Um

38.7K 413 17
                                    

Song for first chapter:

*Mask Off - Future
*Bad Liar - Selena Gomez
*Kiwi - Harry Styles

Elle's POV:

Dua bulan yang lalu aku pindah dari Georgia, Amerika serikat ke Sydney, Australia. Aku pindah ke Sydney karena aku mengalami broken home, ayah ibu ku keduanya sering bertengkar di hadapan ku, ayah sudah sangat sering mabuk-mabukkan dan pulang larut malam, sementara Mom mengalami gangguan mental yang membuatnya di rawat di rumah sakit di amerika, aku kehabisan akal sampai akhirnya aku memutuskan untuk pindah kesini dan tinggal dengan bibiku, bibi Teresa. Kudengar sekarang Mom sudah menjadi pelacur komersial di salah satu pub terkenal di amerika dan ayah sudah pensiun dari pekerjaan nya sebagai sales barang elektronik, jadi itulah alasan ia menginginkan Mom menjadi pelacur, untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Aku kabur dari rumah dan hanya meninggalkan secarik kertas. Aku pergi kesini tentunya di bantu bibi Teresa yang merasa prihatin dengan keadaanku sekarang dan sampai saat ini ia yang membiayai ku kuliah di Stockholm Collage.

"Elle, cepat turun! Sarapan sudah siap!" Ujar bibi Teresa.

Aku yang sedari tadi sudah siap dengan pakaian Casual-ku yang hanya sekedar kaos hitam polos dan celana jeans yang hitamnya hampir menyamai kaos ku, segera turun kebawah.

Sesampainya di dapur, aku melihat ada dua piring sarapan di atas meja, tentunya untuk aku dan bibi Teresa.

"Kau akan berangkat dengan siapa, Elle?" Tanya bibi Teresa sambil mengunyah sarapannya.

"Aku akan pergi dengan Jennifer ke kampus," jawabku yang sama-sama memakan sarapanku.

Bibi Teresa hanya menganguk.

Beberapa menit kemudian terdengarlah suara klakson mobil yang ku yakini adalah mobil Bentley milik Jennifer.

"Bi, aku berangkat dulu ya, Bubye!" Ujar ku seraya mencium pipi bibi Teresa.

Ya, sudah kuakui bahwa aku sangat menyayangi bibi Teresa seperti aku menyayangi Mom, mungkin lebih dari Mom.

Aku segera menaiki mobil milik Jennifer dan penampilannya kali ini tidak jauh beda dengan yang kemarin, hanya saja Jenny hari ini menggunakan kacamata hitam yang cerminnya berwarna biru tua.

"Hey Gurl," sapa ku padanya.

Jennifer menurunkan kacamatanya sampai bertengger di hidungnya.

"What's up?" Sapanya balik.

Kami berdua tertawa bersama sampai akhirnya Jennifer menancapkan pedal gas sampai akhirnya mobil ini bergerak sampai ke kampus ku. Sesampainya di parkiran Jennifer bertanya padaku,

"Apa malam ini kau ada acara, Elle?" Tanya Jennifer.

"Um, tidak." Jawabku yang sedans merapikan poni panjang-ku.

"Baiklah, maukah kau pergi menemaniku ke Trinity?" Tanya Jennifer yang sekarang menatapku.

"Trinity?" ulangku, bertanya.

"Ya, Trinity. Kau tahu kan? Pub terkenal disini."

Pub? No, never. Aku tidak akan pernah pergi ke tempat haram itu, apalagi bila Bibi Teresa tahu dia pasti akan memarahiku habis-habisan. aku tidak mau mabuk-mabukan dan kehilangan keperawanan ku diusia muda ini, gila saja kau jenny!

"Sorry Jen, tapi aku tidak boleh pergi kesana. Bibi T pasti akan memarahiku."

Jennifer memutar bola matanya.

"Oh ayolah Elle, kau sudah 20! Kau boleh menikmati kesenangan di pub," ujar Jennifer.

"For your information, aku masih 19 tahun, sebulan lagi aku baru berumur 20, idiot." Koreksi ku yang membuat Jennifer mendengus.

Daddy's Secret Issues // L.HTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang