EMPAT

122 11 2
                                        

"Kamu datang di saat rasa egois akan cinta mendera."

Mau tahu rahasia?

Ada hari yang selalu ingin kuhapuskan dari memori tentang kamu, tapi entah kenapa melekat terlalu kuat. Hari di mana kamu mengucapkan kata pisah yang berhasil menjungkirbalikkan duniaku. Ada kekecewaan dan keputusasaan dalam sorot tatapmu. Tetapi sejujurnya, aku lebih suka tidak menerjemahkan ekspresimu yang membuatku merasa bersalah. Namun, sepertinya ada hal-hal yang tidak bisa aku lewatkan. Tentang Aku, Kamu, dan Kita yang tidak bisa menjadi temu. Sudah terlalu lama, terlalu basi untuk untuk diceritakan. Tapi kalau bisa, aku selalu ingin dapat kesempatan memutar waktu bersamamu. Bukan untuk membanding-bandingkan, tapi agar kamu bisa tahu apa yang aku rasakan selama ini.

Aku harap, suatu saat kamu mengerti, bahwa memutuskan untuk pergi bukan hanya semata karena sudah menyerah. Namun ada hal-hal yang harus kita relakan sebelum bisa mencintai seseorang lebih dalam lagi. Sebab pada dasarnya, meninggalkan dan ditinggalkan sama-sama menyakitkan.

***

Shilla memilih untuk berhenti berusaha melanjutkan tidurnya. Sejak terbangun beberapa jam yang lalu akibat mimpi aneh, ia sama sekali enggak bisa mendapatkan tidur nyenyak lagi. Akhirnya cewek itu mengembus napas pasrah, terdengar pelan di kamar yang temaram kala menyadari saat itu baru pukul tiga dini hari. Matahari bahkan belum menampakkan diri untuk mengawali hari.

Shilla duduk di bibir ranjang dengan kaki bergerak pelan menjangkau sandal untuk menghalau dingin dari lantai keramik, sebelum melangkah menuju pintu.
Sempat bimbang sebelum melangkah, terbelah di antara keinginan untuk naik kembali ke tempat tidur atau membuat segelas susu cokelat hangat untuk menenangkan pikiran.
Godaan yang terakhir jauh lebih kuat, ternyata. Membuatnya mantap ke luar kamar dan menuruni tangga. Segelas susu cokelat hangat selalu bisa membuat Shilla mempertahankan kewarasan.

Menghabiskan waktu sekitar lima menit untuk mencuci muka dan menyeduh segelas susu cokelat, namun Shilla masih saja terbayang-bayang mimpi aneh yang tadi ia dapat. Semakin dipikirkan, mimpi itu malah semakin menjurus ke arah buruk.

Shilla melihat dirinya saat berumur enam puluh lima tahun di dalam mimpi, dan ia hidup sendirian di dalam rumah kusam yang terlantar di pinggir kota. Helai-helai rambutnya putih semua, dengan kulit kusut yang berkeriput. Pakaiannya lusuh compang-camping. Ia enggak menemukan lagi orang tua, ataupun kakaknya di rumah itu. Shilla hanya hidup dengan banyak kucing, namun enggak ada satupun yang mau dipangku. Mereka hanya mendatangi saat lapar, lalu melengos kabur selepas kenyang.

Paling parah dari semuanya, enggak ada satupun alat komunikasi seperti telepon di dalam rumah. Shilla tua benar-benar tanpa kawan dan kerabat. Mimpi itu membuatnya terbangun sambil menangis.

Sejak menginjak kelas dua belas di sekolah menengah atas, Shilla pikir hidupnya akan baik-baik saja tanpa teman. Di kelas, ia punya teman sebangku, cewek yang sama pendiam dengannya. Ify, tentu saja. Namun cewek itu lebih suka memainkan gawainya dengan kepala ditidurkan di atas meja ketimbang mengobrol.

Meski sebenarnya, Shilla sungguh-sungguh enggak masalah akan hal itu. Soalnya, sama seperti Ify, ia pun malas mengobrol dengan topik random. Shilla terlalu santai dengan kondisinya yang enggak berkawan, enggak berlawan. Ia punya televisi dengan tayangan-tayangan mutakhir, dan banyak novel cetakan terbaru untuk menemani.

Shilla bahkan selalu merasa risih jika harus berada di tengah-tengah teman sebaya. Baik teman cewek ataupun cowok. Obrolan yang keluar dari mulut mereka biasanya enggak jauh-jauh dari topik dangkal mengenai trend fashion terkini, smartphone terbaru yang lebih mutakhir, atau membahas sinetron-sinetron tanah air yang sama sekali enggak mendidik, karena hanya mengandalkan tampang pemain-pemainnya.

Katakan saja, kalau Shilla yang terlalu sinis dan skeptis. Kenyataannya, dia memang enggak pernah bisa berbaur dengan mereka semua.
Lebih tepatnya, kalau Shilla enggak tahu caranya. Dia enggak tahu cara memulai percakapan dan bersosialiasi.

Alhasil, setiap hari hanya menghabiskan waktu mendekam di perpustakaan untuk mengisi ulang daya otak.

Menurutnya, di zaman yang serba canggih ini, manusia enggak boleh berhenti belajar. Kalau enggak, bisa-bisa nanti dijajah robot masa depan.
Sebab sangat tertutup dan jarang terlihat saat jam istirahat atau jam kosong, teman-teman sekelas pun hampir menganggap eksistensi Shilla enggak ada, kalau bukan karena namanya yang turut disebutkan dalam daftar pemenang debat Bahasa Indonesia Tingkat Nasional yang diselenggarakan bulan lalu.

Sejak saat itu, ketenangan Shilla sedikit terusik. Banyak yang menaruh kagum pada kepintarannya mendebat saat perlombaan, padahal biasanya enggak banyak bicara. Tapi di saat bersamaan, banyak juga pihak nyinyir seperti Erika yang tiba-tiba bertaruh pada presentase kemungkinan sekolah mereka akan kalah karena Shilla yang pasif.
Namun ada masalah lain yang lebih penting. Setelah mendapatkan mimpi tadi, Shilla menyadari beberapa detil yang selama ini sengaja ia abaikan. Kalau dua bahkan empat puluh tahun kemudian dia masih begini, sungguh gawat.

"Mau sampai kapan gue sendiri terus?"

***

"Bisakah kamu berhenti membuat jantungku berdetak-detak keras?"

Semenjak mengobrol singkat dengan Cakka, entah mengapa Shilla jadi kurang tenang. Ia jadi bergantian memikirkan soal Cakka dan mimpinya tadi malam. Sekadar catatan, Cakka bukan cowok biasa. Dia luar biasa. Selain punya tampang ganteng yang jauh di atas rata-rata, dia juga bintang basket di sekolahan.
Cowok itu punya senyum memikat dan tawa renyah. Giginya secemerlang model iklan pasta gigi, dan punya tatapan mata 1000 watt. Singkatnya, Cakka benar-benar tipikal cowok idola setiap cewek, termasuk Shilla.

Mata Cakka yang berbinar, dicampur senyum penuh ledakan warna itu selalu terlintas di benak Shilla. Mengingat lagi obrolan singkat bersama Cakka yang dianggap cukup langka itu, enggak pernah gagal membuat letupan kembang api di jagat raya Shilla.

Sore kemarin adalah kali pertama mereka mengobrol panjang berdua saja, tanpa Ozy atau siapa pun. Mengingat-ingat waktu Cakka menyebut namanya kemarin pun, jadi bikin Shilla senyum-senyum sendiri.

Tanpa ia duga sebelumnya, ada kenangan baru yang tercipta di antara hujan dan petir.

Namun sayang, setelah mendapatkan mimpi buruk itu pun sepertinya Shilla masih menolak untuk kembali membuka diri.

"Waduh, bisa gawat nih!"

Secepat kesadaran yang kembali ke tempat semula, Shilla membuyarkan lamunannya. Setelah itu mati-matian berkata pada cermin bahwa perasaannya untuk Cakka hanyalah euphoria sesaat. Rasa yang akan hilang dalam hitungan hari. Shilla mematut diri di depan cermin, namun pantulannya di cermin seolah mengejek, "Emang yakin?"

Dalam hati Shilla hanya berharap, kalau perbincangannya bersama Cakka kala hujan kemarin sore enggak akan merubah apapun dalam dirinya. Semoga saja, segalanya akan kembali normal hari ini.
Hidupnya sudah teramat tenang. Shilla enggak pengin secuil adegan berbincang dengan Cakka menjadi butterfly effect yang bakal merusak banyak rencana di masa depan.

Shilla sebenarnya bukan cewek polos yang enggak pernah mengenal cinta. Percayalah, dia sudah pernah bergumul dengan asmara, dan patah hati yang ditimbulkannya enggak berdampak baik untuk kesehatan jantung. Shilla hanya enggak membutuhkan drama romantis untuk saat ini, terlebih kalau orang itu adalah Cakka lagi.

Sambil menggerutu kesal di depan cermin, Shilla kembali sibuk menata rambut yang lepek akibat kehujanan semalam. Padahal setelah pulang dia langsung keramas.

"Duh ... susah banget diatur kalau udah kena hujan," sungutnya sambil sibuk mengacak-acak frustrasi rambutnya yang malah semakin lepek.

Kalau tahu bakal hujan deras, kemarin dia enggak akan naik motor sendiri ke sekolah.
Mendingan menurunkan gengsi menebeng mobil Ozy, rumah mereka kan bersebelahan.
Alhasil, Shilla harus rela terjebak hujan di sekolah. Omong-omong masalah hujan kemarin ... dia jadi termenung lagi, kan.

"Shilla, cepetan kalau mau nebeng." Suara Sadewa−kakaknya, yang diawali dengan ketukan keras di pintu, lagi-lagi menarik paksa Shilla dari bayangan Cakka yang terus bergelayut.

"Bentar bang!" Shilla dengan rusuh mengambil tas lalu mengikuti Sadewa.

Di Antara Hujan [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang