4
: k e m u n g k i n a n :
2014
"Kak Bara dulu nggak pernah nakal?"
Pertanyaan itu meluncur di kali keempat Leia bertemu Bara. Di hari itu, mereka bertemu setelah jam makan siang kantor. Bara datang untuk menemui Regen dan Aksel di foodcourt. Selepas Regen kembali ke ruangannya, Aksel memanggil Leia yang baru saja datang ke foodcourt dan melewati mejanya.
Aksel dan Bara mengobrolkan beberapa hal, termasuk tentang perceraian teman SMA mereka yang dulu sempat dibicarakan. Ketika Aksel permisi untuk ke kamar mandi sejenak, Bara yang di akhir pembicaraan mengaku bahwa dia juga pernah nakal pun mengundang pertanyaan barusan dari Leia.
"Nakal, ya?" Bara bergumam. "Palingan rokok, sih, Lei."
"Sampai sekarang masih?"
"Rokok? Udah berhenti." Bara pun menyeruput jus alpukatnya. "Kenapa?"
"Ehmm. Nggak apa-apa." Leia berdeham. "Itu... berarti Kak Bara nggak telat nakal, ya."
"Hah?" Bara memberi ekspresi heran. "Telat nakal?"
"Iya, telat nakal, kayak kata si Aksel waktu itu."
Bara mengedip beberapa kali. "Saya nggak tahu istilah telat nakal. Tahunya telat makan."
Spontan, sudut-sudut bibir Leia terangkat melawan gravitasi. Dia lalu berdeham. "Saya serius, Kak."
"Loh, saya juga serius."
"Jawab pertanyaannya maksud saya, Kak. Kakak nggak takut telat nakal?"
Bara menyipitkan mata. "Telat nakal menurtmu itu, dalam arti apa dulu?"
"Telat nakal yang...." Leia terdiam sejenak, hendak merangkai kata. "Yang suka begituan."
"Begituan gimana?" Bara mengernyit. Kemudian, melihat Leia segera menunduk, beberapa saat kemudian dia menyadari. "Oh, itu."
Leia berdeham lagi. Entah mengapa, mulutnya terasa mudah kering jika berhadapan dengan Bara. Ada rasa canggung sekaligus penasaran yang menyatu. Leia bingung bagaimana mengungkapkannya. "Begini, yang belum pernah ML, main cewek, mabok-mabokan, dan melakukan kenakalan lainnya di masa muda, nanti bisa jadi penasaran kalau udah nikah. Jadi, mendingan sebelum nikah puas-puasin 'nakal'nya dulu, biar nggak telat nakal. Gitu kan, omongan Aksel tentang telat nakal?"
Bara mengangkat alis, memunculkan sedikit kerutan di dahinya. Dalam benak, Leia bertanya-tanya berapa usia lelaki ini. Sudah hampir tiga puluhkah? "Kalau menurut saya sih, nggak ada yang namanya telat nakal," ujar Bara.
Melihat Bara tak ada tanda-tanda ingin menjelaskan lebih lanjut, Leia pun bertanya, "Kenapa?"
"Ya... emangnya, semua cowok kalau di masa mudanya nggak nakal, udah pasti di masa tuanya nakal? Kan, enggak." Sesaat kemudian, dia berkata, "Saya aja nggak pernah ngelakuin tapi nggak penasaran. Kecuali rokok. Itu juga saya nyesel pernah ngerokok."
"Loh, bagus dong kalau menyesal. Itu berarti Kak Bara nggak telat tobat."
Bara mendengus tertawa. "Lei, buat saya, 'telat nakal' dan segala definisinya itu cuma omong-kosong. Kalau brengsek mah brengsek aja. Nggak usah cari alasan buat pembelaan sampah."
Leia tertegun.
Sang gadis tak kuasa takjub. Maksudnya, selama ini dia pun juga tak pernah benar-benar memperhatikan Bara. Bara terlalu biasa saja jika sudah berada di antara Aksel dan teman-temannya yang lain. Tidak mencolok, tidak tampan, tidak bergemilang dengan jabatan atau gajinya. Dan kini, Leia hanya bisa kagum dengan kelebihan terpendam yang dimiliki lelaki ini.
Seandainya gadis-gadis lain tahu, atau setidaknya mulai membuka mata terhadap sosok laki-laki 'biasa saja', barangkali mereka akan menemukan lelaki dengan kepribadian dan pemikiran yang selama ini mereka butuhkan. Namun, Leia tak memungkiri bahwa lelaki dari piramida puncak seperti Aksel atau Hizraka yang berkilau dengan tampang, harta, gengsi, pekerjaan, serta segala prestasi yang mereka raih, memiliki pesona yang sulit dielak.
Tapi para manusia suka nggak sadar, batin Leia. Mereka mengharapkan mendapat sosok jodoh yang sempurna, tetapi lupa mempertanyakan sudah sampai di mana kualitas diri mereka di hadapan Tuhan.
"Kak Bara, saya mau nanya lagi," ujar Leia, membuat Bara mendengak dari menyedot jusnya. "Kenapa Kak Bara nggak penasaran sama kenakalan itu?"
Bara menatap Leia dengan alis tertaut. "Kenapa harus penarasan?"
"Loh, emangnya Kak Bara nggak penasaran buat ngelakuin?"
"Buat apa? Kalau ML mah, ntar juga kalau udah punya istri bakal ngelakuin juga."
"Kan, maksudku, bukan cuma begituan aja, tapi juga kenakalan lain. Kayak mabok-mabokan gitu."
Bara mengangkat bahu. "Buat apa penasaran sama hal-hal yang akan membawa keburukan untuk kita? Udah teruji secara scientific, pula."
Leia terdiam, lalu tersenyum. "Right."
Tak lama, Aksel kembali dari kamar mandi. Leia menyelesaikan makannya sambil mendengarkan obrolan Bara dan Aksel—yang kebanyakan berisi jokes sampah dan berisi ledekan terhadap satu sama lain. Kadang, Leia tertawa dengan candaan mereka. Kemudian, Bara pergi ke rumah sakit, sementara Leia dan Aksel kembali pada pekerjaan mereka.
Bertemu dengan Bara bisa menaikkan mood-nya. Dia bersyukur bertemu dengan sosok seperti Bara. Bara, meski bukan lelaki yang berkilau dengan segala pesona prestasi dan jabatannya, adalah lelaki baik-baik yang tahu mana yang salah dan mana yang benar.
Leia butuh lelaki seperti itu. Namun, apakah perasaannya akan bersambut?
Leia menghela napas. Dia tak bisa menebak apakah siklus patah hatinya akan terulang lagi atau tidak.
[ ].
KAMU SEDANG MEMBACA
Remediasi | ✓
Romance"Ever wonder how it feels to love an ordinary man in the eyes of many people?" Remediasi © 2017 by Crowdstroia. Image taken from Pinterest.
