WARNING 21++ !!!
Aku mulai membuka mataku yang terasa lengket dan basah akibat tangisanku. Saat mataku sudah berhasil kubuka sempurna, yang pertama kali di tangkap penglihatanku adalah wajah tidur Yudha-tenang sekali, sangat berbeda dengan keangkuhan yang biasanya selalu terpancar di wajahnya.
Yang kutahu pasti, Yudha sudah melakukannya padaku. Yang tadinya ku kira hanya mimpi buruk, ternyata semuanya benar-benar terjadi. Tubuhku dan tubuhnya yang polos, pelukan eratnya pada tubuhku, miliknya yang masih tertanam dalam milikku, semuanya nyata. Tanpa bisa kucegah, airmataku kembali merembes, menyusuri jejak-jejaknya yang tadi hampir mengering.
Perlahan ku lepaskan tangannya yang memelukku, Yudha menggeliat pelan karena miliknya secara otomatis keluar dari milikku saat aku menjauhkan jarak kami. Saat milik Yudha perlahan keluar dari milikku, kurasakan rasa nyeri sedikit. Saat penyatuan kami sudah terlepas, aku baru merasakan milikku yang benar-benar nyeri. Aku tak mampu berdiri sehingga aku masih duduk di tepi ranjang. Entah sudah berapa kali Yudha melakukannya padaku hingga nyeri ini begitu menggangguku. Saat sedang meringis, aku mengeratkan cengkramanku pada seprai putih ini, tanpa sengaja juga mataku menemukan bercak darah yang mengotori seprai putih ini. Ya ampun darah perawanku! Kenapa mesti Yudha yang mengambilnya secara paksa, Tuhan! Aku kembali terisak mengingat perlakuannya padaku tadi-sebelum kesadaranku hilang.
Karena nyeri yang kurasakan sudah berkurang sedikit, aku berjalan tertatih menuju kamar mandi dikamar ini untuk mandi-sekaligus menghilangkan jejak kotor Yudha pada tubuhku.
Saat aku melewati cermin besar di kamar mandi, aku melihat diriku yang sangat mengenaskan. Dari tubuh polosku, aku bisa melihat semuanya, terdapat sedikit lebam di lengan, pergelangan tanganku dan juga banyak kissmark Yudha di sekitaran leher, bahu dan dadaku. Kenapa aku jadi semenjijikan ini sih? Kesalku.
Saat aku sedang berdiri di bawah shower menenangkan diriku, sepasang lengan kokoh yang sudah bisa kutebak pemiliknya, memelukku dari belakang dengan erat. Bagaimana ia bisa masuk bila pintunya sudah ku kunci?
"Ini villaku, jelas aku mempunyai kunci cadangannya bila kau ingin tahu."
Ahh ya, aku lupa ini miliknya. Kenapa aku bisa begitu bodoh, lebih baik tadi aku langsung kabur saja. Ahh tapi 'ini'ku kan masih nyeri, bagaimana bisa aku berlari, jalan saja masih tertatih. Poor me!
"Dan jangan pernah mencoba untuk kabur dariku. Kamu milikku Litha." Lanjutnya berbisik di telingaku.
Aku mendesah kecil karena tangannya yang sudah mulai bermain di payudaraku. Aku baru mengerang sakit saat tangannya mulai menjamah kewanitaanku.
"Ah ya.. aku baru ingat. Kenapa kau bohong padaku soal kamu yang sudah tidak perawan Litha hm?"
"Bukan urusanmu!" Bentakku galak.
"Ah.. aku suka karena mendapati aku yang pertama menyentuhmu dan mengambil harta berhargamu. Karena wanitaku sudah tidak perawan saat bermain denganku." Ia menggigit kecil daun telingaku dan aku berusaha sekuat tenaga untuk menutup mulutku rapat-rapat.
Aku harus buru-buru melepaskan diri darinya sebelum ia kembali bergairah saat mendengar desahan yang lolos dariku. Aku berbalik dan mendorong tubuhnya sekuat tenaga agar bisa keluar dari kamar mandi ini. Tapi Yudha yang hanya terdorong satu langkah kebelakang karenaku, masih bisa menangkapku.
"Kenapa kau sangat menggairahkan Litha? Aku suka wanita galak sepertimu, semakin membuat juniorku berdiri tegak. Aku ingin berada di dalammu lagi dan memompamu hingga kau lemas tak berdaya."
Aku berusaha mengelak, memberontak dan segala usaha lainnya yang ku harapkan dapat membebaskanku, namun nihil. Yudha kembali berhasil melakukannya padaku. Bahkan berkali-kali juga aku dan dia mencapai puncaknya.

KAMU SEDANG MEMBACA
I'M SORRY, DARLING!
RomanceWARNING!!! INI CERITA DEWASA!!! BANYAK ADEGAN 21++!!! Bijaklah dalam membaca! Yang belum cukup umur bisa melewatkan cerita ini. Tapi jika nekat, silahkan tanggung sendiri akibatnya. Lithaya Dameswari sudah resmi menikah dengan Rayudha Riantama, lela...