1. Emelly Kayden

26 0 0
                                        

"Maaf aku terlambat" Emelly melangkah dengan cepat masuk ke toko bunga miliknya.

"It's ok" Ashley  tersenyum lebar dengan mata berbinar yang sedari tadi menunggu boss nya itu.

"Tapi aku hampir telat 1 jam dari janji" Emelly memasang wajah menyesal. Dia menaruh beberapa paperbag yang dia jinjing di atas meja.

"Hey, kau itu bos nya"

"Jangan pernah katakan itu Ashley, kita adalah patner"

Ashley tersenyum mendengar betapa baik nya Emelly. Emelly memang baik. Emelly sudah menganggap Ashley sebagai adiknya sendiri. Ashley di izinkan untuk tinggal bersama nya. Tak ada sewa rumah, tak ada pengeluaran untuk makan. Emelly yang menanggung semuanya. Ashley mendapat gaji bersih.

Ashley bekerja dari siang hari sampai malam. Pagi dia harus kuliah. Biasanya Emelly selalu ada di toko bahkan sampai tutup toko. Tapi akhir-akhir ini Emelly di sibukkan persiapan pernikahannya.

"Lihat apa yang aku bawa" Emelly mengeluarkan sesuatu dari salah satu paperbag nya.

"Oh, my Jesus, aku sangat menyayangimu Emelly. Kau bisa tau apa yang sekarang ingin aku makan". Ashley segera bangkit dari tempat duduk nya dan menghampiri Emelly yang sedang menata sushi dan wasabi di piring.

"Kau yang terbaik Emelly" bisiknya lalu mengambil satu roll sushi dengan tangannya.

"Kau jorok sekali" Emelly protes.

Ashley hanya mengedipkan sebelah mata dengan mulut yang terisi penuh. Sushi memang makanan Jepang yang paling lezat.

Emelly mengedarkan matanya ke sekeliling penjuru ruangan, sepertinya ada yang aneh. Ada yang hilang. "Ashley, kau memindahkan sebuket mawar putih ku yang ku letakkan di depan jendela?"

Dengan cepat Ashley menenggak segelas air putih untuk membantu mendorong paksa makanan nya yang penuh di dalam mulut untuk masuk ke kerongkongan. Butuh hampir 1 menit ia berjuang untuk menyelesaikan tuntas makanannya untuk masuk ke kerongkongan. Ada hal penting yang harus ia katakan dengan cepat.

"Ada apa? Makan lah pelan-pelan"

"Aku sudah menjual nya, dan -"

"Apa?? Kau menjualnya??" Emelly menyela kata-kata Ashley, membuat Ashley bingung padahal ada hal yang ingin ia sampaikan. Ashley menjawab dengan anggukan.

"Oh tidak, itu adalah pesanan Mrs. Linch. Oh, apa yang harus aku katakan nanti jika ia datang Ashley?" terdengar nada ketakutan dari Emelly.

"Apakah yang kau maksud Mrs.Linch yang cerewet itu?? Jika benar habislah kita"

"Bagaimana bisa kau menjualnya?" Tanya Emelly dengan nada tinggi.

"Kau tak memberitahuku apa-apa" Ashley mencoba membela diri. Dia tak merasa bersalah dalam kasus ini.

"Kau benar, aku lupa memberitahukanmu" kata Emelly kembali dengan suara biasa.

Tak seharusnya dia membentak Ashley, ini adalah kelalaiannya. Telepon dari Bryan yang tiba-tiba menyuruh nya datang ke butik untuk fitting baju pernikahan, membuat dia lupa memberitahukan sisa 1 buket mawar putih pesanan Mrs. Linch.

Mrs. Linch pelanggan tetapnya, bahkan dia salah satu pemegang member discount 10%. Dia memang wanita aneh. Cerewet dan perfeksionis.

"Aku akan menelponnya sekarang" Emelly segera menelpon Mrs. Linch.

"Selamat siang Mrs. Linch, aku ingin meminta maaf. Aku tidak bisa menyediakan mawar putih pesanan anda. Kurasa mawar putih yang datang hari ini kurang bagus. Aku tentu tidak ingin mengecewakan anda"

"....."

"Benarkah? Terimakasih Mrs.Linch, anda bisa menggantikannya dengan bunga lain jika anda mau"

"....."

"Baiklah, terimakasih banyak Mrs. Linch".

Emelly menutup teleponnya dengan mata berbinar. Ini diluar dugaannya. Dia pikir dia akan mendengar ocehan dari Mrs.Linch, tapi ternyata tidak.

"Aku tidak tau, mungkin Tuhan tekah memberikan pencerahan untuk Mrs. Linch . Kau tau, kata-kata nya tadi manis sekali. Dia tidak marah sama sekali dan dia bilang ingin menggantinya dengan mawar hijau saja dan supirnya akan datang 2 jam lagi". Kata Emelly antusias.

"Syukurlah, aku hampir saja kehilangan selera makan ku". Ashley menghela napas panjang, Emelly hanya terseyum lebar. "Aku minta maaf"

Emelly menoleh ke arah Ashley. Bukan, ini bukan salahnya. Sepanjang kebersamaan mereka 2 tahun ini Ashley jarang sekali membuat kesalahan. Dia teliti dan cekatan, walau terkadang genit.

"Jujur saja Emelly, jika bukan karna Mrs. Linch adalah pelanggan lama kita, mungkin aku akan melempar nya dengan pot bunga besar saat dia sedang mengoceh tempo hari itu". Kata Ashley tanpa merasa berdosa.

Emelly tertawa mendengar kejujuran yang terlontar dari mulut pedas Ashley. "Aku juga pernah memikirkan hal itu". Kata Emelly yang kemudian membuat mereka berdua tertawa lagi.

Toko bunga milik Emelly memang tidak sebesar toko-toko bunga lainnya yang ada di Los Angeles. Tapi soal kualitas tentu tidak kalah. Terlebih toko bunga milik nya menyediakan bunga mawar dengan jenis warna yang bervariasi.

Mawar putih yang menjadi primadona di toko bunga nya. Emelly menanam sendiri di kebun belakang rumah nya. Mawar putih merupakan bunga kesukaan Emelly dan almarhum ayahnya.

"Astaga Emelly, aku lupa memberitahumu, kau mau tau siapa yang membeli mawar putih tadi?" tanya Ashley menggebu gebu.

Emelly menaikkan satu alisnya. "Memang nya siapa?"

"Seorang pria tampan dan sexy, oh God dia seperti Tom Cruise 20 tahun yang lalu".

Ashley begitu antusias dan terobsesi dengan Tom Cruise 20 tahun yang lalu. Memangnya ada apa dia di masa yang dulu itu. Ashley pernah cerita kepada Emelly, sejak ia kecil selalu di suguhkan film-film Tom Cruise muda oleh ibu nya. Sampai sekarang dia terobsesi dengan Tom Cruise 20 tahun yang lalu.

"Berhentilah mengatakan 'Tom Cruise 20 tahun yang lalu' aku muak mendengar nya, bahkan saat itu umur mu tak lebih dari 1 tahun" Emelly memprotes karena sudah jengah dengan obsesi Ashley.

"Kalau kau sudah melihatnya, kau pasti akan sependapat denganku" balas Ashley tak mau kalah. Emelly hanya memutar matanya dengan mulut penuh sushi.

"Dia tampan sekali, masih muda, pria idamanku. Aku lupa berkenalan dengannya. Oh aku berharap dia datang lagi"

"Aku pun, aku berharap dia membeli banyak mawar putih ku" Emelly terkekeh, Ashley hanya mendengus kesal.

Emelly memang akan menikah, jadi tidak ada alasan baginya untuk menoleh ke pria lain. Terpana pun tak boleh.

"Tunggu dulu, kenapa yah dia beli mawar putih? Untuk apa? Jangan-jangan untuk kekasihnya. Oh tidak semoga jangan".

Emelly hanya menggelengkan kepala melihat keanehan rekan kerjanya ini. Dia memang gadis yang penuh dengan energi masa muda. Ashley masih menerawang menduga-duga alasan kenapa Mr X (yah sebut saja itu) mengenai alasan nya membeli mawar putih.

*****

Love in Journal BooksCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang