He Loves Me Not ....

8.8K 1.2K 85
                                        

Draco menunduk dalam-dalam. Masih teringat dengan jelas olehnya ekspresi Harry ketika melhatnya di ruang makan kemarin dan kemudian membuang muka; enggan melihat wajahnya. Ia memejamkan mata dan meletakkan tangan kiri di atas dada kirinya. Ditekannya perlahan untuk mengurangi rasa sakit yang melanda hebat di dada.

Tiba-tiba saja Draco dikagetkan dengan kemunculan bunga berwarna kuning berkelopak banyak di hadapannya. Bunga Daisy.

Ia mendongak dan menemukan wajah sahabatnya di sana, Pansy Parkinson dengan senyum lebar di wajahnya. Gadis itu mengenakan atasan berwarna gelap yang elegan dipadu dengan celana panjang berwarna senada yang terlihat begitu pas di tubuhnya.

Pansy mengangsurkan bunga itu pada Draco. "Ambilah."

Draco menerima bunga itu dengan ragu sembari memandang Pansy yang kini duduk di sampingnya.

"Ini apa?" tanya Draco bingung.

"Bunga Daisy," jawab Pansy cepat.

"Astaga, Pansy," erang Draco, "Aku tidak sebodoh itu tentu saja. Aku tahu ini bunga Daisy. Lalu untuk apa kau memberikannya padaku?"

Pansy menepuk bahu Draco dengan gaya bijaksana. "Tampaknya kau sedang ragu atas perasaannya padamu, jadi, cari tahulah perasaannya lewat bunga itu. Kau hanya perlu mencabuti satu per satu kelopaknya hingga kelopak terakhir sambil bergumam bergantian "Dia mencintaiku", "Dia tidak mencintaiku". "

"Konyol."

Pansy tertawa melihat ekspresi Draco. "But worth to try," ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata.

Draco mendengus. Ia meletakkan bunganya di samping kirinya dan menatap Pansy dengan pandangan sebal. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Mengurus ijazah," jawab Pansy, "tentu sambil menjenguk sahabatku yang dilanda cinta berkepanjangan," sambungnya jenaka.

"Shut up!" desis Draco mengatupkan rahangnya. "Aku baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku."

Pansy mengerutkan kening. "Mencintainya?"

"Menidurinya."

"KAU APA?" jerit Pansy. Matanya melotot tak percaya.

"Apa kau tuli? Kubilang aku menidurinya," ulang Draco santai seolah bilang dua ditambah dua sama dengan empat.

"You must be crazy, Drac."

"Yes I am."

Tiba-tiba saja Pansy maju dan merengkuh Draco dalam pelukannya.

"I know it's hard. But you must fight for your love. I will make sure your father wouldn't hear about this," bisik Pansy.

Draco melingkarkan lengannya pada tubuh Pansy dan memeluk sahabatnya erat. "Thanks. That's all what I need now."

Untuk beberapa saat, Draco dan Pansy tetap berpelukan tanpa menyadarinya adanya sepasang mata berwarna hijau yang berkaca-kaca melihat pemandangan tersebut. Orang tersebut segera mengusap air matanya kemudian berlalu dari sana karena tak ingin kehadirannya diketahui oleh Draco dan Pansy.

Pansy lalu melepaskan pelukannya pada Draco. "Ingatlah, love will find the way."

Draco mengangguk.

Pansy bangkit dan menepuk ringan pundak Draco. "Kalau begitu, aku pulang dulu."

Draco mengangguk lagi.

Pansy berbalik dan berjalan menjauhi tempat Draco duduk. Sepeninggal Pansy, Draco meraih bunga di sampingnya dan terbersit niat untuk mengikuti saran Pansy.

"Gila," desis Draco sambil menggelengkan kepalanya.

Ia mulai mencabuti satu persatu kelopak bunga tersebut sembari mengucapkan kalimat konyol yang disarankan Pansy.

"He loves me."

"He loves me not."

Tanpa sadar, Draco sudah sampai kelopak terakhir. "He loves me not."

-----------------------------

Harry menggelengkan kepalanya pelan mengingat pelukan Pansy dan Draco barusan.

Ron yang melihat tingkah Harry, menaikkan sebelah alisnya. "Kau kenapa? Pusing? Morning sickness?"

Harry memutar mata. "Morning sickness kepalamu segitiga bertua," gerutunya kesal.

"Lalu kenapa?"

"Tak apa-apa. Ayo cepat kita ke kamar mandi sebelum ada orang lain," jawab Harry sambil berjalan mendahului Ron.

-TBC-

Menurut kalian gimana? Pantes dilanjut apa engga?

Plis komen dong biar aku tau. Rada2 tsundere juga nggak apa-apa deh.

Contoh: Thor, cerita lu jelek banget <3<3 Nggak usah dilanjutin. Nggak bakal gue tungguin!

I Got YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang