"Orphan !!" Valerie menutup matanya dengan kesal. Lalu dia berdiri dari duduknya, dia sedang mengepel dirumahnya sendiri, Valerie memang selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah karena dia menolak dengan keras adanya pembantu.
Valerie menuju ruang tengah rumahnya. Dia menemukan Barbara yang sedang drunk sambil nonton tv. Semenjak empat hari lalu Niall pergi tur, kakak beradik Horan tinggal bersama Barbara, dan di urud olehnya atau lebih tepatnya mereka mengurus Barbara. Barbara tak pernah mengurus mereka, kerjanya hanya makan, tidur, shooping, pemoteran, menyuruh - nyuruh dan hal malas lainnya, bahkan tak segan - segan dia menyiksa mereka bertiga.
"Ada apa ?" tanya Valeire lelah."Buatkan aku makan, aku lapar." kata Barbara, bahkan dia tak memandang Val saat dia bicara. "Mau makan apa ?" kata Val, memutar bola matanya. "Apa pun lah. Cepat Orphan !!" dan dia mulai memanggil Val Orphan karena, Val hanya anak angkat di keluarga ini. Val memutar bola matanya lagi, lalu dia pergi menuju dapur.
.
.
"kau mau meracuniku, huh ?" bentak Barbara sambil melempar sendoknya ke atas meja, membuat meja yang bersih itu kotor lagi. "Oh ayolah, aku lelah." keluh Val kesal. "Dasar anak tak tahu di untung !" Barbara menampar Val, suaranya kencang sekali sampai Fire mendengarnya.
Fire masuk, dia menemukan Barbara. Dia merintih dan memukul - mukul Barbara. "Diam kau anak cacat !" Barbara memukul Fire sampai jatuh. Val menangis dan mengangkat Fire. "Kau monster ! Kami tak akan pernah merestui hubunganmu dengan Dad !" jerit Val. "Coba saja, yang akan Niall ketahui adalah aku baik pada kalian. Aku akan mengambil hatinya dan aku akan menikahinya, nanti aku akan mengirim kalian ke asrama, selamanya !!" raung Barbara.
Val membelalak tak percaya pada Barbara. Kemudian, Val menggendong Fire menuju kamarnya. "Argh ! Dia monster !" jerit Val kesal. Fire menangis di kasurnya. Dia mengelus pipinya. Val tahu artinya, itu artinya Niall. "Dia belum pulang, masih lama." kata Val, dia tersenyum setidaknya Fire mulai bisa berkomunikasi dengan mereka. Lalu Fire meninju telapak tangannya yang berarti Klaus.
"Kurasa dia ada dirumah bibi Ele. Kuharap dia cepat pulang." kata Val, "Oh shut up ! You're not my mother ! You're nothing !!" terdengar sentakkan Klaus dari depan. Entah kenapa belakangan ini Val suka sekali saat adiknya marah - marah pada Barbara. "hey kau anak sialan !!" Val tahu kalau Klaus tak menggubris Barbara karena sedetik kemudian, dia masuk kekamar Fire, dan mengunci pintunya.
"Kenapa kalian malah disini dan tak melawan orang gila itu ?" kata Klaus, "Jaga bicaramu Klaus." tegur Val, Klaus mendelik pada Val dan Fire. "Kita harus mengusirnya, aku tak kuat kalau ada di terus disini." kata Klaus. "Memangnya aku kuat ? Tidak, apalagi dia memanggilku Orphan." kata Val. Klaus melirik kakaknya, dia tahu kalau dia selalu tak menyukai Val, tapi dia tak terima kalau kakaknya tersakiti.
"Iya.." gumamnya.
"Aku rindu Dad." ungkap Val, "Aku juga." bisik Klaus. Val tersenyum, lalu dia mengambil tali panjang yang entah kenapa ada disana. Dia mengambil selimut putih milik Fire, lalu dia mengikatkan salah satu ujung tali pada bingkai foto dan satu lagi pada rak.
Kemudian, dia mendirikan tenda kecil. Klaus tersenyum kecil, dia mematikan lampu dan menghidupkan senter, dia meletakkan senter itu diatas meja menghadap tenda. Val melepas liontinnya, liontin itu berbetunk kepala sepasang suami istri dari samping. Val mencopot foto hitam itu, meletakkanya didepan senter. Kemudian terbentuk bayangan sepasang suami istri yang sedang menunduk ditenda.
Val menggendong Fire, hatinya terharu. "Fire, coba bayangkan kita bertiga tengah bermain bersama Mum dan Dad didalam tenda kecil." bisik Val. Fire hanya diam, lalu dia tersenyum dan mengangguk. Val membawa Fire memasuki tenda itu diikuti Klaus. Mereka bermain bertiga, dan jika dilihat dari jauh mereka seperti sedang bermain bersama orang tua mereka yang mengamati ketiga anaknya bermain seru. Bahkan kami ini, Klaus tertawa.
Melupakan kenyataan kalau Klaus tak terlalu menyukai kedua saudarinya. Melupakan kenyataan kalau mereka punya masalah dengan Barbara. Hanya bercanda gurau bersama. tak peduali apa yang sedang terjadi. Saling tersenyum, menerima kenyataan kalau mereka saudara kandung. Tersenyum, tertawa, bergurau, dan lainnya.
Bahkan Fire senang, untuk pertama kalianya mendengarkan suara tawa Klaus. Meskipun dia tak bisa melihat apa yang terjadi, dia tahu kalau dia sedang bersama kedua kakaknya. Dengan kehangatan diantara mereka, dinaungi oleh orang tuanya, menjadi keluarga yang utuh.
Mereka tahu, meskipun hanya ditemani bayangan kedua orang tua mereka, di atas sana ibu mereka sedang tersenyum mengamati mereka. Dan ayah mereka yang jauh disana sedang berpikir mungkin ketiga anaknya sudah akur.
" Aku lebih menghargai Kasih Sayang Adik Kakak dan Keluarga dibanding rasa Cinta pada Kekasih. Karena Cinta hanya bersifat sementara, tapi Kasih Sayang tak pernah luntur." - Horan Kids.
-oOo-
Maaf ya kalau pendek >.< Aku lagi sedih soalnya pengen banget baca atau nonton cerita tentang keluarga gitu makannya aku nulis kaya gitu.
Eh, ada yang tahu caranya masukin foto atau gif ke multimedia nggak ? Aku nggak bisa >.<
Um... Itu Multimedia aku ada nggak ? Soalnya aku coba - coba
Vomments dong. aku butuh penyemangat ^^

KAMU SEDANG MEMBACA
Horan's Story ( Sequel of Music )
FanfictionNiall Horan harus berjuang mengurus ketiga anaknya sendirian. Terutama harus mengurus anak bungsunya yang berbeda.