"Mbak, senyum donk!" Farhan memang kurangajar luar biasa. Adik lelakiku satu ini tiba-tiba semalam mengajakku untuk datang ke pernikahan temannya. Padahal dia punya pacar, tapi malah memilih untuk mengajakku.
Dasar! Aku menarik sedikit sudut bibirku, mencoba tersenyum yang justru terlihat seperti sebuah sinisan. Farhan mengerucutkan bibirnya. Manis sekali. Seandainya dia tidak menyebalkan, aku pasti tanpa sungkan akan mencium pipinya bertubi-tubi.
"Kamu niat banget ngerjain Mbak, Han." Farhan merangkul pinggangku saat kami mengantri masuk ke dalam gedung.
"Pacarku 'kan ada acara keluarga, Mbak. Nggak enaklah kalau tiba-tiba kusela buat nemenin kondangan."
"Dan mbak juga banyak lembur kali minggu ini. Kamu justru lebih tega lho sama Mbak."
"Kok ngomongnya gitu," protes Farhan sambil mengeluarkan undangan untuk diperiksa petugas sebelum mempersilahkan kami masuk.
"Mbak juga capek, Han." Farhan menggiringku menuju kerumunan pria seumurannya yang tengah berkumpul disisi gedung, "kamu 'kan bisa datang sendiri seperti teman-temanmu itu." Aku mencebik saat melihat Raka berdiri diantara mereka.
"Nggak ah, Mbak. Entar aku digodain lagi kalau nggak bawa gandengan."
"Narsis banget ya si Adek." Farhan tersenyum kecil sambil melambai pada teman-temannya.
"Bawa siapa, Han?" Salah seorang teman Farhan yang berwajah bule menatapku dengan senyum lebar.
"Kakak gue, Mbak Anya." Aku tersenyum sekedar, menyalami mereka berempat termasuk Raka.
"Cantik bener. Sudah punya pacar, Mbak?"
"Nggak usah godain kakak gue pe'ak!" Farhan berseru kesal sambil mengeratkan rangkulannya pada pinggangku. Bocah ini, sudah tahu posesif akut, tapi masih nekat saja mengajakku kesini.
"Mbak Anya ini yang satu kantor sama Pak Bos kita?" Teman Farhan yang lain menunjuk Raka yang diam saja sambil menyesap minuman entah apa dari dalam gelasnya.
"Iya. Tapi, beda divisi gitu, sih," jawab Farhan. "Mbak mau minum apa," alihnya kemudian untuk menawariku minuman.
"Orange jus." Farhan melepas rangkulannya dan berjalan menuju meja minuman. Setelah sebelumnya mengultimatum teman-temannya untuk tidak menggangguku.
"Tumben nggak lembur, Mbak." Raka tahu-tahu menyentakku dengan suaranya.
"Iya." Raka membenarkan sedikit letak kacamatanya. Dari samping, aku dapat melihat hidung Raka yang benar-benar mancung dan jambang serta kumis tipisnya dari sisa bercukur.
"Nih!" Farhan kembali sambil mengangsurkan segelas orange jus padaku.
"Mau salaman kapan nih sama mantennya?" Farhan kembali merangkul pinggangku. Hah... biarkan sajalah. Suka-suka si Adek.
"Sekarang gimana? Mumpung si Raka belum kebakaran jenggot."
"Ha...ha...ha..., Lo kuat iman bener, Ka. Mantan nikah masih mau diundang kondangan."
Heh?
Aku menatap Raka yang juga menatapku. Dia terlihat begitu santai. Seolah-olah apa yang diucapkan temannya tadi bukanlah masalah besar.
"Salaman dulu ya, Mbak, baru makan!" Aku mengangguk saja. Mengikuti langkah Farhan menuju panggung resepsi. Tepat dibelakangku berdiri Raka dengan aroma parfumnya yang menguar kuat.
"Munduran dikit, Ka," kataku tidak nyaman. Raka diam saja, tidak bergerak selain maju ke depan ketika antrian semakin maju.
"Mbak pendek." Aku mendengus.
"Kamu yang ketinggian," balasku sebal. Aku menarik bagian belakang kemeja Farhan dan merapatkan tubuhku padanya. menghindari Raka yang semakin dekat saja. Risih!
"Lain kali jangan pakai sepatu kayak gitu, Mbak!" Aku menoleh kebelakang yang kemudian benar-benar kusesali karena wajahku justru membentur dada Raka dan membuatku mau tidak mau menghirup wangi parfum bercampur feronomnya yang mengganggu. "Maju!" Raka mengabaikan wajahku yang menatapnya datar dan mendorongku ke depan.
"Selamat ya, Dito, Santi!" Farhan tersenyum cengar-cengir sambil menyalami sepasang pengantin dengan pakaian adat Minang itu.
"Selamat, ya," kataku ikut menyalami mereka.
"Pacar Lo, Ka?" Wanita yang dipanggil Santi oleh Farhan tersenyum lebar kearah Raka sambil menunjukku.
"Sembarangan, kakak gue ini." Farhan misuh-misuh sambil menggandeng lenganku.
"Kirain, Han."
"Sayang, sudah deh, kamu jangan baper gini!" Suami Santi itu hanya terkekeh sambil mengelus lengan isterinya.
Hadeh... heran, bagaimana mereka bisa sesantai itu?
"Ini juga lagi usaha, San. Doain sajalah!" Raka menyahut santai dan menepuk pelan pundakku, menyuruhku untuk segera jalan.
"Lo nggak naksir kakak gue, kan?" Farhan membuatku gagal menelan siomay yang sedang kukunyah.
"Kenapa?" Raka menaikkan sebelah alisnya.
"Ya nggak bolehlah! Gue nggak mau punya kakak ipar model, Lo." Farhan bersungut-sungut.
"Ribet amat, Lo." Raka memakan sate dipiringnya dalam diam.
"Mau pulang kapan, Han?" Aku meletakkan piring kosongku keatas meja.
"Bentar, ya! Aku cari temanku dulu buat pamitan." Farhan pergi begitu saja, melupakan Raka yang saat ini masih berdiri disampingku. Aku menghela nafas. Rasanya tidak nyaman. Maksudku,, memang selama ini aku tidak pernah merasa nyaman berdekatan dengan lelaki manapun diluar konteks keluarga.
Kami sama-sama diam. Bingung juga mau membuka pembicaraan apa. Aku bukan tipe yang dengan mudah akrab dengan orang dengan pembicaraan-pembicaraan ringan seputar cuaca.
"Mbak!"
"Ya!"
Raka memperhatikanku begitu saja. Intens dan membuatku tanpa sadar menjadi merona. Sialan. Pipiku mendadak menjadi panas. Udara disekitarku menyusut dan rasanya benar-benar tidak nyaman. Aku berdehem untuk menetralkan suasana. Tapi, seperti ya tidak berhasil. Karena, Raka masih tetap bergeming. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi, sampai saat Farhan datang dan merangkul bahuku untuk mengajakku pulang.
Aku bahkan tidak mau mendengar saat Farhan berpamitan pada raka, karena pada detik itu yang kuinginkan hanya segera pergi. Menjauh sejauh mungkin.
(*)
Lama ya? Biarlah.. org nulisnya juga disela-sela aktivitas hhhaaa....
Makasih lho yang udah mau baca. Diusahan diperbaiki ya buat part selnjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bad Romantis
ChickLit#2 in agegap (23/11/2018) (REPOST) Nggak ada yang salah dengan hidup Anya selama 27 tahun terakhir, kecuali, nggak punya pacar. Dua puluh tujuh tahun hidupnya dan Anya masih betah pegang rekor jomblo abadi. Padahal, Risti-adik perempuannya yang ti...
