Cerita ini saya dedikasikan untuk fathia_k karena dia memenangkan games tersembunyi di chapter sebelumnya.
Supaya adil, saya akan menjelaskan games ini. Jadi, di setiap chapter dalam buku ini, akan saya selipi lirik atau judul lagu GOT7 dan apabila kalian bisa menebak dan komen di tempat yang tepat, hadiahnya adalah special drabbles dari saya di bukuku yang lain (GOT7 Drabbles).
Jadi, ayuk komen 😘😘.
Enjoy the chapter
----
Mark Tuan
Waktu itu, fanmeeting terakhir sebelum kami 'istirahat'. Dia datang sama seperti fans yang lain, tak ada yang spesial. Tapi anehnya, senyum kecil dan manis itu mampu membuatku tertarik. Sejak saat itu, hatiku seolah hanya berdetak untuknya.
Sampai malam itu tiba, pandanganku hanya tertuju padanya. Wajahnya merona menampilkan senyum manis ditambah lagi suaranya yang mulai bergetar. Kami dimabuk cinta.
Pernikahan itu pun terjadi. Tak ada penyeselan, tak ada paksaan. Dengan alakadarnya kami mengikat janji sehidup semati. Ciuman pertama itu masih terngiang jelas di benakku. Bibirnya yang lembut dan polos itu terasan manis berada di sentuhanku. Hatiku berdebar, sama seperti miliknya.
Seminggu berlalu, kami harus terpaksa kembali ke LA. Dan malam ini, acara amal tahunan. Ini adalah agenda pertama kami. Kecewa dengan orangtuaku yang tak merestui, tak membuatku takut. Tapi, padangan cemasnya membuatku tak bisa tidur. Apa yang dia takutkan?
Ada yang aneh dengan Istriku. Ada saat dimana aku rasa tidak mengenalnya sama sekali. Ada firasat yang mengatakan dia bukan Hannah. Seperti ada yang menghalanginya.
Ah, apapun itu aku yakin tak akan cukup mengubah hatiku. Mengingat-ingat Hannah, senyumku tak tertahankan.
"Mark, ada apa senyum-senyum?" Alice, teman lama, menyenggolku sambil menyesapi minumannya. Kuakui, dia masih mempesona sama saat pertama aku melihatnya. Hanya saja, aku sudah tidak menyukainya.
"Kau tahu Mark, aku tidak suka gadis itu" ujarnya mendekat kearahku. "Sebenarnya siapa dia?... Pacar?" Dari nada bicaranya terdengar jelas dia tidak suka pada Hannah.
"Kau tidak perlu tahu" balasku singkat. Dia mendengus kesal dan aku malah makin risih di dekatnya.
"Terserah apa maumu, kita masih memilik janji.. kau ingatkan?" Sejujurnya aku menyesal memberi janji itu. Aku hanya berumur 11 tahun, dan Alice sudah 13 tahun waktu itu. Kami teman dari kecil, dan dengan polosnya aku menyukai sahabatku. Aku yang masih polos membuat janji seumur hidup untuk selalu berada di sampingnya.
Aku yang lugu selalu memilih apapun untuk selalu bisa membuatnya tersenyum. Walaupun aku ditolak tetap saja aku masih menyukainya. Sampai aku sadar, dia tidak pernah menyukaiku.
Kuedarkan pandanganku melihat seluruh isi ruangan. Banyak orang yang datang menghadiri acara amal ini. Ada yang berpasangan, ada juga yang sendiri. Kemudian aku menemukan seorang perempuan. Dengan senyum malu-malu dan tingkah yang canggung dan kaku, aku langsung bisa mengenalinya.
Seluruh tubuhku bereaksi. Senyumku terkembang. Dia datang.
Aku sedikit berlari mendekatiknya. Wajahnya yang cantik, telah dipoles make-up. Tubuhnya yang selalu ditutupi dengan baju panjang kini memakai gaun mewah. Malam ini, rasanya aku melihat bidadari.
"Mark.." suara kecil dan lemah itu, makin membuatku berdebar. Matanya bersinar menampilkan ekspresi yang manis.
Aku seperti kehilangan kata-kata. Dia terlihat cemas karena aku yang tak bisa berkata apa-apa.
"Apa aku terlihat aneh? Apa aku terlalu menor?" Salah Hannah, kau sempurna.
Aku seperti terhipnotis olehnya sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa dia daritadi ribut sendiri di depanku. Ternyata Alice mendaftarkan nama Hannah di situ.
"Tak apa, aku akan memenangkanmu" ujarku meyakinkan. Tenang Hannah, kau aman bersamaku. Sekarang tekadku sudah bulat.
Hannah Willows
Entah apa yang terjadi, tapi sekarang aku dan Mark sudah berada di dalam mobil. Mungkin karena mengetahui bahwa kartu tadi adalah kartu identitas untuk mengikuti kontes basket-girl 'versi baru' membuat Mark berpikir dua kali dan akhirnya mengajakku pulang.
Aku sebenarnya tidak paham, maksud dari acara amal itu. Mereka menggunakan lomba yang aneh, dengan menjadikan perempuan sebagai bahan 'lelang'. Siapa yang bisa menawar paling tinggi akan dapat menjadi pasangan salah satu gadis yang pilih yaitu dansa satu malam. Uang yang di dapatkan dari hasil lelang tadi, baru disumbangkan.
Walaupun dibilang gagal, tapi malam ini masih terasa manis bagiku. Mark selalu membuatku merasa seakan aku pantas berada di sisinya. Seperti saat ini, dia rela berhenti dan membelikan aku air minum.
Handphone Mark berbunyi. Dia pasti lupa membawanya. Aku penasaran, siapa yang mengirim Mark pesan. Ah, tidak-tidak. Dia memilik privasi, dan aku harus menghormatinya.
Tapi handphone itu masih bergetar dan sepertinya malah ada telepon yang masuk. Akhirnya, aku mengangkat handphone itu.
"Hyung, aku di LA, kudengar kau masih disini 'kan? ... Hehe kangen"
Sebelum sempat aku menjawab itu, Mark sudah menarik handphonenya dan mematikan secara sepihak.
"Bambam pasti ingin menganggu lagi 'kan?"
Bambam? Yang tadi Bambam? Kenapa perasaanku jadi tidak enak? Dia bilang dia di LA, oh tidak. Reputasi dan karir Mark dipertaruhkan, aku tidak akan membiarkan Mark terpuruk.
"Kau percaya padaku 'kan?" Mark kembali menyetir. Aku menoleh menunggunya melanjutkan ucapannya.
"Maukah kau sekali lagi, pergi bersamaku?"
"Ke-kemana?"
"Kyoto"
Jepang?
----
Udah nemu belum? Hehe.
Vote dan komen yuk, supaya cepet update. Wkwk,
Cek work aku yang lain, ada park Jinyoung, Jb dan got7 drabbles.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Attraction // m.t
Fanfiction(Bahasa Indonesia) Apa yang akan kalian lakukan ketika mendapati pria impianmu berada di sampingmu dan tersenyum manis kearahmu, ditambah lagi diatas RANJANG?!? --- Some part might be mature with sex scene, (few chaps, so don't worry fluffiest). B...
