8 : Perspektif :

51.6K 7.4K 227
                                        


8

: p e r s p e k t i f :


2014



Ketika Leia sedang scroll down di feed Instagram-nya, matanya terpaku saat melihat Bara memposting sebuah video.

Leia pikir, video ini adalah video tentang operasi, kesehatan, atau tentang ajakan melakukan aksi sosial seperti biasa. Namun, tidak. Kali ini, Bara memposting video yang ada dirinya di dalam video tersebut.

Leia tertegun saat mendengar suara tawa Bara sebagai permulaan video. Suara bass Bara Langit yang tertawa terdengar lepas dan menghangatkan hati Leia. Tak Leia pungkiri ada rasa rindu yang membuncah. Sudah satu setengah bulan lewat dari terakhir Leia bertemu Bara. Selama ini, Leia hanya mengetahui kabar Bara lewat Instagram-nya—yang jarang update—serta dari Aksel, jika atasannya itu sewaktu-waktu sedang bercerita.

"Leia, gimana kabarnya?" tanya perempuan setengah baya yang berdiri di depannya. Hari ini adalah hari kakak sepupu Leia syukuran atas kehamilannya. Ibunya memiliki dua kakak, dan masing-masing memiliki anak perempuan. Lintang, kakak sepupu Leia yang tengah hamil ini merupakan putri dari kakak pertama ibu Leia. Sementara perempuan yang tadi menyapa adalah kakak kedua dari sang ibu, yang Leia panggil 'Bude Sasa'.

Leia tersenyum kepada budenya yang bertanya itu. "Alhamdulillah baik, Bude. Bude Sasa sendiri?"

"Baik, baik, alhamdulillah." Sasa duduk bersama Leia di teras. Dia membawa sepiring dimsum di tangannya. "Kamu nggak makan, Lei?"

"Nanti aja, Bude. Gampang, kok." Leia tersenyum lagi. Dia menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.

"Eh, Lei," panggil Sasa. "Kamu tuh, jomblo kan, ya? Belum punya pacar?"

Hati Leia sudah tak enak. Rasanya mulai tidak nyaman karena akan ditanya pertanyaan kelas wahid yang ditujukan bagi orang-orang berusia duapuluhan; kapan kawin?

"Uhm, iya, Bude," jawab Leia, segan.

"Ah, Bude punya kenalan, nih. Kenalan Bude ini punya anak cowok, kerja di penerbangan. Pasti cocok deh, sama kamu. Orangnya ganteng, tinggi, cerdas. Kamu mau, dikenalin sama dia?" cerocos Sasa.

Leia tersenyum sopan. "Kapan-kapan aja, ya, Bude."

"Eh, jangan gitu. Kamu nih masih usia-usia emas buat punya anak, Lei. Jangan sampai nikah ketuaan. Rugi. Mumpung masih muda, masih segar-segarnya, seharusnya kamu cari calon suami buat masa depanmu," ujar Sasa.

Leia hanya terkekeh canggung. "Ah, iya, Bude...." Dia mengangguk, merasa tidak nyaman. Kendati demikian, dalam benak Leia, dia mulai mengimajinasikan Bara yang datang untuk berkenalan dengan keluarganya sebagai calon suami.

Astaga, Lei. Sadar. Jangan halusinasi, batinnya mengingatkan.

"Mama, jangan bikin Leia nggak nyaman gitu, dong," ujar seorang perempuan dengan rambut bercat abu-abu dan ber-highlight biru yang muncul dari pintu masuk rumah.

"Eh, Radhia!" seru Sasa. "Nih, tengok si Leia, adik sepupumu. Udah cantik, pintar, pandai masak, rajin bersih-bersih rumah, patuh sama orang tua, tutur katanya sopan. Udah cocoklah jadi istri. Nah, contoh si Leia ini. Jangan tiap hari pulang tengah malam, kerjanya kelayapan mulu."

"Ya kan aku pulang malam karena kerja, Ma," ujar Radhia sambil mendesah. Yang Leia ketahui, Radhia memang sering melembur di kantornya.

"Ih, tapi tetap aja. Masa, kamu . Goreng telur aja gosong!"

Remediasi | ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang