SEMBILAN

36 7 0
                                        

Erika paling enggak suka menunggu. Dia bisa mengamuk sepanjang hari terhadap orang yang ditunggu. Tapi bila semua sudah berhubung dengan Cakka, Erika rela menunggu seumur hidup sampai cowok itu melihat ke arahnya, lebih dari mantan cowok itu.

"Cakka ke mana sih, Zy?" tanya Erika sewot. Tentu saja Erika selalu melampiaskan kekesalannya pada Ozy. Untung juga cowok itu tipe orang yang santai-santai saja kalau menghadapi sifat Erika yang satu ini.

"Ke kafe depan sekolah, kayaknya. Dia mau mod−belajar katanya," jawab Ozy, nyaris keceplosan.

"Modus?" Erika mengernyit. "Sama siapa?" Seingat Erika, cewek yang paling dekat dengan Cakka saat ini adalah dirinya. Itu pun Cakka masih enggak menunjukkan perasaan aslinya. Hanya bertingkah manis di depan, tapi Erika bisa merasa kalau Cakka masih setengah hati mendekatinya.

Erika berlalu dari hadapan Ozy. Dia enggak peduli sepupunya itu memanggil dia untuk balik. Persetan dengan Ozy yang sibuk mengoceh agar Erika enggak berniat menyusul Cakka. Hari ini adalah harinya dengan Cakka. Bahkan kata Ozy tadi, Cakka sudah janji mereka bakal nonton bareng malam ini. Namun, ketika melihat Cakka malah bersama Shilla dari luar jendela kafe, Erika senewen. Pertama soal debat, sekarang cowok. Kapan sih, Shilla enggak mengacaukan kehidupannya?

Erika bersembunyi di balik pintu kafe, lalu menelepon Cakka. Untungnya cowok itu masih mengangkat telepon. Jadi asumsi Erika, Shilla sekarang enggak ada penting-pentingnya bagi Cakka sampai-sampai handphone cowok itu masih dalam mode dering.

"Kenapa, Er?" tanya Cakka. Ada nada dalam suaranya yang mengatakan bahwa dia sedang bahagia, tapi Erika mengesampingkan hal itu.

"Lo di mana? Katanya Ozy lo pengin nemanin gue nonton Mariposa malam ini?" tanya Erika.

"Duh iya, sori banget, Er. Gue lupa," ucap Cakka di ujung sambungan.

"Ya udah, gue tunggu lo di depan gerbang. Cepetan, ya!"

"Iya-iya. Shilla, gue harus pergi, nih. Kita ... lanjut nanti, ya?"

"Oke."

Saking terburu-burunya Cakka, dia jadi enggak sempat memutuskan sambungan telepon, membuat Erika mendengar percakapannya dengan Shilla, dan dia tambah kesal. Erika ingin melempar handphone-nya, tapi urung karena ini pemberian Cakka di acara ulang tahun ke enam belasnya beberapa minggu yang lalu.

Begitu Cakka pergi, Erika masuk ke dalam kafe dan duduk di tempat Cakka barusan. Shilla melihatnya dengan menaikkan satu alis.

"Kemarin debat, sekarang Cakka. Belum puas lo?" tanya Erika dengan gigi bergemeletuk.

"Kenapa lo ganggu hidup gue terus, sih?"

Shilla menaruh pulpennya dan menegakkan badan. "Apanya?"

Erika ingin sekali menampar Shilla andai ini bukan tempat umum. "Bukannya lo udah deket sama Yordan?"

"Bukan urusan lo."

"Masalah ini lebih dari sekadar urusan buat gue. Lo tahu kan, Yordan kakak gue, dan gue−"

"Suka sama Cakka." Shilla menyela Erika yang semakin mendidih.

Erika meneguk ludah, sadar kalau dia hampir saja keceplosan. Memang bukan rahasia lagi kalau pemicu awal perseteruan di antara mereka adalah Shilla yang tiba-tiba pacaran sama Cakka.

Padahal satu angkatan sudah terlanjur tahu kalau Erika yang lebih dulu dekat dengan Cakka waktu mereka kelas sepuluh. Setelah itu Erika enggak mau terang-terangan mengakui perasaannya yang terluka sama Shilla, padahal mereka bersahabat sejak hari pertama MPLS. Dia malah memilih untuk menghindari Shilla seperti orang gila, namun selalu mencari celah untuk mendekati Cakka.

Di Antara Hujan [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang