Chapter 1

119 18 7
                                        

Acara "bagi-bagi" Deby kemarin lusa membuat sebagian dari populasi kelasnya meminta lebih. Deby merutuk dalam hati, memang murah beli coklat segitu banyak?

Namun, ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Mimpi. Sudah dua hari ini ia memimpikan hal yang sama. Kegelapan dengan secercah pelita dan cahaya kecil itu memanggil-manggil sebuah nama.

Dy, Dya, Dyanna.

Dan anehnya, Deby merasa ia pernah mendengar nama itu. Deby mengenalnya.

Welssia, Welssire, Dyanna Welssire.

Lagi. Terulang lagi. Nama itu.

"Deby, do your test! Atau mungkin ulanganmu mau diambil sekarang?" sebuah suara yang berkesan galak membuyarkan lamunan Deby. Miss Megan, guru Bahasa Inggris yang dikenal killer tengah memperhatikan Deby dengan tatapan yang mengintimidasi.

Tersadar, Deby menunduk dan kembali mengerjakan ulangannya.

Duh, aku 'kan lagi ulangan, kenapa mikirin mimpi gak penting, sih?

Bukannya serius mengerjakan, Deby malah melirik sahabatnya, Amiraya Swastikadewi atau biasa dipanggil Amira. Gadis dengan pupil silver itu sedang mengerjakan ulangannya dengan lemas, setengah hati. Merasa diperhatikan, Amira menoleh ke arah Deby dengan tatapan mengejek mengetahui Deby kena semprot Miss Megan.

Deby hanya mengumpat dalam hati.

ѧѧѧ

Deby mengemasi barang-barangnya yang tergeletak tak berdaya di meja. Tubuhnya tak sabar untuk segera menyentuh kasur kesayangannya yang lembut nan empuk.

"Akhirnya pulaaaaang!!" teriak Deby seraya meregangkan kedua tangannya yang terasa kaku. Setelah memanggul tas ranselnya yang beratnya bertambah dua kali lipat daripada pagi tadi, Deby keluar dengan langkah lebar, tidak sabar untuk segera terlelap di kamarnya.

"Deb, Deby"

Deby terkesiap. Seseorang memanggilnya. Saat ia melirik ke asal suara, matanya bertemu pandang dengan mata hitam milik seorang lelaki berambut coklat yang menenteng tas berukuran agak besar di pundaknya. Salah seorang sahabat yang mencuri mata, hati dan pikiran Deby, membuat ketiga hal itu tertuju hanya kepada laki-laki tersebut. Urutan teratas dari apa yang pertama ingin dilihat Deby, Adnan Sapta Prawirya.

Deby menelan ludah. Ia benar-benar gugup sekarang. Biasanya ia hanya memperhatikan Adnan dari kejauhan, namun kini minpi seakan menjadi nyata. Adnan mendatanginya. Deby pun tahu seperti apa wajahnya sekarang, wajah yang menunjukkan ketidakpercayaan, mata terbelalak dan mulut melongo seperti sebuah gua, persis orang bodoh.

"A-Adnan?" Deby terbata-bata. Ia sendiri merasa heran. Adnan biasanya malu, tidak berani untuk memanggilnya terang-terangan begini.

"Sini,"

Dengan sigap Adnan menarik tangan Deby, membawanya ke lorong yang cukup sepi. Tanpa melawan, Deby menerima ajakan Adnan.

Beberapa pasang mata yang menonton semua itu berbisik-bisik, memunculkan spekulasi masing-masing tentang apa yang kira-kira Deby dan Adnan akan lakukan.

"Tu-tumben manggil, biasanya kamu m-malu ketemu aku, biasanya kamu gak mau pa-panggil aku kayak gitu," rasa gugup terus menggerogoti Deby, membuatnya tergagap menghadapi Adnan walau di tempat dengan sedikit orang sekalipun.

Adnan menggenggam kedua tangan Deby, memberi rasa hangat yang menenangkan.

"Aku ingin cerita sesuatu yang rahasia, jangan kasih tau siapa-siapa,"

Deby mengangguk perlahan, sedikit rasa kecewa membekas di dadanya karena melihat Adnan tidak gugup saat berbicara empat mata dengannya.

Apa Adnan benar-benar tidak memiliki perasaan apapun untukku? * batin Deby.

"Janji?"

"Iya,"

Adnan terdiam sejenak. Memikirkan kata demi kata yang akan ia ucapkan kepada Deby di dalam pikirannya. Melihat tingkah Adnan, Deby menunggu hingga Adnan siap untuk bercerita.

"Aku bisa..." Adnan mendekatkan wajahnya pada telinga Deby. Dengan degup jantung yang melebihi ritme biasanya, Deby mendengarkan Adnan dengan serius.

"Teleportasi,"

"Apa?!??"

Reflek, Deby menutup mulut dengan kedua tangannya. Teriakannya barusan menarik perhatian beberapa orang yang ada di situ.

"Maaf, A-Adnan, aku nggak sengaja. Kaget,"

"Gak apa-apa, mereka juga tetep gak ngerti yang lagi kita bicarain sekarang ini,"

"Soal t-teleportasimu itu, kok bisa?"

Deby berbisik, tidak ingin seseorang mendengar pembicaraan mereka (lagi).

Adnan melirik ke kanan kiri, memastikan keadaan.

"Sejak ultahku Maret lalu. Keesokan harinya, aku bisa tiba-tiba pindah tempat gitu aja. Terus sekarang aku dah mahir," jelas Adnan dengan cengiran khasnya. Deby serasa meleleh hanya dengan melihatnya saja.

"Apa baru aku y-yang tau?"

"Yap,"

"Ah, aku boleh c-coba?"

"Coba teleportasi?"

Deby menggangguk perlahan.

"Boleh,"

"Beneran?"

"Iya, bener,"

Deby bersorak dalam hati, dengan ini, dia bisa lebih dekat dengan Adnan.

"Ayo cari tempat sepi," ajak Adnan. Lagi, Adnan menggenggam erat tangan Deby. Rasa nyaman menjalar ke sekujur tubuh Deby.

"Nah, disini aja,"

Adnan membawa Deby ke belakang sekolah, dimana tidak ada seorang pun yang melihat.

"Coba kita pindah ke sana," jari telunjuk Adnan mengarah ke bawah sebuah jendela dengan gorden berwarna kuning kunyit yang tak jauh dari sana.

"Hmm... iya,"

Adnan meletakkan tasnya dan Deby di tanah. "Sebagai tanda letak kita sebelum pindah,"

Adnan menggandeng tangan kanan Deby. Ia mulai terfokus untuk berpindah tempat.

Deby menggigit bibirnya. Menahan rasa gugup yang tak terhentikan.

Dalam sekejap, sedetik, bukan, tidak ada sedetik, Deby merasakan sebuah sensasi aneh yang merayap ke sekujur tubuhnya. Rasanya seperti hanya berkedip, tetapi saat sepenuhnya sadar, ia sudah tidak berada di tempat yang tadi.

Ini dimana? *batin Deby.

"Loh? Kok kita di kelasmu, Deb? Apa aku salfok ya?" Adnan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Eh, Deby? Adnan? Sejak kapan kalian di situ?"

Adnan dan Deby merasa jantungnya hampir copot mendengar suara itu. Ada yang melihat mereka! Melihat mereka berpindah dengan tiba-tiba. Mereka sempat bertatapan sebelum mereka menoleh ke asal suara.

Seorang gadis yang sedang memasuki ruangan kelas tengah memandang mereka berdua dengan tatapan penuh tanda tanya. Manik silver itu tidak asing lagi bagi Deby. Rambut panjangnya yang dikepang mempertegas penampilan gadis tersebut.

Amiraya Swastikadewi.

~A~

A.N.
Halo semuanya, makasih yg udh nungguin cerita ini apdet. Lebih bagus lagi kalo kalian bersedia vote dan comment. Jgn jadi silent reader, okay?

Sama seperti chap sebelumnya, chap ini jg kurevisi, semoga tambah suka, hehe.

Rachel_dy

ALBATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang