Dia, Bumiku - Bagian Kedua

125 10 1
                                    


Bel ketiga berbunyi dua kali. Semua murid langsung berhamburan meninggalkan kelas masing – masing. Koridor seperti pasar, ramai dengan murid. Bumi masih sibuk memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.

"Mi, cabut yuk. Udah mau hujan nih." Teguran Reno, teman sebangku Bumi, mengalihkannya dari kesibukan.

"Oh iya, lo duluan aja, gua masih ada urusan sebentar." Jawaban Bumi membuat kening Reno mengkerut.

"Urusan apaan? Kita kan belom di kasih tugas."

"Ada lah." Bumi tersenyum, dan menyipitkan matanya. "Secret."

"Halah klasik lo main rahasia – rahasiaan!"

"Aduh Ren, bawel lo kaya ibu – ibu. Udah ah gua cabut duluan yak. Dah." Bumi mengambil tasnya, lalu berjalan ke luar kelas.

Dengan setengah berlari, dia menuju gerbang. "Seinget gua, dia gak suka hujan." Batinnya. Akhirnya, setelah dia mencari kesana kemari. Dia menemukan apa yang dia cari. Dari sudut matanya dia mengamati, orang itu, atau tepatnya cewek itu, sedang berdiri di bawah atap warung Bu Cucun. Menghindar dari rintikan hujan.

Prediksi reporter pagi tadi akan ada hujan deras sore ini. Dan benar saja, baru keluar gerbang, rintikan hujan berubah menjadi guyuran. Deras. Hujan mulai turun. Kejora lupa membawa payung. Cewek itu gak suka hujan. Hawanya yang dingin dan jalanan yang becek membuatnya kehabisan sepatu, dan dia tidak suka itu. Kejora langsung berlari, berlindung di bawah atap warung Bu Cucun yang ada di samping sekolah.

"Ah sial, hujan lagi." Decaknya sambil mengeringkan lengan bajunya yang basah.

"Hujan tuh berkah Ra, jangan dibilang sial dong." Sebuah suara yang sangat amat dikenalnya membuat Kejora terdiam.

"Bumi. Ah, kenapa sih lo harus dateng kesini?" Runtuknya dalam hati. Dia sadar, jika dia membalas perkataan Bumi maka bisa jadi adu mulut yang hebat, dan dia malas menjadi pusat perhatian sekarang. Kejora pun mengacuhkan suara itu, dan kemudian menyibukkan dirinya sendiri dengan mengeringkan rok abu – abunya.

"Di kasih tau, bukannya jawab apa kek malah diem aja. Lo masih bisa ngomong kan Ra?" Sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana miliknya, Bumi bersandar di tembok warung Bu Cucun, dan mengamati Kejora yang dia tahu sengaja menyibukkan diri. "Dingin loh Ra, kalo lo cuman balik make seragam doang, lo bisa masuk angin."

Kejora yang merasa terganggu dengan suara Bumi, langsung mengangkat kepalanya dan menatap bola mata hitam milik Bumi. "Bisa gak sih lo diem? Sekali aja?" Sindirnya.

"Berhasil!" Batin Bumi, membuat cewek itu, cewek kesukaannya, membuka mulutnya saja menurutnya sudah berhasil. "Ya enggak lah Ra, gua kan punya mulut." Timpalnya, membuat Kejora mendengus kesal.

"Harusnya lo gunain mulut lo itu buat ngomong yang baik – baik." Kejora yang tampak kesal membuat Bumi semakin ingin menggodanya.

"Ini gua baik loh Ra, gua kan merhatiin elo. Ya kan Bu?" Bumi mengalihkan perhatiannya dari mata Kejora.

"Iya atuh kasep. Neng, diperhatikeun lalaki sakasep ieu mah si eneng kudu bersyukur. Ibu mah mau da." Bu Cucun langsung melemparkan senyuman genit ke arah Bumi, dan Bumi pun mengedipkan mata kanannya yang membuat Bu Cucun semakin berseri – seri. Kejora yang melihat adegan itu langsung melongo. Dia gak nyangka, ternyata selera Bumi lebih parah dari yang dia kira.

"Kalo saya mah ya Bu, amit – amit diperhatiin sama dia. Mending saya mah di perhatiin sama si Tatan Bu, anaknya Mang Udin tea." Kejora memegang dadanya, wajahnya di buat sesedih mungkin, dan dia berkata dengan sungguh – sungguh, seolah – olah jika hanya ada satu cowok di dunia ini, dan cowok itu adalah Bumi. Dia lebih baik tidak menikah sama sekali.

Dia, Bumiku.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang