London, 23 April 2017
"Hyung.. kau baik-baik saja kan?" ,namja bersurai purple itu bersuara memecah keheningan yang terjadi sejak 20 menit yang lalu. Ia kini tengah menatap sedih punggung hyungnya yang berdiri membelakanginya.
"Aku baik-baik saja hyunie.."
Namja yang lebih tua menghela nafas pelan. Masih berdiri membatu menatap kebawah kearah jalanan kota london yang padat. Surai brownnya tertiup angin semilir, namun itu tak mematahkan pertahanannya berdiam diri diatas rooftop apartement mewahnya selama 1 jam penuh. Sebelum 20 menit yang lalu sang adik datang menemaninya dalam diam.
"Aku tau perasaanmu hyung, mungkin saatnya kau menyerah. Ia telah mencoba bahagia"
"Mencoba? Maksudmu?" ,nadanya terkesan memaksa namun ia masih tetap tak bergeming dari tempatnya.
"Kupikir begitu.. suaranya terdengar tak meyakinkan. Aku khawatir hyung.. kau tau kan yoongi jika-"
"Ia namja yang kuat hyunie, bukankah ia tak membutuhkan bantuan siapapun" ,sang kakak segera memotong ucapan adiknya, ia tersenyum getir mengingat sekelebat kenangan yang mengalir di memorinya.
"Apa hyung sudah tak peduli? kau tahu benar alasan yoongi meninggalkanmu. Ia tak ingin menyakitimu hyung."
"Kau pikir aku tak peduli? Aku masih memikirkannya! Hingga detik ini, semua masih sama. Hatiku hanya terisi namanya.. dengar Jung Kihyun jangan pernah meragukan perasaanku padanya" ,akhirnya hyungnya pun berbalik. Menatap Kihyun-adiknya- dengan tatapan tajam namun kihyun tahu betul dibalik itu tersimpan jutaan kesedihan. Kakaknya hanya mencoba terlihat kuat dari luar-pikirnya-
"Bukan begitu hyung-"
"Berhenti membicarakan ini hyunie, biarkan jika ia mencoba bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Dan jangan peringatkan aku lagi untuk melepaskan perasaan ini dengan mudah." ,lagi ucapan itu dipotong oleh hyungnya yang kini akhirnya berlalu meninggalkan kihyun yang menunduk diam.
"Aku hanya tak ingin melihatmu ataupun Yoongi sedih.. Hoseok hyung" ,lirihnya.
---------------
"Hyung.. aku lapar~" ,seorang pemuda tinggi berwajah manis dan bergigi kelinci kini tengah merengek manja dilengan kekasihnya.
"Ok baby, baby bunnie ku ingin makan apa hm?" ,sahut kekasihnya yang bersurai dark blonde dengan wajah tampan, rahang nan tegas dan tubuh proposionalnya yang terbentuk dibalik setelan mahal jas kantornya. Oh ingatkan pemuda itu-kekasih pemuda bergigi kelinci- Park Jimin suami sah Min Yoongi.
"Aku ingin makan di restoran makanan jepang Jimin hyung~"
"Resto jepang? Tumben sekali hm? Apakah kau ngidam baby?" ,tanya jimin yang kini tengah fokus menyetir dengan sebelah tangannya yang mengelus paha mulus kekasih bergigi kelincinya itu.
"Tapi jika aku memang ngidam dan benar hamil, apa hyung akan bertanggung jawab hm?"
"Tentu saja sayang.."
"Tapi istrimu itu?"
"Mudah saja, aku akan menendangnya dari hidupku"
"Tapi kapan hyung?"
Jimin menghentikan aktivitas-mengelus paha-nya. Kemudian tangannya beralih menggenggam tangan sang kekasih.
"Tunggu jungkookie, akan tiba waktunya kau yang menjadi nyonya park" ,ujarnya dengan senyuman manis yang ditujukan pada kekasihnya yang bernama jungkook.
"Aku menunggunya hyung.." ,jungkook menyandarkan kepalanya ke pundak jimin yang masih terfokus ke jalanan.
"Bersabarlah sayang.." ,jimin mengecup pelan kepala jungkook kemudian pandangannya kembali lurus kedepan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Curtain Call ( MinYoon )
Fiksi PenggemarHubungan kita hanya sebatas drama picisan, kau sebagai sutradara dan aku sebagai pemerannya. Pemeran yang hanya bergerak sesuai apa yang diperintahkan oleh sutradara, tanpa melibatkan hati dan perasaanmu. Memerintahkanku begitu saja seolah dirimu te...
