Shilla sampai di sekolah sepuluh menit lebih cepat dari yang ia duga, namun masih berdiri di depan gerbang selama beberapa menit. Kilas balik kenangan bersama Cakka kemarin kembali memenuhi kepalanya. Membuat denyut-denyut menyenangkan, namun mematikan di saat yang bersamaan.
Jalanan Buntok sedang berbaik hati membiarkannya lewat tanpa tergelincir sedikit pun ke dalam lubang-lubang penuh genangan air hujan yang keruh.
Kepalanya sudah pusing akibat kurang tidur, bisa-bisa sampai pingsan di jalan kalau Sadewa membuatnya tercebur ke lubang-lubang itu akibat cara menyetir motor yang bisa dibilang sembrono. Beberapa kali menerobos lampu merah dengan alasan sudah telat ke kampus.
Sejak terpilih mewakili sekolah di debat Bahasa Indonesia bulan lalu, atmosfer di sekeliling Shilla jadi memburuk. Enggak, bahkan itu lebih buruk dari sebelumnya.
Erika yang merasa posisinya direbut, selalu berusaha mencari celah untuk merundungnya di kelas. Cewek itu dengan teratur mengibarkan bendera perang di setiap kesempatan.
Erika berdalih kalau nilai Bahasa Indonesia Shilla yang lebih rendah dua angka dibanding dirinya−98, sama sekali mustahil menggeser posisinya yang mendapatkan nilai sempurna, 100. Namun, pihak sekolah memiliki alasan saat enggak memilih Erika sebagai kandidat utama.
Salah satunya, karena Erika enggak datang di hari debat semester kemarin yang mengakibatkan sekolah mereka didiskualifikasi dari debat.
Selebihnya, enggak ada yang tahu ada alasan apa lagi di balik majunya Shilla si cewek pendiam.
Menghela napas singkat, Shilla memantapkan diri untuk memasuki gerbang. Baru beberapa langkah, perhatiannya kembali teralihkan saat melihat Cakka yang berdiri di tengah lapangan basket. Cowok itu sepertinya belum puas membuat Shilla terus-terusan memikirnya sepanjang malam.
"Berapa kali saya harus bertemu kamu dalam seminggu?" Pak Tris berkacak pinggang dengan jarak kaki selebar bahu. "Apa hobimu memang memancing amarah saya?"
Saking kencangnya omelan Pak Tris, membuat Cakka yang berdiri di depannya sedikit berjengit. Sikap pongah tanpa rasa hormat dan enggak peduli yang sedari tadi cowok itu tampilkan sepertinya sukses memancing amarah Pak Tris hingga mencapai ambang batas.
Kedua bahu pria setengah baya itu naik turun, menahan diri melakukan sesuatu yang enggak seharusnya dilakukan seorang guru terhadap murid.
"Saya enggak hobi, Pak." Cakka menyahut. "Bapak aja yang seneng banget ketemu sama saya." Cakka yang sudah langganan dihukum itu menjawab kelewat santai, bertolak belakang dengan amarah yang ditahan guru di hadapannya.
"Diam kamu!" hardik Pak Tris. Wajahnya enggak menampakkan keramahan sedikit pun. Jelas sekali dia enggak menyukai Cakka. Siswa yang berlangganan dipanggil ke ruang BP karena sering bikin onar, tetapi enggak pernah berusaha mengubah sikapnya.
Shilla tercekat saat Cakka tiba-tiba melihat ke arahnya, menangkap basah cewek yang sedang mengawasi dari pinggir lapangan. Cowok itu menyunggingkan cengirannya yang khas. Enggak terlihat malu sedikit pun, meski banyak siswa yang memerhatikan.
Mau tak mau, Shilla juga membalas cengiran Cakka dengan sedikit meringis dan merutuk dalam hati. Memaki kebodohan diri sendiri yang selalu terpikat dengan pesona cowok paling slebor di Sevit High School itu. Sialnya, Shilla selalu tertangkap basah memandangi cowok itu dengan terang-terangan.
"Rasanya kok aneh ..." batin Shilla. Cakka yang dihukum, malah dia yang tiba-tiba merasa malu.
Yah ... seperti yang kita sebutkan sebelumnya, Cakka memang berpotensi merusak jantung.
***
"Fy, ke perpus, yuk?" Shilla menarik-narik tangan Ify, berusaha membuat cewek itu kembali ke dunia nyata. Sebab dari tadi Ify sibuk membaca novel, enggak memedulikan Shilla yang kebosanan di sampingnya. Menyebalkan sekali.
"Mager, ih," katanya tanpa mengalihkan mata dari novel.
"Duh, gue gabut banget di sini. Lo enak bawa novel, lah gue?" katanya sambil menunjuk hidung. "Makanya ke perpus aja, ngadem. Kan, gue bisa baca juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Antara Hujan [Terbit]
Ficção Adolescente[ Diterbitkan oleh Pena Borneo, Juni 2020] Ada sesuatu yang romantis tentang hujan. Entah itu suara guntur, atau bunyi dari hujan itu sendiri. Tapi ada sesuatu yang lebih menenangkan, yaitu setiap hal tentang kamu. Ketika aku menuliskan ini, aku men...
![Di Antara Hujan [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/30655027-64-k781645.jpg)