"Aku pikir kau harus meletakkan pita-pita itu diujung topi kerucutnya," ujar Diana kepada cewek cantik yang tahun depan usianya bakal menginjak 17 tahun.
"Kayaknya enggak deh, gue pikir nggak menarik banget jika diletakkan di ujung!"
"Yah.. itu sih terserah kamu! Itu kan topi kamu sendiri. Kalau topi aku di rumah sih banyak kertas mekaniknya hehehe."
"Bagaimana kalau dibentuk bunga-bunga lalu ditempel disekilingnya?" kata Tasya meremas-remas pita warna-warni ditangannya. Mata dan otaknya berputar-putar sembari meneliti topi kerucut yang akan dipakainya esok lusa.
"Pokoknya.. esok lusa kita semua harus berpenampilan bodoh, sebodoh-bodohnya!" lanjut Kirana.
"YAP! bener tuh, pakai topi kurucut, tas kantongan plastik, kaos kaki sebelah, permen-permen di leherlah, pokoknya macem-macem deh! Inilah.. itulah.."
"Pokoknya dalam tiga hari itu kita harus berpenampilan aneh, dan konon sih kata kakak gue MOS di SMA ini lebih parah, sumpah deh lebih parah dari MOS pada waktu kita SMP!" nada suara Diana meninggi.
Tok! Tok! Tok!
"Tasya?"
"Iya, Ma?"
"Mama pergi dulu yah,"
"Pergi mana, Ma?"
"Pergi arisan di.."
"Simpankan mobil satu untuk Tasya, Ma. Soalnya Tasya masih mau beli perlengkapan untuk MOS nanti!"
"Iya, iya.. nanti diantar kok sama Pak Herman! Mama pergi dulu yah sayang.."
Tasya mendengus.
"Kapan sih, pak Herman itu tidak mengantar gue lagi, dari kecil sampai gede pak Herman lagi, pak Herman terus!"
"Hahahaha.. lama-lama lo jadi anaknya pak Herman saking seringnya tuh sama-sama, bahkan lo pernah bilang kan? Kalau Papamu sendiri tak pernah mengantar atau pun menjemput kamu sekali pun, yang ada itu pak Herman yang setia, Sya. Apalagi yang nemenin ngambil rapor lo selalu kan pak Herman juga! Hehe," gumam Diana.
Bibir Tasya memanyun. Ia menekan-nekan pita di topi kerucutnya.
"Main basket yuk!" tegur Kirana.
"Ayoo!!"
"Ayo!"
Tasya kemudian melempar topi kerucut ke atas tempat tidur. Lalu mengambil bola basket yang ada dibawahnya.
"Mau bola yang mana nih?"
"Aduh! Gilaaa!! Pantesan lo anaknya kayak tomboi gitu, mana bola basket dari merek apa saja lo koleksi," kata Kirana.
"Hehe biasa ajah kali," Tasya, Kirana, dan Diana kemudian keluar dari kamar yang letaknya ada dilantai dua itu. Kemudian menuju ke halaman belakang yang sengaja di modifikasi sebagai tempat berolahraga. Sebagai tempat bermain basket. Tak jauh dari lapangan basket, kolam renang dengan kedalaman 3 cm berada disana. Area belakang rumah ini dikelilingi pohon-pohon hias. Serta anggrek-anggrek dari segala jenis menempel. Banyaknya Anggrek yang bertengger itu tidak lain dan tidak bukan adalah anggrek-anggrek kesayangan Nabila.
Tuk.. Tuk.. Tuk..
Ketiga cewek cantik ini tengah euforia bermain basket. Mereka bertiga telah lama bersahabat sejak SMP bahkan sekarang mereka akan melanjutkan persahabatannya itu ke jenjang Sekolah Menengah Atas dan telah terdaftar sebagai siswa kelas satu di SMA Insan Cendekia sekolah paling favorit remaja-remaja di kota Jakarta.
"Udahh ah... gue udah capek nih!" keluh Kirana.
"Dasar! Baru saja segini lo udah bilang capek!" Tasya menaruh kedua tangannya diatas pinggang.
"Suerr, Sya!" jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V dan menarik-narik napas.
"Huh! Nih tangkap!"
Tasya melempar bola basketnya ke Diana. Lalu mereka semua kembali ke atas kamar.
***
"Om, Tante.. kami berdua mau pamit yah!"
Kirana dan Diana menaruh tangannya dihadapan orang tua Tasya. Kemudian dengan takzim mencium punggung tangan Arya dan Utami.
"Oh.. udah mau pulang nih?" sapa Arya.
"Iya, om! udah malam nih, takutnya dimarahin Mama!!" balas Diana.
"Enggak nginap ajah?" sambung Utami.
"Hehe," Diana dan Kirana menggeleng malu-malu.
"Lain kali ajah tante! Hehe," Balas Kirana.
Kirana dan Diana berjalan hampir diambang pintu. Tasya lalu turun dari tangga dengan berlari-lari kecil.
"Ma! Buruan kunci?" Tasya menjulurkan tangannya ke depan wajah Utami.
"Kunci apa?"
"Yah, kunci mobil. Tasya mau ngaterin mereka, Ma!"
Arya dan Utami saling bertatapan. Dihati mereka masih ada keraguan dengan Tasya yang baru seminggu tahu mengendarai mobil.
"Ya udah.. ini, tapi ingat yah! Kalau pak Herman udah sembuh Tasya enggk boleh lagi bawa mobil!"
Tasya meraih kunci mobil.
"Loh kok gitu Ma?"
"Biar umurmu diatas 17 tahun dulu yak! Jangan membantah!"
Tasya berbalik badan dan menaikkan bibir ke atas.
"Ayo!" tegurnya kepada dua orang sahabatnya itu.
"Hati-hati yah! Jangan terlalu malam pulangnya!"
"Iya, Ma!" seru Tasya sambil menutup pintu mobil. Kemudian mobilnya melaju dengan kencang.
Alunan musik memenuhi ruang mobil mewah itu. Audi Sport hitam mengilat, melaju, menembus jalan-jalan besar Jakarta. Di kanan dan kiri jalanan disambut oleh bangunan-bangunan serba mewah dan mencakar-cakar langit. Lampu-lampu yang bertengger dimana-mana, selalu menerangi kota yang seakan tak pernah tidur. Tak lama perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah komplek perumahan.
"Dah! Tasya!" Kirana melambaikan tangan seusai menutup pagar besinya. Kemudian Diana juga turun di depan rumah yang berada tepat di sebelah kiri rumah Kirana.
"Hati-hati yah!" teriak Diana.
"Iya, aku duluaan yah.. awas loh jangan kesiangan bangunnya!"
"Siap bos!"

KAMU SEDANG MEMBACA
My Stupid Heart
Teen FictionPertemuannya dengan senior Bad Boy High Class bernama Farel Pranaja Agler membuat Tasya memasukkan seniornya itu ke dalam daftar orang yang paling ia benci di sekolah. Demikian pula dengan Farel yang sangat membenci Tasya sejak kecerobohan yang memb...