My Stupid Heart 🍃 2

46 9 4
                                    

Namanya Anastasya Dwiarya. Masih gadis kecil berumur 12 tahun. Gadis cantik dengan rambut hitam lurus sampai tepat di bawah bahu, mata bulat, hidung mancung, dan kulitnya putih bersih. Ia paling suka memakai bando ke sekolah. Tak heran jika dikamarnya terdapat banyak sekali koleksi bando tergantung di lemari khusus yang dimilikinya. Mulai dari motif bunga-bunga sampai pita-pita.

Papanya bernama Arya dan Mamanya bernama Utami. Mereka berdua sama-sama berprofesi sebagai Chief Executive Officer (CEO) di dua perusahaan yang berbeda. Ia melahirkan dua orang putri yang sangat cantik. Kakak Tasya bernama Nabila, dia sekarang sudah kelas dua SMP hanya berbeda beberapa tahun saja dengan Tasya. Nabila juga tidak kalah cantik dengan adiknya. Perawakannya sebelas duabelas, hampir mirip.

Sekarang Tasya sedang duduk di kelas 6 SD sisa beberapa bulan lagi ia akan tamat sekolah dan masuk ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Sejak kelas 1 ia selalu meraih peringkat pertama di kelas. Namun semenjak kelas 4 dan seterusnya peringkatnya selalu menurun. Turunnya nilai rapor Tasya tersebut menjadi senjata ejekan Nabila ke depan orang tuanya. Tak heran jika di rumah mereka selalu berkelahi layaknya anak kucing yang sedang berebut makanan.

"Ada apa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu, Tasya?"

Mendadak Tasya terbangun dari khayalannya. Sengat matahari jingga yang semburat terang seketika terasa menampar wajahnya. Ia melihat mata Mama yang penuh curiga diseberang meja makan sana.

"Ada apa?"

Tanyanya sekali lagi. Lebih singkat dari pada sebelumnya.

"Ma, mungkin dia lagi geli ngelihat nilainya yang menyala-nyala di rapor tuh!"

Tasya menatap sinis Nabila.

"Tasya?" Tegur Mamanya sekali lagi.

"Ahh... tidak ada apa-apa kok, Ma!" kilahnya dengan bibir yang sedikit bergetar.

"Sikapmu ini seperti gadis yang siap nikah ajah!" Mamanya berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil botol air minum sambil menggelengkan kepala.

"Apa? nikah? Apakah perasaanku yang berubah ini, adalah perasaan yang dialami orang yang mau menikah, Ma?"

Ruang makan tiba-tiba hening. Suara gemerincing sendok berhenti. Nabila dan Papanya menatap heran Tasya. Sementara Mamanya meletakkan botol air dihadapannya.

"Emangnya apa yang kamu rasakan?"

"Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku ini dengan kata-kata, Ma." Tutur Tasya serius.

"Tuh kan, Tasya ini sudah punya pacar!" Nabila menepuk tangan satu kali.

Tasya hanya diam.

"Masih kecil kok udah pacar-pacaran. Sudah.. baikin dulu nilai-nilai sekolahnya," belum selesai Arya memberikan petuah Tasya memotong.

"Sudah itu baru bisa pacaran?" lagi-lagi Nabila terbahak menertawai Tasya yang sedemikian polos.

"Sudah itu, masuk sekolah favorit!" tutur Papanya pelan.

"Apakah di sekolah favorit, Tasya bisa jatuh cinta? Kan gini nih Papa, aku kan masih SD dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk jatuh cinta pada seseorang, padahal aku sudah punya orang itu, Pa!"

"Ya Tuhan anakku, kesambet apa kamu nak? Yah emang untuk anak-anak SD seperti kamu itu belum saatnya jatuh cinta! Emang kamu tahu cinta itu apa?"

Tasya menggeleng.

"Nah, kalau tidak tahu enggak usah jatuh cinta!" lanjut Papanya.

"Yang Tasya tahu itu kalau jatuh pasti sakit! Artinya, jatuh cinta itu sakit?"

My Stupid Heart Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang