rengkuh oleh lelaki itu sejak tadi, tangan Andrita mengelus punggung Ulfanya lembut menguatkan gadis itu dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kafka menghela nafasnya kemudian berbalik ke kursinya. Hatinya cukup tenang  karena masih ada yanga akan menjaga Ulfanya tanpa dirinya. Andrita, ia cukup berterima kasih pada gadis itu.

-----------

Jam pelajaran ke empat sampai lima kosong setelah Pak Bayu menyampaikan bahwa Bu Frida harus menemani anaknya yang masuk rumah sakit.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 01, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SeravianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang