05

10 0 0
                                    

Selamat malam tim, besok kita rapat ya! Terimakasih -ketua tim (Andra)- .

Begitu bunyi pesan dari ketua tim yg mengharuskan Reina pagi ini ontime untuk ke kantor.

Meskipun tanpa pesan itu juga Reina tidak akan telat.

"Mbak sus saya berangkat ke kantor ya" pamit Reina kepada mbak sus.

"Iya bu hati-hati"

Seperti biasa naik busway. kendaraan yang di naiki Reina untuk berangkat kantor.

Bagus : Rei udah dimana?

Bagus : Mau bareng ga?

Pesan dari Bagus masuk saat Reina baru saja memasuki busway.

Ntah dapet bisikan dari mana Bagus berani mengirim pesan kepada Reina yang menurutnya Reina sudah memiliki suami.

Pesan sudah terkirim Bagus rela jika harus di labrak oleh suami Reina. Karena dia tau, dia tidak tau diri.

Reina yang dikirimi pesan oleh Bagus seketika menganga saat membacanya. Apa Bagus salah saat mengirimi pesan. Harus kah di balas atau jangan.. perang batin Reina hanya untuk sebuah pesan, sungguh ironi.

Memandangi pesan Bagus hingga Busway berhenti tepat di halte sebrang kantornya, itu artinya dia sudah sampai.

Akhirnya Reina turun dan mengabaikan pesan dari Bagus.

*****

Wass wees woos wass wees woos....

Desas desus heboh saat Reina akan memasuki kantornya sayup sayup terdengar.

"Ada janda cantik dikantor kita vroh"

"Ah yang bener lu, jangan ngarang"

"Siapa emang? Mbak lisa? Si chaki? "

"Ga tau juga gua, yang pasti cuma satu"

"Penasaran gue"

Seolah tau siapa yang menjadi obrolan, dan beruntung mereka tidak tau yang janda itu adalah Reina.

Reina melenggang masuk ke dalam kantor tanpa menghiraukan para karyawan yang bergosip tadi. Yang di ketahui salah satunya adalah kevin karena tadi dia menyebut 'chaki' julukan yang di berikannya untuk mbak resepsionis.

"Eh,, Reina udah nyampe aja" sapa Kevin ketika Reina lewat dan seolah tidak melihat kehadirannya.

"Hai, Kev" jawab Reina.

"Mau ke ruangan ya, bareng yuk" ajak Kevin.

"Mari" jawab Reina mengiyakan.

Mereka berdua berjalan dengan diam sampai di ruangan.

Sudah ada Bagus dan Andra di dalan ruangan.

'Lah ini dia sudah disini, Dan tampangnya biasa aja gitu, berarti tadi emang salah kirim' batin Reina yang melihat Bagus tanpa ekspresi.

"Gus tau ga loe di kantor kita ada janda"

Lagi-lagi Kevin bersuara,mendengar itu ntah kenapa Bagus tertarik, mungkin saja yang janda itu Reina, setan dalam tubuhnya mulai bereaksi jahat.

"Siapa emang Vin" jawab Bagus.

"Gue juga ga tau" jawab Kevin dengan cengiran khasnya.

"Lah terus tadi itu pernyataan apa pertanyaan Vin, kalo pertanyaan harusnya loe Kasih tanda tanya di pernyataan loe" gemas Andra menimpali.

"Sewot sih bos, gue juga penasaran soalnya" jawab Kevin sambil mengetuk dagunya seperti orang yang sedang berfikir.

"Loe cari tau dulu Vin, kali aja janda itu sesuai ekspetasi gue" jawab Bagus yang sepertinya tidak sadar akan perkataannya.

Mendengar pernyataan Bagus membuat semuanya di dalam ruangan itu pelempar pandangan mengisyaratkan 'maksud Bagus apaan sih'.

"Maksud loe Gus?!" Akhirnya Kevin mewakili suara hati teman-temannya

"Hah. Apaan Vin. Emang gua ngomong apaan?!" Yang ditanya malah balik tanya, menurutnya dia ngomong dalam hati tadi lantas kenapa si Kevin bisa dengar, meskipun benar tadi itu untuk Kevin pertanyaannya.

"Lah lu, ditanya malah balik nanya. Maksud lu gua suruh cari tau, emang sapa yang lu pinginin jadi janda?!"

Sontak pertanyaan Kevin mbuat Bagus beku. Belom tadi dia sempat bisa menetralkan rasa malunya karena pesan tadi pagi sekarang apa yang harus dia perbuat.

"Lah sekarang malah bengong lagi".

"Udah yuk Dimas udah dateng nih. Kita ke ruang rapat sekarang". Intruksi Andra.

Andra bak seorang penyelamat bagi Bagus.

" nah iya, yuk rapat" ajak Bagus beranjak dari kursinya dan mendahului rekannya ke ruang rapat.

Respon Bagus tadi sempat membuat jantung Reina memompa cepat. Siapa sebenarnya yang Bagus inginkan menjadi Janda. Apakah dirinya. Sungguh rumit.

****
"Ya udah kita mulai saja ya, jadi saya mau bagi tugas kalian masing-masing" ucap Andra.

"Buat Kevin dan Dimas kalian bertugas buat nemuin klien, sedangkan Reina bertugas nerima keluhan klien via email ataupun telfon, buat Bagus kamu bertugas buat presentasi ya" Tambahnya.

"Nanti saya kordinir kalian dan bantu -bantu juga" tambahnya lagi.

"Gimana ada yang mau ditanyakan". Tanya Andra kepada semua tim.

"Pak Andra emangnya sudah ada klien ya?!" Tanya Kevin.

"Klien si belum karena kata pak Toni kita mulai hari ini" jawab Andra.

"Oiya, misalnya ada klien yang minta khusus gitu siapa yang jadi pengarahnya bisa jadi Bagus yang dateng ke klien. Ga harus juga Kevin dengan Dimas yang berangkat" imbuhnya.

"Oh gitu, oke gue setuju aja" jawab Dimas.

"Nah jadi Rei, stanby ya jangan sampai keluhan klien ada yang kurang dari catatan kamu, karena nanti pas ketemu klien kita udah punya solusi nya". Ucap Andra.

"Siap pak" jawab Reina.

"Paham Gus?!" Tanya Andra.

Yang ditanya dari tadi tidak fokus pada rapat, tapi fokus pada Reina. Dan jawaban Andra hanya ditanggapi dengan anggukan -anggukan yang dari tadi dia pasang sebagai alih-alih saat memandang Reina.

"Gus, saya di sini Gus. Kok kamu angguknya ke Reina?! " ucap Andra.

Sontak perkataan Andra membuat Bagus sadar dan juga Reina yang dari tadi tidak sadar dengan tingkah Bagus karena dia sendiri sedang fokus pada rapat.

"Ah, iya pak. Siap" jawab Bagus sekenanya.

Andra hanya menanggapi dengan geleng-geleng kepala.

Andra yakin jika Bagus memiliki rasa terhadap Reina.

"Ya sudah kalau gitu kembali ke ruang kerja sekarang, semoga hari ini ada klien" timpal Andra menutup rapat pagi ini.

Lagi kurang bersemangat, dan sepertinya tulisan ku gaje -_-

Maafkan buat yang membaca.
Nanti alan diupdate, insyaallah Bagus.

Salah dimata kamu itu biasa,
Tapi salah dihati kamu gak akan bisa -Kevin Genius-

Tak Lari Jodoh Ku KejarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang