My Stupid Heart 🍃 7

22 5 0
                                    

"Emang mau dibawa kemana sih,"

"Udah diem ajah!"

Tasya memulai percakapan saat keluar dari pintu kelas. Berjalan seperti asisten rumah tangga yang sedang mengikuti majikannya. Setiap kelas yang dilewati, ada-ada saja fans fanatik Farel yang menjerit-jerit. Menggosipi idolanya yang entah berjalan dengan siapa.

Tiba-tiba langkah Tasya terhenti. Ia memikirkan sesuatu yang pernah terjadi. Tentang orang yang berjalan di depan itu adalah orang yang pernah dibuatnya kesal akan kecerobohannya sendiri. Ia masih bertanya-tanya dalam hati.

"Apakah semua akan kembali menanam kebencian lagi? Kuharap tidak, aku tidak akan mau lagi menanam rasa benci. Tapi kalau dia? Apakah memang semua cowok begitu? Selalu berubah-ubah?"

"Woii, ngapain lo bengong disitu?" Tasya terperanjat.

"Mmh.. Nggak, nggk apa-apa!"

"Ya udah, ayo cepetan!" seru Farel yang segera membuat kakinya tergerak lagi.

Tasya berjalan cepat. Berusaha mendekati Farel dan mensejajarkan tubuh dan langkahnya.

"Kak?" sapa Tasya menoleh ke arah Farel. Ia hanya melihat hidung mancung dari arah samping, serta cambang dan kumisnya tumbuh hitam menipis di wajah yang amat putih berseri.

"Apa?" ia menaikkan sebelah alisnya. Nada suaranya sungguh tidak mengenakkan.

"Tadinya aku mau minta maaf, tapi sepertinya kakak masih marah," Tasya berhenti berjalan.

"Udah, nggak apa-apa. Gue udah dibeliin baju baru ama nyokap gue!" Tasya menyusul langkah Farel yang masih saja berbicara sambil berjalan.

"Apakah segitunya? Bukan kah kalau sudah di laundry bisa bersih kembali? Emang kotorannya kaga bisa hilang yah? Permanen yah?"

Farel tidak menjawab dan hanya menaikkan bahu.

"Ish! Ini anak kok gini amat yah!" cecar Tasya dalam hati.

Kemudian mereka tiba di salah satu bangunan panjang dan besar. Keduanya memasuki bangunan yang berlorong-lorong itu. Kemudian tiba di sebuah ruangan yang ukurannya lumayan besar.

Didalamnya banyak kursi yang berjajar bertingkat menghadap ke panggung yang ukurannya cukup luas. Belakangnya ada kain hitam yang membentang. Karpet, dan tirai penutupnya berwarna merah bermotif garis-garis emas.

"Loh, kok aku dibawa kemari?" Tasya berhenti di depan pintu sembari mengeja kata yang bertuliskan 'Ruang Teater' yang terpampang rapi disana. Ia melihat-lihat lagi keadaan sekitar yang dipenuhi siswa-siswi sibuk membawa peralatan-peralatan yang kayaknya sangat akrab dengan mereka.

"Ruang teater?" lanjut Tasya sekali lagi.

"Iya! Ayo masuk!" kata Farel yang kali ini berhadapan dengan Tasya.

"Nggak ah!"

"Loh kenapa?"

"Nggk suka nonton teater!"

"Nggk nonton," kata Farel sesekali melihat ke dalam.

"Terus ngapain? Membersihkan toilet lagi?"

Farel berhenti memandangi sekitar dan segera menjatuhkan pandangannya ke cewek cantik yang ada dihadapannya saat ini. Kemudian tertawa.

Tasya yang menyaksikan Farel tertawa itu rupanya membawa suasana berbeda di hatinya. Ia menemukan ada yang hancur ketika ia tertawa. Kekakuan memecah lagi. Yah perasaan bersalah itu seketika luruh ketika tawanya meledak.

Tasya merasa bahagia dalam hati. Ia yakin kalau kesalahannya tak begitu mendarah daging. Ia merasa Farel tidak menjadi cowok dingin lagi. Ia kemudian terus menyaksikan suatu adegan yang pernah ia temui sebelumnya. Tawa yang sama saat di lapangan basket. Tawa yang menghanyutkan itu terus ia nikmati.

"Lalu lo masuk, seketika itu ada kecoak, kemudian gue datang, lalu lo menabrakku, dan gue terjatuh? Hahahahahaa," Farel tak kuasa menahan tawanya. Ia terpingkal-pingkal.

"Lalu gue merasa bersalah, mengejarmu, meminta maaf yang sedemikian banget mahalnya itu, bahkan gue tak mendapatkannya sampai detik ini? dan lo puas?" Tasya menjulurkan kedua telapak tangannya tepat didepan dada Farel lalu mendorongnya agak keras. Tasya berbalik badan, kemudian memejamkan mata dan tersenyum beberapa detik.

Ia mengangkat kaki dan berlari meninggalkan kakak kelasnya itu. Kemudian Farel mengejarnya. Terlihatlah pemandangan seperti kucing jantan mengejar betinanya. Tasya terus berlari meski ia tahu, kalau ia pada akhirnya akan kalah. Farel mendapatnya dan menarik tangannya erat-erat. Tidak lain hanya ingin memaksa langkah Tasya untuk berhenti.

"Hei," Farel berhenti dibelakangnya setelah tangan itu berhasil diraih dan Tasya yang sudah berhenti. Ia menghela-hela napas. Tangan mulus itu masih digenggam.

"Gue minta..."

"Gue yang minta maaf!"

"Gue maafin!"

Tasya berbalik badan. Melepas pegangan Farel.

"Serius?"

"Serius gue capek ngejarmu!"

Tasya membangunkan tubuh Farel yang sedari tadi membungkuk seperti orang rukuk.

"Serius?"

"Iya serius! Gue orangnya baik!"

"Makasih," seru Tasya dengan mata berbinar.

"Iyap!"

"Eh, itu!"

"Itu apa?"

"Dasi mu miring!" Tasya memperbaiki dasi Farel yang tidak lagi rapi. Farel memandangi Tasya lalu meneguk ludah dalam-dalam. Ia merasa tersentuh akan kecantikan adik kelas yang sedang berada di hadapannya saat ini.

"Nah, kan udah rapi!" Tasya menarik tangannya kembali. Farel menjemput senyum.

"Eh, rambutmu kusut!" Farel mendaratkan telapak tangannya yang halus itu di atas kepala Tasya. Kemudian menghambur-hamburkan rambutnya.

"Hei, lo ngapain! Ish.." Tasya memegang pergelangan Farel dan mengembalikannya.

TIT!

Nada handphone Farel berbunyi. Ia lekas mengambilnya di saku celana. Dilihatnya ada pesan singkat masuk.

Ibu Fransiska P : Farel, Kamu dimana?

Farel P. Agler : Di depan ruangan Seni Rupa, bu!

Ibu Fransiska P : Udah nemuin orang nggk?

Farel P. Agler : Udah, kok bu! Udah ada, tenang ajah.. hehe :D

Ibu Fransiska P : Ya udah, klo udah buruan kesini!!

Farel P. Agler : Oke,oke bu! I'm coming!

Farel memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana abu-abu. Kemudian melihat Tasya yang masih saja menyisir rambutnya dengan jari-jari.

"Ayoo!"

"Kemana?"

"Yah, ke ruang teater tadi!"

"Ah, nggak.."

"Kenapa?"

"Udah aku bilangin kan, gue nggk suka nonton teater!"

"Kalau main teater?"

"Main teater? Kok gue sih? bukannya anak seni ada banyak yah? Lagian gue bukan anak teater!"

"Ayolah please.." Farel meraih tangan Tasya yang sedari tadi hanya dimainkan. mendekatkan wajahnya tepat dihadapan wajah Tasya. Sangat dekat, sambil menaik-naikkan kedua alisnya.

"Ayolah, Sya! Please.." Farel pikir ia akan butuh tenaga ekstra untuk membujuk Tasya agar mau ke ruang teater. Tetapi rupanya tidak, Tasya mengangguk setuju. Meski belum ia tanyakan apa maksud dan tujuan Farel mengajaknya bermain. 

My Stupid Heart Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang