Helaaaaw, ada yang nungguin part ini?
Maap baru bisa update hehe
Check this out! :)
.
.
.
Semalam, Dea sudah memikirkan dengan matang tentang permintaan kedua yang akan ia ajukan pada Davin. Sebenarnya ia sendiri masih ragu untuk meminta hal ini, tapi ia harus melakukannya.Hari ini jadwal kuliahnya siang, jadi paginya Dea masih bisa bersantai sambil menunggu kepulangan Davin dari apartemen Arfan. Sekarang sudah jam sepuluh, mungkin sebentar lagi Davin pulang. Dea menunggunya sambil menonton televisi ditemani keripik kentang kesukaannya dan secangkir teh.
"Bagi keripiknya!" kata Davin sudah duduk di samping Dea.
"Eh, udah pulang?" tanya Dea.
"Yang lo lihat gimana?" ujar Davin sambil mengunyah keripik kentang.
"Bang, aku mau ngajuin permintaan yang ke dua."
"Apaan? Jangan nyuruh masak lagi!"
"Nggak kok, ajarin aku nyetir mobil."
Davin mendelik ke arah Dea, pasti Davin kaget dengan permintaan adiknya. Ya, Dea memang ingin belajar mengemudikan mobil karena ia iri pada teman-temannya yang sudah diizinkan membawa mobil. Sedangkan dia sendiri? Hanya bisa minta antar pada Davin atau Hardi.
"Lo sehat kan, Dey?" tanya Davin memastikan adiknya masih waras atau tidak.
"Iyalah! Please Bang, ajarin aku nyetir mobil."
"Gila lo! Nyetir motor aja gak bisa, ini mau nyetir mobil!"
"Motor kan rodanya cuma dua, susah buat jaga keseimbangan. Nah, mobil kan rodanya empat, jadi pasti lebih gampang dikendaliinnya."
"Gampang palelu empuk! Deaaa, lo cantik-cantik kok oon ya? Mobil itu komponennya lebih banyak dari motor, mobil juga jauh lebih berat dari motor. Kalo lo belum bisa naik motor, jangan naik mobil!" nada bicara Davin mulai naik.
"Abang kok nyolot? Aku kan mintanya biasa aja. Kalau gak mau ngajarin bilang aja, gak pakek nyolot!" kata Dea emosi.
"Gue capek, Dey. Lo kan tau, gue baru pulang. Kalau mau belajar naik mobil, harus bisa naik motor dulu."
"Fine, aku bisa belajar sendiri!" ujar Dea meninggalkan Davin dan masuk ke kamar.
Dea menangis sesenggukan di kamar, tidak biasanya Davin membentaknya seperti itu. Keinginannya memang konyol, tapi apa tidak bisa bicaranya santai saja? Ia tahu Davin lelah karena baru pulang dari apartemen Arfan, mungkin Davin juga kaget dengan permintaannya. Tapi Dea tidak suka dibentak!
"Lihat aja ntar, aku bisa belajar tanpa Abang!" tekat Dea bulat, ia harus bisa membuktikan bahwa ia bisa bergerak tanpa Davin.
Dea memutuskan untuk tidak berbicara dengan Davin hari ini karena ia masih kesal dengan kakaknya itu. Dea pun memilih berangkat ke kampus dengan Rara--sebenarnya Dea yang meminta Rara untuk menjemputnya--dari pada diantar Davin.
>>><<<
Saat makan malam pun Dea lebih memilih makan di kamar dari pada di ruang makan, tapi Davin malah merayunya agar ia mau makan dengan yang lain.
"Dey, makan bareng yuk! Maafin gue dong, kapan-kapan gue ajarin deh. Keluar yuk?"
"GAK MAU!"
"Dey, lo kan udah gede. Masa mau ngambekan terus?"
"BODO AMAT, UDAH AH JANGAN GANGGU AKU!"
Beberapa saat kemudian, suara Davin sudah tidak terdengar lagi. Dea pikir Davin sudah pergi. Saat ia ingin makan, ia baru ingat kalau ia sendiri belum mengambil makanan sama sekali. Lalu bagaimana dia bisa makan? Sepertinya dia harus menunggu sampai semuanya tidur, baru dia bisa turun dan mengambil makanan. Sekarang baru jam setengah tujuh, berarti dia masih harus menunggu sampai jam sepuluh. Apa yang harus dilakukannya selama tiga setengah jam kedepan?

KAMU SEDANG MEMBACA
Love and Lies
RomanceKayla Deanisa, Arfandy Mahendra, dan Raditya Abrega. Tiga orang yang hidup saling berkaitan. Alur kehidupan Dea hanya terpusat pada dua hal, bahagia dan terpuruk. Siapakah di antara Arfan dan Rega yang lebih sering membuatnya bahagia atau bahkan ter...