SEMENJAK keterlambatan waktu MOS terjadi, rupanya tidak akan menjadi suatu kebiasaan baginya. Tasya selalu datang tepat waktu. Apalagi sang sopir pribadinya, pak Herman yang telah menutup usia mengharuskan Tasya untuk beraktivitas dengan mobil tanpanya. Tanpa sopir yang selalu setia mengantar jemputnya sejak kecil sampai dewasa.
Sudah dua bulan SMA Insan Cendekia ini lengkap dari semua tingkatan, mulai kelas X,XI, sampai tingkat XII yang rencananya akan ditamatkan tahun ini juga. Tasya satu kelas dengan dua orang sahabatnya itu. Kelasnya berada tepat dihadapan jajaran kelas-kelas XI kelasnya Farel.
Semenjak bersekolah di SMA Insan Cendekia ini, penampilan Tasya semakin mengeluarkan aura-aura kencatikannya. Rambut hitamnya yang wangi selalu diurai kadang juga di cepol, wajah yang terbilang sempurna itu di patut make-up yang tidak menor. Sederhana namun memikat siapa saja yang bertatapan dengannya. Seragam putih dan rok pendek yang tidak terlalu ketat namun memperlihatkan bentuk tubuhnya yang ideal layaknya seorang model.
Jam tangan warna pink terang melingkar erat di pergelangannya. Sepatu Nike perpaduan warna putih pink itu dipakai dengan kaos kaki pelangi yang melewati beberapa senti dari mata kaki. Hingga menampakkan kulit yang putih, bersih, dan mulus, sampai diatas lutut yang segera ditutupi rok pendek berlepit-lepit.
Pagi ini ia berjalan dengan menggendong tas ransel putih menuju kelasnya. Setiap hari ia berjalan santai dan tak pernah terburu-buru. Ia selalu mampir di mading sekolah yang setiap paginya menarik ratusan mata siswa.
Mading itu memuat foto-foto Farel yang sedang memakai mahkota emas yang berperan sebagai pangeran pada saat bermain teater. Fans fanatiknya yang membuat semua itu. Sedangkan idolanya sendiri tidak pernah meminta untuk membesar-besarkan namanya. Apalagi menyuruh orang lain untuk memasang foto-fotonya.
Profil-profil itu rupanya mengundang banyak fans Farel setiap hari untuk menempel quote-quote alay disekitarnya. Namun Farel tak pernah menggubris atau mengadakan jumpa fans, baginya itu adalah hal yang biasa-biasa saja.
Menurut Tasya itu adalah perbuatan gila. Betapa banyak siswi-siswi yang memuja lelaki yang baginya itu sangat pemarah, jutek, dingin, dan sombong itu. Terlebih sulit memaafkan seseorang.
Tasya berjalan menghapiri mading yang setiap kali mendekat ia berharap akan ada info-info menarik atau seputar kegiatan-kegiatan remaja. Namun nihil, mading itu hanya diisi oleh kabar-kabar tentang Farel. Tasya mengernyitkan alis melihat tingkah cewek-cewek yang seperti kerasukan di hadapannya itu.
"Iishh.."
Desis Tasya meninggalkan mereka lalu menuju ke kelasnya.
"Selamat pagi semua!"
"Pagi Pak!" semua murid serentak menyambut pak Ibe.
Setelah memberi salam murid-murid kembali duduk di tempat masing-masing.
"Gimana PR kalian? Kalau sudah selesai kumpul di meja dan yang belum selesai berdiri di atas!" sapa Pak Ibe yang berjalan di antara bangku-bangku berjajar rapi.
"Duh, dimana sih," Tasya mengucek-ngucek tasnya.
"Cari apaan, Sya?" tegur Kirana yang satu bangku dengannya.
"Jangan-jangan, lo lupa buku lo lagi?" seru Diana yang duduk dibelakang.
"Duh, iya nih! Buku latihannya nggak ada dalam tas gue," jawab Tasya yang semakin cemas. Semua isi tasnya sudah digeledah namun tak juga menemukan apa yang ia cari.
"Gimana? Udah nemu?"
"Belum, kayaknya nggak ada deh," Tasya semakin menunjukkan raut wajah cemas tingkat dewa.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Stupid Heart
Teen FictionPertemuannya dengan senior Bad Boy High Class bernama Farel Pranaja Agler membuat Tasya memasukkan seniornya itu ke dalam daftar orang yang paling ia benci di sekolah. Demikian pula dengan Farel yang sangat membenci Tasya sejak kecerobohan yang memb...