Oito

15.1K 244 4
                                    

Song for The Eighth Chapter:

*Don't let me be yours - Zara Larrson
*I Have Question - Camila Cabello
*Strip That Down - Liam Payne

***
Aku telah sampai di rumah sakit Payton. Aku berkeringat dingin, langkah ku semakin lama semakin cepat dan aku segera menanyakan kamar bibi Teresa ketika sampai di tempat resepsionis.

"Dimanakah kamar Mrs.Lizbeth?" Tanya ku dengan cepat.

"Maaf, anda siapa?"

"Saya keponakannya."

"Dia ada di lantai 3 kamar 13B." Ujar sang resepsionis.
"Baiklah, terima kasih."

Aku segera naik ke lift dan menekan tombol bertulisan 3. Aku didalam sini bersama seorang dokter yang kebetulan juga akan ke lantai 3 juga, jangan tanya bagaimana aku bisa tahu, aku tahu itu karena kami sama-sama menekan tombol bertulisan 3.

"Halo, miss." Sapanya.

"Hi,"

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Menjenguk Bibi ku."

"Di lantai tiga?"

"Ya,"

"Kalo boleh tahu, dia di kamar nomor berapa?"

"Tiga belas B."

"Wow, kebetulan sekali, aku baru saja akan kesana,"

"Benarkah?"

"Ya. Aku dokternya,"

"Oh! Perkenalkan aku Elle." Sahutku sambil menjulurkan tangan.

"Aku dokter Harvis, tapi tolong panggil aku Leo karena nama asliku Leonard Harvis." Dia menjabat tanganku.

Ting!

"Great. Apa kau sudah tahu kamar bibimu Elle?" Tanyanya seraya berjalan melia bersama ku.

"Belum." Ucapku seraya menggelengkan kepala.

"Mari kuantar."

Ia berjalan di depan ku dan aku hanya membuntutinya. Kamar 13B ada di dekat toilet umum, dan kata Leo, kamar ini sudah lama tidak di huni karena sebuah tragedi kecil, lalu kenapa bibi ku harus masuk ke kamar yang ini. Ugh.

"Kita sudah sampai, silahkan buka pintunya Elle."

Aku membuka pintu dan terlihatlah bibi Teresa yang belum sadar dengan kepala dan sebagian tangannya di beri perban. Ada juga seorang suster yang duduk di sampingnya, siap sedia bila terjadi sesuatu. Bibi Teresa terlihat pucat dan tangan kirinya yang di beri infusan dan bajunya yang sudah di ganti dengan baju khusus yang sering ada di rumah sakit.

"Bibi Teresa. . ." Ujarku serak.

Sang suster menoleh dan tersenyum padaku. Dadaku rasanya sesak melihat pemandangan ini. Susterku menyuruhku kemari dan tak tahu kenapa aku sedikit berlari ke arahnya dan memeluknya, tidak peduli siapa dia. Suster itu mengusap-usap punggungku jadinya aku pun menangis terisak-isak di pelukan nya.

"apa kau baik-baik saja?"

Aku menghapus air mata yang berada di dekat mataku.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa Bibi Teresa baik-baik saja?"

"Dia baik-baik saja, hanya butuh istirahat sedikit saja dan tubuhku akan fit kembali."

Aku terkekeh.

"Em. . . Ms.Camren?" Ujarku yang melihat name tag nya.

Dia tertawa kecil. "Carmen."

"Oh, maaf." Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal. "Ms.Carmen, bagaimana bibi bisa seperti ini?"

Daddy's Secret Issues // L.HTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang