Sial

60 7 6
                                        

-karena kita musuh, bukan berarti aku bisa membiarkanmu begitu saja-

—Dion

•••

"Shit! Gue kesiangan" gerutuhku sembari berlari menuju gerbang sekolah.

Sudah terlihat jelas pak Jajang akan segera menutup gerbangnya karena jam sudah menunjukan pukul tujuh lebih.

"Pak jangan ditutup dulu gerbangnya!" teriakku sembari terus berlari.

"Eh neng Syila" Ujarnya setelah selesai menutup sempurna gerbang sekolah
"Tumben siang neng"

"Ah pa,, bukain gerbangnya dong" oke, aku mulai memelas pada pa Jajang. Jujur ini bukan tipe aku banget.
"Telatnya cuman 5 menit kok pa"

"Kalo telat mah ya telat aja atuh neng. Mau semenit kek, tiga menit kek, apalagi neng yang telat lima menit ya jelas gak boleh masuk. Udah peraturan sekolah" aku hanya bisa mengerucutkan bibir dan menuju bangku di pinggir pagar seraya menunggu keajaiban datang

2 menit..

4 menit..

7 menit..

Arrggg!!

Tujuh menit menunggu keajaiban yang tak kunjung datang membuatku bingung sendiri.

Jika aku kembali ke rumah sekarang juga, mamah pasti akan menanyakan hal yang tidak-tidak.

Tapi jika aku menunggu terus disini, sudah terbayang pikiran orang lain yang mengiraku apalah.

"Tumben lo kesiangan"

Seseorang dengan suara berat yang menghentikan lamunanku sudah tepat berada di hadapanku saat ini.

"Dion?" Tanyaku untuk memastikan bahwa cowo di hadapanku ini benar-benar Dion–si pengacau hidupku.

"Mau gue bantuin biar bisa masuk ga?" Tanya baliknya dengan tatapan tajam dan senyum jailnya.

"emang lo bisa?" tanyaku sama sekali tidak yakin

"Ha! lo pikir gue masih bisa berkeliaran di sekolah padahal udah jam 8 karena apa?" balik tanyanya sembari menaikkan sebelah alisnya

"Karena lo hobi bikin guru pusing dan dengan mudahnya mempersilakan lo masuk" jawabku enteng

"Nah itu lo tau" Jawabnya dengan nada penuh keangkuhan "Jadi, mau masuk bareng gue atau diem disini, trus di alpa-in sama absensi?"

Sialan, terjebak diantara dua pilihan yang akhirnya akan membunuhku

"Gak mau? Oke gue duluan" spontan aku berlari kecil menyesuaikan diri dengan kecepatannya berjalan.

"Gue ikut, tapi jangan bikin gue kena masalah"

"Bisa diatur"

•••

Perlahan tapi pasti, Dion berjalan dengan mantap di depanku. Entah kemana ia akan membawaku masuk ke sekolah tercinta ini.

"Lo mau kemana sih,Yon?" tanyaku yang mulai kesal melihat Dion yang berjalan tanpa tujuan.

"Lah, katanya elo mau masuk kelas. Yaudah gue bantu." Jawabnya santai, "Udah di bantu malah sewot. Dasar cewe" gerutuhnya sembari terus berjalan.

Akhirnya kami sampai di depan gerbang kecil belakang sekolah.

Dengan perlahan Dion membuka gerbang tersebut dengan kunci ditangannya.

"Eh, sejak kapan lo bisa buka ni gerbang?" Tanyaku penuh selidik. "Apa jangan jangan lo–"

"Sok curiagain gue terus silahkan" sambung Dion cepat. "Sebadung apasih gue sampe semua orang mikir gue tuh inilah itulah"

"Pikir sendiri" balasku cuek

Hening seketika, tapi untunglah tidak terlalu lama kami terjebak di pikiran masing-masing, gerbang kecil yang sedaritadi berusaha dibuka oleh Dion akhirnya terbuka dengan lebar.

Tidak ada sepatah kata dari Dion, hanya berupa gerak tubuh yang ia lakukan agar aku segera masuk ke dalam lingkungan sekolah. Tanpa basa-basi lagi, aku melewati gerbang menyusul sialan, Dion.

"Lo yakin aman, Yon?"

"Lo meragukan gue Syil?"

Lagi, aku hanya bisa mengerucutkan bibir mendengar respon Dion.

Langkah kami semakin cepat, takut-takut guru piket melihat kami masih berkeluyuran pada jam pelajaran sudah berlangsung. Bagaimana dengan reputasi yang ku jaga selama ini?

"Kalian—"

Spontan, aku dan Dion menengok kebelakang.

Shit! Sial lagi, guru piket super killer sudah menyandarkan tangannya di pinggang. Habis riwayat seorang Asyilla.

"Ngapain kalian masih berkeliaran? Kamu lagi Syilla, ngapain ikut-ikut si badung Dion? Mau reputasi kamu jadi jelek?"

"Eh, emm, anu pak. Syilla tadi.., hmm.., anu. Duh gimana ngomongnya ya pak?" Sumpah deminya, mau ngomong aja susah. Tolong Syilla Tuhan...

"Ngomong aja ga jelas, gimana masa depan kamu syilla?"

Taek sumpah ni guru, apa yang bapak ucapkan itu dalem Pak.

"Dia bantu saya di UKS Pak, tadi saya jatuh dari motor, terus minta tolong dia karena tinggal dia yang belum ke kelas" Ucap Dion santai "Kalau hukum, hukum aja saya pak"

Alibi yang sempurna, Pak Gino—Guru piket tadi langsung percaya dengan ucapan Dion.

"Yaudah, kalian masuk ke kelas sekarang!"

Tanpa pikir panjang, kami langsung meninggalkan pak Gino yang masih terlihat kesal oleh sikap kita, Atau Dion mungkin(?)

"hm yon" gumamku ditengah keheningan "makasih ya"

Dion yang sebelumnya berjalan dengan cepat, tiba-tiba menghentikan langkahnya

"Apa syil? Gue ga salah denger kan?" responnya sembari menatap lekat mataku.

Dapat kulihat dengan jelas, kilauan matanya yang berwarna coklat gelap membuatku membalas tatapannya lebih dalam.

"bisa diulang?"

Akhirnya kalimat singkat itu memecahkan lamunanku.

"ish, apaan sih yon. Udah baik gue udah bilang makasih" setelah mengucapkan kalimat ini, segera aku berlari kecil meninggalkan Dion yang masih mematung ditempat.

"Cielah, sok-sokan ngambek" teriak Dion sembari menyusulku berlari.

Akhirnya kami saling kejar sampai depan kelas. Malu, karena aku masuk ke kelas masih dengan berlari kecil.

Langsung aku menghentikan langkah dan Dion yang masih berlari di koridor menubruk tubuh kecilku yang masih berdiam diri di depan pintu.

Brug!

Sekelas langsung menatap ke arah kami.

"alah yang abis kejar-kejaran di koridor" kompor Rachel dari bangkunya langsung disambut dengan sorakan teman-teman sekelasku.

Dan sudah dapat dipastikan.

GUE MALU.

--------
Haha, berapa lama gw ilang?

Itung sendiri lah ya..

Maklumin ae gw yg lg sibuk"nya.
*)gw sok sibuk emang

Tapi ini beneran gw lagi sibuk, entah ngurusin tugas, ekstra, atau mungkin ngurusin doi yg ilang-ilangan terus.

Udah dulu weh ya, gw tau kalian jijik liat notes ini

See you,
Syif.

WhyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang