Seminggu di Jogja kupikir bisa sekalian refresing. Tapi, kenyataannya klien kami kali ini benar-benar perfectionis. Semua harus serba sempurna. Berkali-kali tim mengajukan desain yang sekiranya cocok dengan keinginan mereka; berkali-kali pula mereka menolak dan meminta desain ulang.
Menyesap kopiku yang setengah dingin sambil melihat progres pekerjaan agaknya hanya buang-buang waktu dan menunda jam pulangku malam ini.
Alamat molor lagi.
Riweh. Apalagi Mama semakin hari, semakin protes dengan jam kerjaku yang katanya sudah tidak manusiawi lagi.
Like I care! Tapi, aku memang harus peduli'kan?
"Lembur lagi, Nya?" Lha, Pak Andra tina-tiba saja sudah berdiri di depan meja kerjaku. Kapan orang ini masuknya coba? "Malah bengong." Dia menyentil pelan keningku.
"Sakit, Pak," aku mengusap bekas sentilannya sambil menggerutu, "Kayaknya saya bakal nyerah saja kalau sekali lagi klien minta perubahan desain."
"Jangan nyerah, donk!" Gampang banget si bos ngomongnya. Seolah-olah pekerjaanku cuma menyiangi daun toge. "Itu namanya tantangan, Nya. Yo need it. Percaya deh, kalau kamu bisa melewati ini, besok-besok kamu bakal bisa raih step yang lebih tinggi lagi."
Step yang lebih tinggi gundulmu, Pak!!!
Aku memdengkus, "Saya cuma butuh lari dan jadi editor majalah desain saja, Pak. Seenggaknya nyinyirin karya orang lebih asyik, ketimbang denger orang nyinyirin karya sendiri."
"Ngawur." Pak Amdra menyambit kepalaku sambil tertawa geli.
"Saya berasa goblok banget ini, Pak. Padahal anak-anak sudah lembur berhari-hari buat ngerjain ini, tapi masih belum ketemu juga jalan keluarnya." Aku mengeluh seolah-olah dunia ini akan kiamat besok. Pak Andra menaikkan sebelah alisnya, membuat gesture yang sungguh menggoda iman.
Kalau saja pria ini belum beristri.
Eh, kok gue kedengeran kayak pelakor, ya?
"Well, Nya, you can do it. Saya percaya kamu, karena kamu salah satu desainer terbaik yang saya punya." Hayati berasa terbang ke awang-awang. "Semangat lembur ya, Nya!" Lalu dihempaskan dalam kecepatan menakjubkkan. Bugh... dan seketika punggung Hayati patah.
Aku lemas.
Pak Andra pergi begitu saja setelah melempar satu senyuman mautnya lagi. Dasar Pak Bos gendeng. Untung cakep. Lha korelasinya apaan?
Korelasinya, cowok cakep selalu benar. Dan cewek beriman tipis kayak aku cuma kebagian nrimonya doang.
Sekarang sudah pukul tujuh lebih lima belas.
Sepertinya kantor juga sudah sepi. Paling-paling cuma tersisa Karyo, si satpam genit berkumis tipis.
Hah... kayaknya malam ini aku benar-benar musti lembur.
Nasib-nasib.
###
Aku tidak tahu takdir apa yang melingkupiku dan Raka. Ini sudah kesekian kalinya aku harus terjebak dengan Raka berduaan dalam situasi canggung.
Saat kupikir tadi aku akan sendirian di kantor, anak ini tiba-tiba muncul sambil membawa secangkir kopi. Menungguiku mengerjakan pekerjaanku dengan anteng. Mengambil tempat di depanku, seolah-olah dia sudah terbiasa melakukannya dan seolah-olah apa yang dia lakukan tidak akan mengacaukan konsentrasiku.
"Kamu nggak pulang?" Pengusiran halus kesekian yang coba kulakukan.
"Nggak. Saya nungguin Mbak saja."
Aku meliriknya keberatan. Raka bergeming, tetap sibuk bermain ponsel.
"Kamu bawa motor lho, Ka. Sedangkan saya bawa mobil."
"Saya laki-laki, sedangkan Mbak perempuan."
Aku mendengkus, kehabisan kata-kata.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar bunyi tuts keybord yang kupencer dan derik jarum jam.
Masa bodohlah!!! Lagian, aku juga tidak memaksa dia menemaniku, jadi nggak perlu merasa nggak enak.
Inginnya sih begitu. Tapi, sialannya jantungku malah berdebar nggak karuan. Dag...dig...dug... gitu saat Raka berhenti bermain ponsel dan menatap kearahku yang baru saja mematikan laptop.
Hanya ditanya, "Sudah selesai?" aku jadi berharap banyak.
"Sudah." Aku menyandang tas ranselku sambil bangkit berdiri. Raka ikut bangkit. Kami berjalan keluar bersama-sama. Dia masih sediam tadi.
"Hati-hati, Mbak," katanya setelah kami sampai diparkiran. Aku mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil.
Raka terlihat anteng sambil menungguiku menyalakan mesin. Rasanya ini nggak benar. Dia tidak harus seperti itu. Maksudnya, perlakuannya itu lho.
Bikin frustasi...
Aku menghela nafas. Memasukkan porsneling sebelum menginjak gas dan meninggalkannya. Melirik kaca spion, Raka masih berdiri anteng disamping motornya. Menatap mobilku yang mulai menjauh.
Tiba-tiba saja aku jadi megap-megap. Rasanya sesak, tapi kok nyaman, ya?
###
20 Januari 2018
09.54
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Bad Romantis
Romanzi rosa / ChickLit#2 in agegap (23/11/2018) (REPOST) Nggak ada yang salah dengan hidup Anya selama 27 tahun terakhir, kecuali, nggak punya pacar. Dua puluh tujuh tahun hidupnya dan Anya masih betah pegang rekor jomblo abadi. Padahal, Risti-adik perempuannya yang ti...
