4

132 5 0
                                    

Author's POV

Jam delapan pagi Dea sudah bersiap-siap untuk pergi dengan Rega. Bukan bersiap dengan mandi atau memilih pakaian, tapi menyiapkan mental agar ia tidak mencakar wajah Rega jika dia membuatnya emosi seperti kemarin.

Dea baru mandi saat jam menunjukkan pukul setengah sembilan, ia tidak mau terlalu lama menunggu kedatangan Rega. Kalau Rega yang menunggu lama, itu bagus. Sepertinya dari kemarin Dea sensitif pada Rega, sampai hari ini pun rasa kesalnya--lebih banyak kecewanya--pada Rega masih ada.

Dea mendengar keramaian dari bawah, apa Rega sudah datang? Tapi ini baru jam sembilan kurang seperempat. Ia keluar dari kamar, ternayata bukan Rega yang ada di ruang tamu bersama Indi dan Davin, tapi Arfan.

"Dea udah rapi aja, mau kemana?" tanya Indi yang melihat ia turun dari tangga.

"Mau keluar bentar, Ma."

"Sama siapa? Ini ada Arfan loh." Kata Davin menimpali.

"Sama orang pastinya, aku pamit ya. Dadah semua." Dea segera berlari keluar.

Saat ia membuka gerbang, mobil Rega sudah sangat dekat menuju rumah. Dea segera masuk ke dalam mobil Rega begitu mobil itu berhenti di depannya. Mengapa Dea tidak bilang kalau ia pergi bersama Rega? Dia tidak enak hati pada Arfan, ada Arfan di rumahnya tapi dia malah pergi dengan Rega, jadi lebih baik ia bilang pergi bersama orang.

Di dalam mobil pun tidak ada yang membuka suara, hanya ada suara dari radio di mobil Rega, sedangkan mereka berdua sama-sama diam. Sangat canggung, mereka memang seperti ini jika sedang bertengkar, tidak ada yang mau membuka suara. Takut suasananya semakin kacau.. Mobil Rega sampai di parkiran sebuah restauran jepang, ia mengajak Dea turun setelah memarkirkan mobilnya.

"Pesen aja dulu." Ujar Rega setelah mereka duduk di sebuah bangku yang dekat dengan jendela.

"Aku udah makan tadi." Dusta Dea, ia tidak ingin makan. Tapi ia ingin segera menyelesaikan masalah ini.

"Paling nggak, pesen minum aja. Baru kita bicara."

Dea menuruti apa yang Rega bilang, dari pada keadaan semakin canggung jika Dea hanya diam.

"Mau ngomong apa?" tanya Dea menatap Rega.

"Soal yang kemarin."

"Yaudah ngomong."

Rega menarik nafas dalam sebelum akhirnya dia menjelaskan semuanya kepada Dea. Dia bilang, perempuan di foto itu adalah pacarnya yang meninggal karena dibunuh tiga tahun lalu. Sebenarnya dia belum mengikhlaskan kepergian perempuan bernama Shiren itu, jadi dia menjalani hubungan dengan Dea agar dia bisa melupakan Shiren secara perlahan. Setelah dua tahun bersama Dea, Rega mulai bisa melupakan kenangannya dengan Shiren. Tapi karena kemarin Dea salah paham dan pergi begitu saja, Rega tidak sempat menjelaskan yang sebenarnya. Terakhir Rega meminta maaf kepada Dea dan Rega ingin hubungannya dengan Dea berjalan seperti semula.

"Iya aku maafin, aku juga minta maaf kemarin udah ninggalin kamu tanpa dengerin penjelasan kamu."

"Iya aku ngerti, tapi jangan gini lagi ya. Kamu kan tahu, aku cuma punya kamu, gak ada yang lain."

Rega berhasil meluluhkan hati Dea (lagi) dan kalau sudah begini ia tidak bisa marah lagi pada Rega. Ia tidak tahu yang dikatakan Rega itu jujur atau tidak, yang terpenting hubungannya dengan Rega bisa kembali seperti semula. Setelah selesai membahas masalah ini, Rega mengajak Dea untuk melanjutkan kencan mereka yang kemarin sempat tertunda.

>>><<<

Dea sampai dirumah pukul tiga sore, dan sepertinya Arfan sudah pulang karena ia lihat mobilnya sudah tidak ada.

Love and LiesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang