Chapter 8 - Traitor

43 5 0
                                        

Tidak tahu harus melakukan apa, aku hanya memandang langit-langit tenda sembari memperhatikan tangan kananku yang teracung ke atas.

Setelah hal-hal mengejutkan yang terjadi kemarin, aku masih tidak tahu harus menuju kemana. Mencari Adnan dan Amira dengan bantuan Arvel (Arta)? Atau mungkin aku bergabung saja dengan guild ini bersama Arvel, dengan kata lain menyerah mencari Adnan dan Amira?

Aku sudah terlalu lelah untuk menentukan tujuanku di dunia ini.

Ya, di sinilah aku. Terdampar di suatu negeri bernama Welssia dimana (mungkin) sihir menjadi elemen utama dalam kehidupan. Tepatnya aku berada di perkemahan guild yang mengaku bernama Silver Compass, guild dagang yang mengelilingi Welssia untuk melakukan transaksi perdagangan. Sebuah kebetulan, Arvel merupakan salah satu anggota guild ini.

Hari telah pagi dan matahari telah kembali ke langit. Menggantikan posisi bulan yang tadi malam sempat menemani tidurku di dalam salah satu tenda ini. Tenda nyaman yang mereka dirikan untukku. Dan karena saking lelahnya, aku bahkan belum sempat bertanya-tanya ataupun mengenal mereka lebih jauh. Setidaknya mereka semua orang baik-baik. Mereka juga dengan ramah meminjamkan pakaian mereka kepadaku.

Perkemahan ini sendiri sih tidak terlalu besar, kira-kira hanya terdiri dari 6 atau 7 tenda dan tumpukan barang dagangan yang ditata menggunung. Anggota guild dagang  ini juga tidak sebanyak yang kubayangkan.

"HEY!"

"Br*ngs*k, apa yang kau lakukan?!?"

"Beraninya?!"

"Aku tak percaya ini,"

Aku masih merasa malas, karena itu aku belum beranjak sampai kudengar suara ricuh di luar tenda. Suara apakah gerangan?

Penasaran, aku mengintip ke luar tenda.

"Dasar kau pengkhianat!!"

Sebilah pisau hampir memotong leherku bila saja aku tidak menghindar dengan intuisiku. Hei, kenapa aku dilempar pisau? Apa kesalahanku?

"Hey, kenapa kalian melempar pisau ke ara–"

Ucapanku yang baru keluar tiga perempatnya terhenti melihat keadaan di luar tenda.

Salah satu tenda di seberang tendaku remuk tidak berbentuk lagi. Di bawah tenda remuk itu terdapat cairan merah yang berceceran. Darah?

Para anggota guild laki-laki tampak mengepung seorang pria berperawakan tinggi. Pria itu membawa belati bernoda darah di tangannya.

Hah? Maksud semua ini apa? Mungkinkah orang itu merupakan pengkhianat yang disebut-sebut? Untung aku tak terkena lemparan pisau nyasar tadi.

"Deb– eh, Dyanna, hati-hati. Pria ini pengkhianat yang membunuh dua anggota guild. Kita masih belum mengetahui motifnya, tapi ada kemungkinan ia merupakan mata-mata bayaran," Arta, yang sekarang bernama Arvel menghampiriku dan menjelaskan kejadiannya.

Kesialan macam apa yang ada dalam diriku ini? Tak adakah hari tenang satu saja? Rintihku dalam hati.

"Aku sangat mempercayaimu selama ini, tapi ternyata aku salah. Kau sudah terkepung, menyerahlah dan hukumanmu akan kami ringankan!" Patt, sebagai ketua guild mengultimatum pria itu.

Aku tidak tahu jika Patt adalah ketua guild.

Mencari akal untuk kabur, ia melirikku, gadis lemah yang terlihat cukup mencolok dengan rambut putihku. Apalagi penjagaan di sekitarku yang minim. Sayang sekali aku tidak melihat matanya yang berkilat culas seraya menatapku.

Dengan lincah, ia menangkapku dari belakang, mengarahkan belati ke leherku sebelum mereka sempat bertindak lebih jauh.

"HEI KALIAN, BERIKAN AKU KUDA KALIAN YANG TERCEPAT DAN BIARKAN AKU PERGI ATAU TUBUHNYA AKAN TERGELETAK TANPA NYAWA!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 29, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ALBATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang