"Oke, anak-anak semuanya. Pentas akhir tahun tinggal beberapa bulan lagi, butuh persiapan yang matang agar pementasannya bagus dan mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya! Gimana? Kalian semua siap kan?"
"Siap lah bu!"
"Siap dong bu!"
"Yaiyalah, harus siap bu Frans!"
"Oke, kalau semua sudah siap, beberapa menit lagi kita akan mengadakan pembentukan sesuai peran kalian nantinya seperti apa dan bagaimana, edarkan absensi ini!" kata perempuan berkepala tiga itu sambil menyerahkan kertas bergaris ke Farel.
"Eh, kok lo yang nulis namaku?"
"Udahh, biar cepet!"
"Siapa lagi nih yang pengen tulis nama?" Farel melambai-lambaikan kertas diujung tangannya. Sementara Tasya terus memandangi cowok yang sedang duduk bersila disampingnya itu. Menciumi wangi parfum yang sedari tadi memenuhi ruang pernapasannya yang kadang membuatnya sesak. Tak hentinya ia memandangi Farel yang kadang sibuk meladeni teman-temannya.
"Eh lo kenapa?"
Farel menyambut tatapan Tasya yang sedari tadi mendarat. Tasya terperanjat. Ia tak bisa berkata-kata. Napasnya serasa tertahan di batang tenggorokan.
"Kenapa?" Tanya Farel sekali lagi. Ia menaikkan alisnya sebelah.
"Ah, nggak! Nggak!" Tasya memindahkan pandangannya ke depan sambil menggeleng.
"Lo juga mau tanda tangan gue? Foto bareng gue? Atau contact person gue?"
Tasya berbalik ke arahnya.
"Heeiii.. sorry yah, gue nggak sama sekali tuh ada niat kek gituan! Idihh.." Tasya bergidik.
"Oh, gitu.. okeiii, jangan nyesel kalau gue udah jadi artis yah!"
Tasya bergidik lagi.
"Ohiyaa, boleh gue nanya?"
"Boleh kok, kenapa?"
"Lo tadi bilang kan, kalau lo nggak suka nonton teater?"
"Yap! Bener!"
"Lah, terus lo ngapain mau main teater?"
"Yah, nggak!"
"Heran deh, jangan-jangan lo mau ngambil kesempatan dalam kesempitan lagi?"
"Maksud loh? Eh maksudnya, maksud kakak? Sorry yah aku baru sadar sedari tadi gue nggak panggil lo kakak lagi."
"Maksud gue, entar dipikiran lo kapan lagi sih main teater bareng calon artis, hehe.. Iya nggk apa-apa kalau nggak dipanggil kakak, santai ajah kali gue masih 16 tahun!" lanjutnya.
"Hmm.. nggak, nggak kayak gitu! Gini nih yah gue ceritaiin, dulu tuh waktu masih SD gue sempat ditunjuk untuk memainkan teater sama murid baru waktu itu, naskah udah dibagiin semua, dan kata ibu guru semua udah hapal naskahnya. Pokoknya sisa gladi bersih. Tapi tuh murid cowok mendadak hilang waktu kita ingin latihan, kata bu guru dia keluar kota dengan ibunya, apes banget kan tuh cowok? Parahnya lagi kita semua nggak jadi tampil, soalnya hanya satu cowok pemberani saja waktu itu, Cuma cowok yang pergi itu. nah disitu aku sedih jadinya, dan nggak mau nonton teater lagi. Apalagi kalau teaternya Cinderella. Udah deh sakit hati jadinya, hehe.."

KAMU SEDANG MEMBACA
My Stupid Heart
Teen FictionPertemuannya dengan senior Bad Boy High Class bernama Farel Pranaja Agler membuat Tasya memasukkan seniornya itu ke dalam daftar orang yang paling ia benci di sekolah. Demikian pula dengan Farel yang sangat membenci Tasya sejak kecerobohan yang memb...